Mohon tunggu...
Sri Rumani
Sri Rumani Mohon Tunggu... Pustakawan - Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Kenapa BRT Trans Jogja Mengeluarkan Asap Knalpot Hitam?

29 Januari 2019   18:41 Diperbarui: 7 Februari 2019   23:52 307
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber:http://oto.detik.com

Di Yogyakarta sangat dirasakan kepadatan lalu lintas kendaraan bermesin roda dua dan roda empat di ruas jalan menuju sekolahan, perkantoran, dan pusat perbelanjaan. Pagi hari antara jam 06.30 - 07.00 dan soren antara jam 16.00 - 16.30 lalu lintas ramai, padat, dan tersendat. 

Dibutuhkan konsentrasi berkendara tingkat tinggi mengingat bertambahnya jumlah kendaraan bermotor tidak diiringi dengan kesadaran dan etika di jalan raya. Kondisi ini tidak berbeda saat musim liburan, walau jalan raya tidak dipenuhi anak-anak sekolah, tetapi bis-bis besar pariwisata dan kendaraan pribadi dari luar kota memenuhi jalan di kota Yogyakarta untuk mengisi liburan. Diakui, di sisi lain liburan mendatangkan keuntungan sebagai panen raya (hotel, penginapan, destinasi wisata, tempat kuliner, pusat oleh-oleh, souvenir).

Kondisi lalu lintas yang semrawut di pagi dan sore hari ini, masih ditambah dengan kendaraan penumpang berbasis online dan kendaraan tidak bermesin seperti sepeda, becak dan andong. Untuk mengurangi kepadatan lalulintas di kota Yogyakarta telah disediakan angkutan umum massal berbasis jalan berupa Bus Rapit Transit/BRT yaitu Trans Jogja dengan jalur yang sudah ditentukan. 

Masyarakat menyambut dengan suka cita karena dapat naik transportasi umum yang murah, pelayanan ramah, dan ber AC. BRT pertama beroperasi di Jakarta sejak tahun 2004 dikenal dengan Trans Jakarta, yang dicanangkan Departemen Perhubungan RI.

Trans Jakarta dengan jalur khusus, agar dapat menerobos kemacetan lalulintas, walaupun sering diserobot oleh kendaraan pribadi untuk menikmati fasilitasnya. Kondisi ini sangat membahayakan pemakai jalan lain, apalagi kalau diujung jalan ada polisi yang bertugas, seperti masuk dalam "wuwu" (alat penangkap ikan dari anyaman bambu bila sudah masuk susah keluarnya), sudah tidak bisa menghindari. Tilang pun pasti dijatuhkan oleh pak Polisi Lalu Lintas kepada pengendara yang sengaja melanggar aturan.

Berbeda dengan Trans Jogja tidak mempunyai jalur khusus, karena kondisi jalan yang sempit (dua jalur). Awalnya RBT di Yogyakarta menjadi transportasi yang ideal dibandingkan dengan bus kota yang sudah lebih dahulu ada. Namun seiring munculnya kendaraan penumpang berbasis online, yang  mudah, murah dan cepat konsumen mulai meninggalkan RBT. 

Selain itu jumlah pemilik kendaraan pribadi terus bertambah akibat gencarnya iklan dan kemudahan transaksi kredit. Uang muka Rp 750.000,- sudah dapat membawa pulang motor baru dari dealer, dan uang muka Rp 10 juta kendaraan roda empat. Walaupun setelah 3 (tiga) bulan berjalan kendaraan itu diambil dealer karena tidak mampu mengangsur cicilan.

Awal-awal BRT di Yogyakarta memberi harapan dengan kondisi dan fasilitas bus yang bersih, aman, dan nyaman dapat menggaet konsumen untuk memanfaatkannya. Saya pun pernah memanfaatkan, untuk mengantar ke bandara karena halte dekat rumah, hanya berjalan 300 meter, menunggu tidak sampai 10 menit bus sudah datang. Ongkos yang murah sebesar Rp 3.000,- dengan waktu tempuh  15 menit sudah sampai tujuan, sebagai alasan memilih BRT Trans Jogja. 

Dibanding memilih taksi konvensional, ribet, menunggu terlalu lama, dan biayanya Rp 50.000,-. Memilih BRT Trans Jogja adalah keputusan yang tepat, untuk mengantar ke bandara karena haltenya dekat dengan terminal keberangkatan.

Pernah juga pulang dari kantor memanfaatkan BRT Trans Jogja, tetapi jarak tempuhnya semakin lama, selain harus pindah jalur, rute yang ditempuh semakin menjauh dari tujuan, harus lewat Terminal Condongcatur dan Jombor. 

Padahal kalau naik motor jarak hanya 10 km, waktu tempuh 20 menit dengan kecepatan sedang. Artinya banyak waktu yang hilang dijalan untuk sampai rumah. Setelah mendapat pengalaman terlalu lama dijalan, tidak pernah menikmati BRT Trans Jogja. Semua tinggal kenangan karena kalau pergi kemana-mana kota Yogyakarta dan sekitarnya lebih enak dan cepat naik motor roda dua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun