Sri Rumani
Sri Rumani Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Gairah Menulis Saat Ramadhan dan Informasi dari Kompasiana

16 Mei 2019   07:37 Diperbarui: 16 Mei 2019   07:51 15 2 0
Gairah Menulis Saat Ramadhan dan Informasi dari Kompasiana
Sumber Ilustrasi:https://pixabay.com

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, sepertinya baru kemarin merasakan indahnya bulan Ramadhan yang penuh sensasi dengan menerima tantangan menulis dari Kompasiana selama sebulan penuh. 

Energi, semangat membara, penuh gairah untuk menulis setiap hari sesuai topik yang ditawarkan oleh manajemen kompasiana. Apalagi ada hadiah bagi yang dapat memenuhi syarat dan ketentuan. Jujur hadiah (reward) menjadi daya tarik tersendiri bagai para kompasianer, yang nilainya melebihi dari nominal yang diberikan.

Awalnya menulis di Kompasiana sebagai tempat berlabuh karena menemukan keluarga besar yang membuat aman, nyaman dan menyenangkan. Walapun tidak mendapat honor tetap "enjoy" menulis, bahkan terasa ada yang kurang bila belum menulis. Ide bersliweran dan direkam dalam memori untuk dituangkan dalam tulisan. 

Seharian bisa suntuk di depan laptop untuk mengisi waktu sambil menikmati masa pensiun yang sudah "terbebas" dari segala urusan yang penuh dinamika, suka duka, bangga, prihatin, tawa tangis silih berganti.

Entah kenapa Ramadhan tahun ini semangat untuk menulis mengalami degradasi yang luar biasa. Tidak tertarik untuk mengikuti tantangan dari Kompasiana berupa "Samber THR" dengan hadiah yang jauh lebih besar daripada tahun lalu berupa Iphone versi terbaru. Saat ini hadiahnya sepeda motor, yang seharusnya semakin semangat untuk menerima tantangan ini. 

Namun yang terjadi justru sebaliknya, sangat kurang tertarik untuk mengikuti tantangan. Saya tidak tahu persis berapa persen para Kompasianer lain menerima tantangan menulis selama Ramadhan tanpa jeda ?.

Gairah menulis saat Ramadhan tahun ini menurun drastis penyebabnya bukan karena besaran hadiah. Kalau hadiah menjadi tujuan utama dengan ekspektasi terlalu tinggi untuk mengharapkan, ternyata si "godot" tidak kunjung datang pasti menjadi kecewa, putus asa, patah semangat. Namun jujur, menulis sebenarnya bukan untuk memburu hadiah, tetapi sekedar mengeluarkan ide/gagasan. 

Bahkan bila tulisannya di Kompasiana dapat masuk "highlight", apalagi "headline", sudah sangat senang dan bersyukur. Artinya apresiasi itu tidak semata berupa materi, tetapi dapat berwujud non materi. 

Rasa bangga tulisannya terpilih oleh Redaktur Kompasiana menjadi "highlight" terlebih "headline" itupun dapat menjadi daya ungkit untuk menumbuhkan semangat yang mulai pudar dan mati.

Diakui, Redaktur Kompasiana mempunyai hak prerogatif untuk memilih ribuan tulisan yang setiap hari tayang di Kompasiana. Suatu pekerjaan yang sangat menyita waktu untuk membaca, apalagi tulisan yang masuk tengah malam, waktunya kurang tepat untuk membacanya. 

Akibatnya tulisan yang masuk segera menghilang karena terdesak oleh tulisan baru, sehingga untuk terbaca apalagi terpilih juga dapat terlewati. Bisa jadi tulisannya terbaca Redaktur, tetapi tidak sesuai dengan syarat dan ketentuan atau kualitasnya memang kurang baik.  

Menurunnya gairah menulis selama Ramadhan tahun ini karena ada target lain yang juga lebih penting, yang mempunyai daya tarik tersendiri. Biasanya kalau menulis sesudah Sholat Subuh sampai menjelang pagi, tetapi saat ini setiap pagi ada rutinitas baru yang dilakukan yaitu jalan pagi atau gowes dengan rute yang selalu berubah agar tidak bosan dan sambil melihat suasana lingkungan.  

Akibatnya waktu untuk melihat dan membuka laptop jarang dilakukan. Sesekali membuka laptop dan menengok Kompasiana, mendapat kabar dari Kompasiana melalui notifikasi kalau ada "blog competition", "Samber THR", "Mistery Topic  Program Samber THR". 

Informasi/kabar dari Kompasiana ini sebagai wujud perhatian dan silaturahmi Redaktur Kompasiana kepada anggota Kompasianer yang hilang dari peredaran. Baru 8 (delapan) hari terasa sudah sangat lama dan ketinggalan informasi banyak.

Disinilah merasakan kehadiran Redaktur Kompasiana yang telah meluangkan waktu untuk "menyambangi" dan melakukan komunikasi kepada anggotanya. Walaupun untuk masalah penilaian tulisan, Redaktur Kompasiana tetap obyektif sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. 

Terima kasih para awak Redaktur Kompasiana yang telah perhatian dengan mengirimkan melalui "notifikasi" sehingga pesan/kabar/informasi itu pasti terbaca. Hal ini secara tidak langsung dapat menjadi daya ungkit untuk menumbuhkan semangat menulis di Kompasiana lagi. Terakhir tulisan saya tayang tanggal 7 Mei 2019, dalam rangka menyambut bulan Ramadhan.

Selain itu ada daya ungkit yang menumbuhkan semangat menulis berasal dari Komunitas Kompasianer yang bergabung dalam K-JOG, yang selalu menyapa melalui WA. Mbak Vika dan mbak Riana Dewi selalu memberi informasi kegiatan yang dilakukan, sekiranya saya ada waktu untuk bergabung. 

Terima kasih pengurus K-JOG yang mempunyai kepedulian dan perhatian untuk anggotanya dan selalu saling memberi semangat untuk terus menulis dan menulis di Kompasiana.

Yogyakarta, 16 Mei 2019 Pukul 07.12