Mohon tunggu...
Tomson Sabungan Silalahi
Tomson Sabungan Silalahi Mohon Tunggu... Penulis - Seorang Pembelajar!

Penikmat film dan buku!

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Panggilan Hidup Yani

25 Juni 2016   23:46 Diperbarui: 27 Juni 2016   01:30 138
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Suster Angelica …, Suster Angelica!”, tergopoh-gopoh dengan mengangkat jubah panjangnnya supaya tidak terinjak dan jatuh tersungkur, Suster Rosa berlari menuju kamar sebelah sudut kiri atas, kamar terjauh dari urang tamu, ruang tamu yang khusus dibuat agar  tamu bisa menunggu Suster yang ingin dijumpainya, agar tidak bosan, Suster Kepala Komunitas ini meletakkan sebuah rak buku lengkap dengan bacaan rohani yang diharapkan bisa membuang rasa jenuh pengunjung karna menunggu Suster yang  harus berganti pakaian dahulu, bukan bersolek seperti gadis yang ditunggui sang pacar, katanya mereka harus memakai jubah kalau mau bertemu dengan tamu yang kebetulan lewat. 

Bosan menunggu orang yang hendak dijumpainya, Bram mulai berdiri, mendekat ke rak buku, sekedar membuang rasa bosan ia melihat-lihat gambar yang ada di dalam majalah yang kini  ia pegang, memang dari dulu ia kurang suka membaca, kecuali komik Doraemon, kalau komik ini pasti dilahapnya sampai habis, semua koleksi hampir semua dia punya, walau dia sudah terbilang terlalu tua untuk bacaan itu, tapi dia cuek saja, kadang dia membacanya juga, sepertinya ada kerinduan yang khas akan Doraemon, sesaat dia meletakkan majalah yang ada di tangannya, siapa tahu di sini, di tempat yang katanya suci ini juga ada Doraemon, dicobanya melihat buku yang tertata rapi itu dengan teliti, seolah ia sangat berharap sekali.

“Mas Bram, di sini tidak disediakan komik Doraemon!” Seolah-olah Suster Angelica dapat membaca apa yang ada dipikiran Bram saat itu, sekarang mereka sudah berhadap-hadapan, setelah Bram berputar 180 derajat dari tempatnya.

“Kamu masih ingat komik kesukaanku, hmm…, ingatanmu tajam juga mengenai aku!” Bram mulai berbicara, sedikit sinis tapi Sr. Angelica seolah tahu apa maksud dari semua ucapannya itu.

“Silahkan duduk, mas!” Sambil mempersilahkan tamunya duduk, ia duduk dahulu, mungkin agar Bram, masnya itu mengikuti tindakannya, dan benar saja, Bram duduk di kursi yang digesernya persis di depan Sr. Angelica.

“Maaf mas, bukannya aku tidak suka, mas duduk tepat di depanku, tapi tolong hargai statusku sekarang, tak baik jika orang melihat kita duduk sedekat ini, berdua pula.” Sr. Angelica memegang selayar yang tergantung di kepalanya, seolah ingin mempertegas kepada Bram bahwa sekarang ia sudah menjadi biarawati. Seolah memohon, ia memejamkan matanya, layaknya orang yang sedang berdoa.

“Bukankah itu tandanya kau memang tidak suka lagi denganku?” Sambil mendekatkan matanya, Bram menghujam mata Sr. Angelica yang dulu dikenalnya gadis cantik yang bernama Yani seorang yang periang dan sangat ramah.

“Aku datang jauh-jauh dari Medan hanya untuk menjumpaimu di sini, itupun sebelumnya kau tidak pernah mengabariku kalau kau ada di sini, aku mencarimu kemana-mana, kau pikir aku tidak capek?, lima tahun aku mencari keberadaanmu, kini aku rasanya menyesal sudah bertemu denganmu!”, dengan perasaan kesal, Bram menghempaskan badannya ke sandaran kursinya, sambil memegang keningnya yang mengerut, mulut terkatup sedikit bergetar, seolah-olah menahan sesuatu sambil berpikir. Sementara mata lawan bicaranya kini mengeluarkan air, ada perasaan menyesal dalam hantinya kini.

“Maaf mas, aku sengaja pergi jauh dari kehidupanmu, supaya aku dapat tenang menjalani hidupku di biara ini.” Air matanya terus berjatuhan, seolah dia tidak peduli lagi kalau-kalau ada yang menyaksikan tingkahnya.

“Dengan membiarkan orang yang mencintaimu, merasa kehilangan?, untung aku tidak gila karna kau, aku hampir gila Yan, kau tahu itu?” Bram kini menggenggam pundak Yani yang dulu menjadi kekasihnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun