Mohon tunggu...
Sri Rumani
Sri Rumani Mohon Tunggu... Pustakawan - Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Kembali Menyapa Keluarga Kompasiana

8 Juli 2021   21:26 Diperbarui: 8 Juli 2021   21:37 54 5 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kembali Menyapa Keluarga Kompasiana
Sumber: Kompasiana

Keluarga ideal itu memberi rasa aman, nyaman, tenang, bahagia, damai, sejahtera, saling memberi semangat dan melindungi setiap anggota. Untuk mewujudkannya ada aturan main yang wajib disepakati bersama, mempunyai hak dan kewajiban secara proporsional. Ada "reward" (hadiah) untuk prestasi yang diperoleh dan "punishment" (hukuman) bagi pelanggar ketentuan yang berlaku. Keluarga inti terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak, namun di Indonesia masih jamak ada anggota lain (orang tua, adik, bibi, paman), yang tinggal dalam keluarga inti.

Kompasiana itu ibaratnya keluarga besar, anggotanya dari berbagai penjuru Tanah Air, bahkan ada yang tinggal di luar negeri. Data per Desember 2017 (http://www.kompasiana.com) saja anggotanya ada 355.000 orang, dengan konten 1.500.000. Konten yang masuk tiap hari ada 300, dan  2.600.000 per bulan. Pengunjung 13.000.000 per bulan, berarti 1.083 per hari. Belum ada data terbaru yang disajikan dalam kurun waktu 3,5 tahun ini. Namun data itu pasti sudah mengalami perkembangan signifikan selama 4 tahun.  

Dalam Kompasiana ini selalu ada hadiah bagi para Kompasianer yang dapat memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Sebaliknya memberikan hukuman bagi para Kompasianer yang melakukan kecurangan (plagiat baik tulisan maupun gambar). Dikatakan plagiat, bila tulisan/gambar seolah-olah diakui sebagai hasil pikiran/hasil karya sendiri tanpa mencantumkan sumber. Artinya Kompasiana ini melatih para Kompasianer untuk berlaku jujur, menghasilkan karya sendiri. Kalaupun harus mengutip tulisan orang lain disebutkan sumbernya secara jelas.

Apalagi di era teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang sangat cepat. Semuanya bisa terhubung dan tersambung dalam hitungan detik. Tindakan plagiat pun dengan mudah dapat di deteksi dengan aplikasi yang sudah tersedia. Menurut Nadiyah Rahmalia, ada 7 aplikasi yang bisa digunakan untuk cek tulisan itu plagiat atau hasil karya sendiri yaitu: Turnitin, DupliChecker, Grammarly, PaperRater, ProWritingAid, PlayScan, Plagiarisma (https://glints.com). Aplikasi ini bisa didapat secara berbayar atau gratis. Turnitin paling populer untuk medeteksi plagiat di dunia akademik yang dilanggan dengan berbayar.

Dalam tulisan yang ditayangkan para Kompasianer, admin selalu mengoreksi dan dapat mendeteksi tulisan/gambar/video yang ditayangkan asli atau jiplakan. Hal ini dimaksudkan agar tulisan itu benar-benar hasil karya sendiri secara orisional yang dapat memberi manfaat untuk para pembacanya. Disinilah Blog Kroyokan Kompasiana menjadi referensi yang dapat dipertanggungjawabkan, karena menyajikan tulisan yang tidak "kaleng-kaleng".  

Anggota yang bernaung di rumah Kompasiana bertumbuh dan berkembang semakin banyak dan didominasi generasi milenial dengan karya-karya tulisan bervariasi. Bahasa "ngeblog" lebih dominan karena anak-anak milenial lebih jago menulis dengan bahasa, yang diucapkan sehari-hari lebih komunikatif. Beda tulisan generasi "baby boomer", lebih normatif, baku, walau populer tapi susah bersaing dengan para blogger bila ada lomba blog.

Kembali untuk menyapa keluarga Kompasiana setelah lebih 3 (tiga) bulan tidak melakukan aktivitas menulis. Diakui ada "sesuatu" yang hilang karena komunikasi dengan para kompasianer senior seperti Pak Tjiptadinata Effendi dan Ibu Roselina Tjiptadinata yang antusias selalu menyapa dan memberi apresiasi. Kompasianer yang sering menyapa Pak Rustian Al Ansori, Pak Irwan Rinaldi Sikumbang, dan lain-lain. Pada prinsipnya bergabung di Kompasiana itu selalu menimbulkan kerinduan saat tidak menulis.

Begitu ada membuka halaman untuk memulai menulis setelah 3 (tiga) bulan tidak aktif, ternyata melihat perubahan yang luar biasa. Intinya para kompasianer mendapat fasilitas kemudahan untuk menulis langsung di layar handphone maupun laptop, karena sudah disediakan format menulis lengkap dengan panduannya. Bagi kompasianer baru panduan (tutorial) pembuatan konten telah disediakan secara singkat, jelas, dan tuntas. Hal ini sangat bermanfaat bagi para kompasianer baru saat akan menulis sekaligus menayangkan di blog Kompasiana.

Menulis di Kompasiana itu ada rasa kepuasan yang luar biasa, walau tidak berbayar dengan suka rela dan senang hati untuk melakukannya. Buktinya sekian lama tidak menulis dapat menimbulkan kerinduan mendalam. Ada kekuatan rasa kekeluargaan yang kuat diantara para anggota walau tidak/belum pernah ketemu secara darat. Ketemu dan komunikasi di dunia maya pun sudah menjadi obat rindu. Apalagi di masa pandemi ini yang tidak tahu kapan berakhirnya. Menulis di Kompasiana menjadi salah satu cara untuk membunuh "rasa jenu" untuk tetap di rumah saja mengikuti anjuran pemerintah dengan kebijakan PPKM dari tanggal 3 sampai 20 Juli 2021 untuk Jawa - Bali.

Yogyakarta, 8 Juli 2021 Pukul 20.46

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN