Mohon tunggu...
Sri Rumani
Sri Rumani Mohon Tunggu... Pustakawan - Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama FEATURED

Refleksi Hari Gizi Nasional, Minimnya Formasi PNS untuk Sarjana Gizi

25 Januari 2019   16:02 Diperbarui: 25 Januari 2022   06:35 680 16 6
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi ahli gizi.| Sumber: SHUTTERSTOCK/STOCKCREATIONS via Kompas.com

Setiap tanggal 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional, dengan mengenang Prof. Dr. Poorwo Soedarmo sebagai tokoh yang menggagas slogan "Empat Sehat Lima Sempurna" pada tahun 1950. 

Belakangan slogan tersebut sejak tahun 2014 telah diganti menjadi "Gizi Seimbang", bukan sekadar makanan sehat tetapi juga seimbang (proporsional), yang dikenal dengan "Tumpeng Gizi Seimbang", suatu piramida makanan yang diklaim lebih baik dari Empat Sehat Lima Sempurna.

Menurut laman Kemenkes RI, pedoman gizi seimbang dengan membatasi konsumsi gula (4 sendok makan), garam (1 sendok teh), minyak (5 sendok makan). Makanan yang mengandung protein (nabati dan hewani) 2-4 porsi plus minum air putih 8 gelas. Kemudian 3-4 porsi sayuran, 2-3 porsi buah-buahan, 3-4 porsi karbohidrat.

Semua itu diikuti dengan pola hidup bersih (mencuci tangan dengan sabun, menyapu lantai dan halaman) dan hidup sehat dengan olahraga (bermain bola, berjalan, senam, bersepeda). Jangan lupa untuk memantau berat badan setiap saat, ketika pola makan mulai tidak sesuai dengan gizi seimbang. 

Jadi tumpeng gizi seimbang bukan hanya berisi panduan makan sehat, tetapi panduan pola hidup sehat secara keseluruhan termasuk aktivitas fisik dan kebersihan diri (secara fisik dan psikis, lahiriah dan batiniah).

Untuk memenuhi gizi seimbang bagi masyarakat golongan menengah ke atas secara ekonomi mampu, namun kurang memperhatikan karena berkaitan dengan "selera rasa" dan "prestige". Berdasarkan pengamatan, golongan masyarakat kelas menengah atas, lebih senang hidangan yang mengandung nilai gizi tinggi tetapi tidak seimbang (fast food, seafood). 

Disisi lain golongan kelas ekonomi bawah kurang mampu untuk memenuhi gizi seimbang, karena pendapatan per kapita yang minim. Walau ini bisa diupayakan sendiri dengan warung hidup, beternak ayam, mempunyai kolam ikan, bila tinggal di desa. 

Bagaimana dengan yang penghasilannya rendah tinggal di lingkungan padat penduduk? Hidroponik mungkin masih bisa diusahakan, tetapi beternak ayam pasti diprotes tetangga, karena kotorannya mencemari lingkungan.

Persoalan gizi yang tidak seimbang bukan saja berakibat pada gizi buruk, stunting, obesitas, dan munculnya berbagai penyakit. Untuk anak "usia emas" dampaknya pada tingkat kecerdasan intelektual yang jangka panjangnya menurunkan daya saing bangsa. Oleh karena itu tenaga kesehatan terus diupayakan untuk mengedukasi seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 265 juta jiwa tersebar dari Sabang sampai Merauke. 

Salah satunya tenaga kesehatan itu adalah ahli gizi yang telah mendapat pendidikan S1 Ilmu Gizi dari Perguruan Tinggi. Masalahnya, setiap ada formasi PNS untuk ahli gizi, ironisnya untuk yang berijazah D3 Gizi (tingkat keterampilan), minim yang berijazah S1 (tingkat keahlian). 

Terus bagaimana para lulusan S1 gizi, karena jarang disediakan formasinya. Padahal setiap tahun perguruan tinggi negeri maupun swasta memproduksi lulusan S1 Gizi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Karir Selengkapnya
Lihat Karir Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan