Mohon tunggu...
Johanes Krisnomo
Johanes Krisnomo Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Penulis, fotografer, pemerhati lingkungan hidup, teknologi pangan, kesehatan, kimia pangan. Alumnus Kimia ITB dan praktisi di Industri Pangan. https://www.kompasiana.com/stalgijk

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Memberi Tak Mengharap Kembali

22 Desember 2018   08:06 Diperbarui: 22 Desember 2018   08:11 504 50 36 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memberi Tak Mengharap Kembali
Sumber : www.parents.com/shutterstock

Ibu. Sebutan sayang istriku, saat anak-anak memanggil. Mungkin ada istilah lain, seperti mami, mamah, emak, bunda dan lain-lain yang sekiranya sesuai hati.

Bagaikan sinar matahari, memberi dan tak mengharap kembali. Begitulah sifat dan naluri seorang ibu.

Libur panjang di akhir tahun, menyisakan harapan. Anak-anak yang tinggal di luar kota berjanji akan datang.

Sibuknya seorang ibu, menyiapkan kamar-kamar agar nyaman dipakai anak-anak. Barang-barang tak terpakai pun sudah disingkirkan, jendela dibuka lebar-lebar agar ada sirkulasi udara segar.

Bahan-bahan untuk masak makanan favorit keluarga pun telah tersedia. Tinggal potong dan cemplang -- cemplung di panci, bereslah sudah.

Kerinduan menanti dua anak, satu anak bersama istrinya, sedangkan yang satu lagi, si sulung masih sendiri. Urutannya cewek, cowok dan si bungsu cewek. Terakhir, cewek tinggal serumah dan sudah bekerja.

Ibuku, bukanlah istriku, tapi keduanya adalah seorang ibu. Pernah suatu saat, ibu yang mengandalkan uang kiriman dari anak-anaknya, saat itu bapak sudah berpulang, memberikan uang saku dan oleh-oleh saat cucu-cucu pulang.

Belakangan  baru kutahu, adikku cerita, saat ibu telah tiada, bahwa uang saku untuk cucu-cucu adalah hasil celengan tanah-liat, yang telah disisihkannya dari hidup hemat.

Kisah lain. Saat kubatalkan janji, bahwa aku tak jadi pulang saat liburan panjang, telah membuat kecewa hati ibu. Seperti juga suasana hati pagi ini, tepat di Hari Ibu, 22 Des, status menanti anak-anakku.

Ibuku, yang saat itu tinggal di kampung, memang sering berkisah pada adikku yang tinggal satu daerah, tentang kerinduan pada anak-cucunya yang sangat jarang pulang.

Dua ibu, satu adalah ibuku sendiri, dan yang satu ibu dari anak-anakku. Keduanya punya naluri keibuan yang sama, memberi, dan berlaku tulus untuk anak-anak dan cucu-cucunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN