Mohon tunggu...
Hazmi SRONDOL
Hazmi SRONDOL Mohon Tunggu...

Penulis, founder "Blogger Reporter Indonesia" | www.hazmisrondol.com | email: hazmi@bloggerreporter.org

Selanjutnya

Tutup

Humor

Wayang Orang "SALYA WIRATAMA", Ratna Listy dan Ketatnya Pengamanan

5 Desember 2012   05:53 Diperbarui: 24 Juni 2015   20:10 0 3 9 Mohon Tunggu...
Wayang Orang "SALYA WIRATAMA", Ratna Listy dan Ketatnya Pengamanan
1354684131483264126

Agak terkejut saat hendak masuk kedalam Teater Jakarta (Taman Ismail Marzuki) untuk menyaksikan pagelaran wayang orang bertema “SALYA WIRATAMA” yang digelar oleh paguyuban WO Bharata semalam (4/12/2012). Penjagaan yang super ketat oleh satuan pengaman di hari pertama dari dua hari yang di rencanakan ini berbanding terbalik saat sesi gladi resik malam sebelumnya yang memungkinkan saya bisa mudah bertemu dengan Ratna Listy, salah satu artis yang menjadi bintang tamunya di belakang panggung.

Penjagaan yang ketat ini, dimana kamera DSLR dilarang dibawa masuk—kalau pun boleh harus “menitipkan” baterainya di meja satpam, termasuk minuman dan makanan di dalam tas nya. Padahal tiket yang kami bawa adalah tiket hadiah dari  Ratna Listy untuk teman-teman Kompasiana yang di titipkan via komunitas Blogger Reporter, langsung dari tangan mas Herry suaminya. Namun walau pun begitu, satpam tetap melakukan prosedur sekuritasnya dengan ketat dan tidak ada pengecualian.

[caption id="attachment_227641" align="aligncenter" width="553" caption="Sita diperiksa tasnya oleh security"][/caption]

Tapi tunggu, saya dan Prakasita Nindyaswari—salah seorang Kompasianer yang hobi menulis soal kebudayaan dan seni sekaligus pelaku seni yang terbiasa membawakan tari Bali ini tidak marah atau kesal dengan prosedur ini.

Kami malah bangga dan senang, bukan masalah masih diperbolehkannya memotret walau lewat ponsel atau adanya sajian makanan gratis didalamnnya seperti wedang ronde, jajanan pasar dan lainnya, namun lebih kepada adanya itikat pengakuan bahwa karya seni dan budaya nasional adalah aset negara adalah pagelaran yang lebih bernilai daripada tontonan bioskop, konser musik atau sepakbola di Senayan.

Setelah puas berkeliling di dalam ruangan teater yang berisi foto-foto pagelaran wayang serta mencicipi aneka hidangan akhirnya kamipun masuk ke lokasi pementasan. Walau sempat kaget dengan tambahan prosedur larangan menerima dan berbicara via telfon, makan dan minum hingga larangan hilir mudik dari bangku kecuali saat pergantian fragmen, bulu kuduk langsung merinding saat acara akan di mulai.

[caption id="attachment_227644" align="aligncenter" width="604" caption="Megahnya pagelaran"]

13546843241525404505
13546843241525404505
[/caption]

Lha siapa yang tidak merinding, penataan panggung, sound system, pencahayaan hingga koreografi wayang orangnya sangat membelakkan mata dan telingga. Kalau pun boleh sedikit lebay, opera musik ala eropa masih kalah jauh dengan kompleksitas pagelaran malam ini. Masuknya Ratna Listy yang menyanyikan tembang Jawa di pembukaan, pertengahan dan penutup acara semakin membuat elemen pertunjukan semakin lengkap dan berisi.

Bahkan lebih uniknya, penggunaan “Skyrunner” sudah mulai dipakai oleh beberapa pemeran buto (raksasa) jahat. Walau sempat ada insiden salah satu buto terjatuh saat memakai alat ini. Untung saja tidak merusak acara bahkan menambah dramatisasi acara karena pas dengan efek kalah bertarungnya di raksasa. Hehehe...

Usai terpukau dengan acara yang (sayangnya) hanya berlangsung dua jam, kami pun bergegas menuju ke panggung. Ratna dan berapa pemain tampak berkumpul. Biasa, ini saat yang tepat untuk foto-foto narsis usai acara. Hehehe..

Akhirnya, puas kami berfoto ria di panggung dengan jepretan datuk Dian Kelana. Jepretan yang membuat saya dan Sita terheran-heran, bagaimana caranya datuk bisa bawa masuk kamera di dalam panggung acara? Entahlah, Sita juga tampak hanya mengangkat pertanda juga sama-sama tidak mengerti.

[caption id="attachment_227651" align="aligncenter" width="541" caption="Prabu Srondol dari Negeri Kompasiana diapit mbak ratna Listyn dan Pemeran lainnya (foto: DIAN KELANA)"]

1354686636843032
1354686636843032
[/caption]

......

“Mas Kenthus... mas Kenthus!”

Aku mendengar ada dua orang berdiri memanggil sebuah nama. Kami terdiam diatas panggung yang sudah sepi ini.

“Mas Kenthus, mau wawancara sebentar!” katanya menunjuk diriku.

“Hah? Mas saya bukan mas Kenthus... mas Kenthusnya sudah keluar panggung” jelasku sambil menahan tawa.

Hohoho, sepertinya dua wartawan ini mengira aku mas Kenthus—sutradara pagelaran ini. Mungkin karena bahasa Indonesia medokku yang membuatnya mengira aku adalah mas Kenthus.

“Bukan, Ndol. Rompimu kali yang bikin orang mengira kamu sutradaranya” kata datuk Dian Kelana.

Walah!

[Bekasi, 5 Desember 2012]

KONTEN MENARIK LAINNYA
x