Mohon tunggu...
Tomson Sabungan Silalahi
Tomson Sabungan Silalahi Mohon Tunggu... Penulis - Seorang Pembelajar!

Penikmat film dan buku!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Catatan akhir tahun 2015

19 April 2016   02:44 Diperbarui: 7 Juli 2016   01:21 13
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Om Swastiatsu!

Apa kiranya yang membuat tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya adalah, karena tahun ini memang hanya sekali dalam satu tahun, tidak ada lagi tahun 2015 yang akan saya temukan untuk tahun-tahun selanjutnya, angkanya akan selalu naik. Bersyukurlah akan hari-hari yang kita lalui di tahun ini yang memungkinkan akan memberikan efek kenaikan-kenaikan kita di tahun yang akan baru.

Berdiskusi tentang naik, ada kenaikan demi kenaikan yang sudah dan akan kita lalui. Atas kenaikan-kenaikan yang telah kita rasakan dan lalui bersyukurlah, entah itu naik kelas, naik status dan naik-naik lainnya. Sekarang untuk kenaikan-kenaikan yang akan kita raih, bersyukurlah juga, agar segera tercapai.

Apa yang akan kita capai, nanti kita akan bahas, sebelumnya, sebagai refleksi kita bahas dulu apa yang sudah kita lakukan di tahun yang akan segera berlalu ini. Mari masing-masing mengingat-ingat apa yang sudah lakukan, yang baik pun yang buruk. Sembari mengingat apa yang kalian lakukan, saya akan tuliskan apa yang bisa saya tuliskan pada catatan akhir tahun saya ini, harapan saya, kalian juga akan mencoba menuliskan apa yang masih boleh kalian ingat.

Ada beberapa pengalaman saya tahun 2015 yang kiranya sangat berkesan dan saya ingin mengingatnya terus, sebagai dokumentasi pribadi saya kembali menuliskannya, sebagai bahan sejarah bagi hidup saya setelah tahun sebelumnya alpa dalam melanjutkan tradisi yang mulai saya bangun pada akhir tahun 2011. Syukur atas keinginan yang tiba-tiba muncul ini. Baiklah, biarkan saya mengingat pengalaman-pengalaman saya sembari menekan-nekan tuts notebook ini…!

Diawali pada akhir tahun 2014 keputusan besar itu saya ambil, di depan monitor komputer di SMP Swasta Assisi Siantar setelah keluar dari Yayasan yang menaunginya tahun 2010 karena memutuskan untuk melanjutkan study dan diterima kembali pertengahan tahun 2013 untuk mengabdi di sekolah itu sebagai salah satu Pegawai TU berdua bersama Ari Simanjuntak setelah Pahala Sinaga pindah tugas ke unit SMA Swasta Assisi. Kuawali berkomunikasi dengan tulang yang ada di Bali, sembari menunggu keputusan dari USI akan hari wisuda, saya tolak keinginan tulang untuk saya segera datang ke Bali, dengan alasan belum wisuda. Hingga HP saya berdering bertanda bahwa ada pesan masuk, ya tanggal 29 Desember 2014 akan diadakan wisuda di auditorium USI, gladi resik akan diadakan sehari sebelumnya. Saya langsung ketik pesan ke tulang bahwa akan wisuda tanggal 29, maka tulang menyanggupi untuk membeli tiket untuk tanggal 31 Desember 2014 atas kesediaan saya. Tanggal 28 Desember 2014 perayaan Natal Muda/i Mulia Tani, setelah itu wisuda, persiapan sudah diatur, hari-hari akan mengalir begitu mulus, dalam hati ini begitulah bunyinya.

Tidak lama setelah tiket ada di tangan, ada pesan lagi yang menyatakan wisuda ditunda sampai tanggal yang tidak ditentukan. Ah, tidak ingin membatalkan tiket, saya yakinkan diri untuk tidak mengikuti wisuda, tidak apa. Pesan ini saya sampaikan kepada Ibu (biasanya kami panggil oma ‘a’nya agak ditekan, tapi jika saya tulis oma, orang pikir nanti nenek saya, hehehe), dia sarankan untuk membatalkan tiket yang sudah dibeli dan menunggu tanggal wisuda, meyakinkan Ibu, bagiku tidaklah terlalu sulit, mungkin Ibu sudah terlalu mempercayaiku. (Sejauh ini, hera gabe cerpen ateh?)

Wisuda tidaklah terlalu penting, artinya tidak aka ada pengaruh apapun terhadap kelulusan saya dari mahasiswa di USI, karena itu hanyalah sebatas seremoni saja, ijazah akan keluar kok, yang penting sudah mengikuti ‘Meja Hijau’ dan sudah dinyatakan lulus, wisuda hanyalah sebatas foto-foto, selfie, terus fotonya dibingkai dan ditempel di dinding rumah agar kiranya setiap insan yang masuk ke rumah itu mengetahui bahwa anak dari pemilik rumah sudah lulus dari USI atau dari manalah itu selain USI, kalau Ibu ingin fotoan juga seperti yang lain, boleh kok di lain waktu, (menulis sejauh ini saya mau menangis, serius) ketika nanti saya lulus S2 di Bali atau di mana pun itu. Lagi, sebagai mahasiswa jurusan Bahasa Inggris saya perlu kiranya mengembangkan apa yang perlu saya kembangkan sesuai jurusan saya sebelum saya putuskan untuk mengajar Bahasa Inggris di suatu sekolah nanti. Tidak aka ada ruginya, ini semata-mata untuk memperluas wawasan, kalau ke Luar Negeri kan terlalu mahal, mumpung ada kesempatan ke Bali yang banyak bule-nya. Bekerja, syukur-syukur ada uang untuk melanjut ke pascasarjana. Bukan uang orientasiku saat ini tapi ilmu. Setelah panjang lebar negosiasi dengan Ibu, akhirnya dia mengalah dengan keputusan saya.

Hari keberangkatan itu tiba, 31 Desember 2014 pada pukul 00.00 saya dan beberapa penumpang lainnya mendengarkan seruan Happy New Year dari awak Garuda Airlines yang kami tumpangi. Tepat setengah jam sebelum burung besar yang kami tumpangi itu landing dengan mulus di Pulau Dewata – Bali. Yay! New year new adventures begin.

Beberapa pelajaran yang saya dapat di Pulau Dewata ini sangat banyak. Sesampainya di Bali saya benar-benar tahu bahwa apa yang saya dapat selama ini memang benar-benar tidak cukup, keputusan saya ke Bali tidak salah. Saya harus mendengar tiga kali dari Australian yang bicaranya sangat cepat untuk benar-benar tahu apa yang ingin mereka sampaikan. Ilmu tidak pernah cukup.

Menjalani hari-hari di Bali saya mengenal beberapa orang Bali, mengetahui lebih jauh arti dari Yin Yang. Setiap orang mempunyai unsur negatif sekaligus positif pada dirinya. Sebaik-baiknya manuisa pasti ada sisi buruknya, seburuk-buruknya manusia pasti ada baiknya, tidak memandang suku, agama, tempat kelahiran, jenis rambut, bahasa dan sebagainya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun