Sri Rumani
Sri Rumani Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menulis Belum Menjadi Kebiasaan bagi Masyarakat Indonesia

14 September 2018   20:00 Diperbarui: 14 September 2018   20:18 288 4 3
Menulis Belum Menjadi Kebiasaan bagi Masyarakat Indonesia
medium-com-5b9bb8c8677ffb3ba5651fb2.jpg

Membaca tulisan di Kompasiana dari bapak Adjat R. Sudradjat berjudul:"Hanya Orang Bodohlah yang Masih Menulis di Kompasiana", karena mendapat pertanyaan bertubi dari temannya yang bernada mengejek, menyepelekan. Bahkan dengan enteng memberi cap "bodoh" orang yang  masih menulis di Kompasiana. Untungnya kompasianer (bapak Adjat R. Sudradjat) tidak terpancing amarahnya, justru semakin semangat untuk terus menulis. Itulah salah satu hambatan dan tantangan bagi orang yang senang menulis selalu mendapat pertanyaan yang nadanya "merendahkan", bukan mengapresiasi. Lingkungan terdekat seperti keluarga, kantor, teman reuni, tetangga, kelompok arisan, kurang memberi respon positif ketika ada orang yang menjadi penulis.

Anehnya orang yang mengejek para penulis itu tidak pernah menulis, jadi hanya bisa omong:"tong kosong berbunyi nyaring", "air beriak tanda tidak dalam". Seperti penonton sepak bola di pinggiran lapangan, bisanya bersorak dan berteriak-teriak, kalau pemain gagal dicaci-maki, gilran masukkan bola dilempari botol minuman.

Godaan, ujian bagi para penulis yang sering "dibully" lingkungan sosialnya kalau dirasakan selain menyakitkan hati, dapat menyurutkan semangat untuk menulis. Padahal untuk bisa menulis itu perlu perjuangan dan laitihan tiada henti, dan harus membaca baik cetak maupun eletronik dan perlu membaca lingkungan. Membeli buku, langganan media massa agar dapat menambah wawasan dan pengetahuaan.  

Membaca dan menulis belum menjadi kebiasaan, sehingga bila ada orang yang suka membaca dan menulis dianggap aneh oleh lingkungannya. Padahal kalau ide itu sedang mengalir, harus segera dituangkan dalam tulisan supaya tidak hilang. Dalam "diam"nya, penulis itu bukan melamun, namun memperhatikan dan membaca situasi dan kondisi linkungan, sikap, perilaku, omongan orang-orang disekitarnya yang dapat menjadi ide tulisan. Sering menemukan "kata kunci "dimana saja dan kapan saja, yang dapat diuraikan menjadi tulisan.

Namun yang lebih aneh lagi orang yang sering mengejek, mencela, mencibir, dan menghina para penulis itu justru tidak pernah menulis. Jangankan menulis untuk karya ilmiah sebagai laporan penelitian, call for paper, colocium, lokakarya, untuk yang ilmiah populer dan laporan tahunan saja tidak pernah dilakukan. Alasannya berderet dan macam-macam mulai tidak ada waktu, banyak pekerjaan rutin yang harus diselesaikan, tidak mempunyai materi yang di tulis, tidak tahu apa yang harus di tulis, tidak mempunyai hobi/tidak bakat menulis, sampai anak merengek.

Masalah waktu dapat disiasati, siang hari, di kantor tidak ada waktu karena tersita untuk memberi pelayanan, maka dapat dilakukan di rumah, tidur jam 21.00 dijamin jam 03.00 akan bangun. 

Waktu yang hening, sunyi ini dapat dimanfaatkan untuk berdoa, membaca dan menulis. Agar tidak mudah mengantuk tertidur sambil duduk perlu cuci muka, dan jauhkan posisi duduk dengan tempat tidur. Awalnya memang sulit namun kalau sudah menjadi kebiasaan ringan dan nyaman dilakukan. Artinya para penulis itu biasa bekerja ketika orang lain sedang dibuai dalam mimpi, apakah salah kalau produktif menghasilkan karya tulis. Masih dicurigai, menulis terus kapan bekerjanya ?.

Kalau alasannya tidak bisa menulis, sejak sekolah sudah diajari dan mengenal huruf dan membaca. Memang diakui pelajaran bahasa Indonesia, materi  "mengarang", kurang porsinya, bahkan tidak ada. Padahal mengarang itu latihan menuangkan ide/gagasan/pikiran alam bentuk tulisan, dengan tema sederhana, pengalaman liburan sekolah, hadiah naik kelas. Lebih aneh lagi guru pelajaran bahasa Indonesia juga jarang menulis di media massa, alasannya sudah sibuk membuat persiapan dan laporan mengajar, sebagai konsekwensi sertifikasi guru yang besarnya satu kali gaji pokok.

Ilmu, teori, strategi menembus redaksi media massa banyak dijual di toko buku dan didownload lewat internet. Namun ironisnya, sungguh-sungguh terjadi si penulis buku itu belum pernah sekalipun tulisannya tembus di media massa (cetak dan elektronik). Kalau di majalah, dan jurnal profesi memang sudah pernah dimuat, karena diwajibkan menulis untuk memenuhi angka kredit. 

Ada kejadian aneh lagi sekretaris  tim penilai profesi , secara ex offisio  merasa berkuasa dengan enteng mengatakan tulisan yang diajukan tidak layak sehingga dikurangi nilainya. Padahal aturannya untuk golongan IV/b keatas yang berhak menilai tim penilai pusat di Jakarta, di instansi itu hanya melakukan verifikasi. Sudah menyalahi ketentuan, masih mengurangi nilai dan mengatakan tulisan ini tidak layak. Bagaimana sekretaris  tim penilai bisa mengatakan tulisan yang diajukan tidak layak sehingga nilainya dikurangi sampai 26 angka, kalau dia sendiri tidak pernah menulis dan tidak paham ketentuan yang berlaku ?. Aneh bukan ?.

Namun ini realita, dan pernah mengalami di "bully", bahkan "persekusi" profesinya. Ternyata menulis di Kompasiana pun juga ada yang melakukan tindakan "nyinyir" dengan lisannya, seperti yang dialami oleh bapak Adjat R. Sudradjat. Namun semua itu semakin menambah semangat untuk terus menulis, ibaratnya:"biar anjing menggonggong kafilah tetap berlalu".  Kalau gampang patah semangat kapan bisa maju, posisi hanya jalan di tempat karena mengurusi orang-orang yang sejatinya "iri hati", yang tidak bisa  mengimbangi  untuk menulis karena tidak ada kemampuan, kemauan dan kesempatan.

Yogyakarta, 14 September 2018 Pukul  20.05