Sri Rumani
Sri Rumani Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Fesyen Artikel Utama

"Outfit" Kesayangan Apakah Harus Mahal?

4 Agustus 2018   20:16 Diperbarui: 8 Agustus 2018   08:17 1041 3 3
"Outfit" Kesayangan Apakah Harus Mahal?
pinkcolumn.com

Pakaian atau sandang termasuk kebutuhan pokok selain papan, pangan, pendidikan dan kesehatan. Kebutuhan pokok itu harus dipenuhi, untuk meningkatkan harkat dan martabat seseorang. Dalam bahasa Jawa ada peribahasa "Ajining raga saka busono", artinya orang lain menghargai  seseorang dilihat  dari penampilan atau busana (pakaian) yang dipakai. 

Bila pakaian bersih, rapi, sopan, indah,  pas dengan acara dan tempat, padu padan cocok dengan bentuk tubuh,  maka seseorang akan dinilai anggun/elegan/luwes, gagah, berwibawa.

Berpakaian yang tepat dengan acara yang dihadiri juga menunjukkan kepribadian bagi seseorang. Artinya ketika menghadiri pertemuan resmi, rapat, protokuler, santai di indoor/outdoor, pakaian menyesuaikan dan berbeda dengan ketika di rumah.

Ketepatan dan kepatutan dalam berpakaian berpengaruh pada "penilaian diri" seseorang yang langsung kasat mata (dapat dilihat dengan mata). Kesan pertama untuk menilai seseorang dapat dilihat dari pakaian yang menempel di tubuhnya. Pakaian itu bukan sekadar menutupi bagian badan yang terlarang dilihat umum, tetapi juga mencerminkan "kepribadian" seseorang.

Pakaian juga dapat menunjukkan identitas, asal-usul, status sosial, budaya, tingkat pendidikan, profesi, agama, usia, jenis kelamin, bahkan "suasana batin" bagi setiap orang. Oleh karenanya pakaian itu penting, sehingga perlu dipikirkan warna, harga, motif, potongan, asesoris yang menempel.  

Dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat sering ada kejadian aneh, lucu, prihatin bila melihat cara berpakaian orang-orang disekitar kita. Salah kostum (saltum) sering terjadi, karena ketidak tahuan "etika berpakaian", atau ada unsur kesengajaan "sekedar" untuk meniru budaya barat, public figure idolanya. Ketika dipakai "orang sono/orang asing" memang sesui dengan warna kulit, tinggi badan, bentuk wajah.

Namun bila dipakai orang Indonesia dengan warna kulit, tinggi badan, bentuk tubuh serta wajah belum tentu cocok (pas), walau bahan, harga, motif, warna sama.

Pakaian jas untuk orang barat dipakai dalam segala kesempatan, karena musim dingin, jadi gelandangan pun memakai jas adalah hal biasa. Sedang di Indonesia baju jas hanya untuk orang tertentu dan acara resmi/protokuler. Ketika orang barat ke Indonesia kepanasan, maka baju yang dipakai "hotpant", dengan bahan 50 cm, dan tragisnya orang Indonesia meniru untuk memakainya. 

Tentu sangat tidak cocok apalagi dipakai di tempat umum, yang dapat menggoda dan memancing orang melakukan tindak kejahatan (pelecehan, pemerkosaan). Berpakaian seperti tidak berpakaian, karena bahannya transparan, tembus pandang, atau ukurannya terlalu ketat, sehingga memperlihatkan lekuk tubuh.

Inilah makna dari "ajining rogo soko busono", orang di hormati, dihargai, diperlakukan baik dan sopan karena cara dan berbusana yang dipakai menutup aurat, sopan, beretika, dan cocok dengan waktu dan kesempatan. Namun perlu diingat, penilaian tersebut tidak berdasarkan harga/nominal rupiahnya, tetapi pada pribadi, karakter, perilaku, orang yang memakainya. 

Baju glamor, semahal apapun yang dipakai seseorang, pasti "bayangannya (wujud hitam yang tampak di balik benda yang kena sinar)" tetap sama "hitam". Tidak mungkin baju mahal, bagus, penuh aksesoris ketika dipakai akan menghasilkan bayangan yang sama sesuai dengan warnanya. Jadi kenapa mesti memilih pakaian kesayangan  harus merogoh kocek sangat dalam (maaf ini pikiran orang udik yang sangat sederhana).

Apalagi niat dan tujuannya hanya ingin mendapatkan "WAH", yang harus dibeli dengan harga mahal.

Ketika kocek kosong pun "nekad" membeli dengan kartu kredit, sungguh bagi orang udik tidak bisa memahami, namun realita ada di kalangan masyarakat kita.

Bagi orang udik dan sederhana, dalam berpakaian itu yang penting menutup "aurat", sesuai dengan acara yang dihadiri, tidak perlu mahal asal terjangkau kocek. Sangat meyakini pancaran pakaian itu bukan terletak pada harganya, tetapi dari "aura batin" yang memakainya (agi yang tidak setuju itu hak prerogatif setiap orang).

Untuk apa memakai baju mahal, walau menutup aurat tetapi "perilaku", tindakan, omongan, sikap, tidak mencerminkan apa yang dipakai?

Sikap sombong, angkuh, diskriminatif, minta dihormati, minta dihargai, semena-mena dengan orang yang lebih tua, tidak menyayangi dengan yang lebih muda.

Namun yang terjadi  justru orang "muak" dengan perilaku yang  sangat merugikan orang lain, hanya untuk menguntungkan dirinya sendiri. Kalau demikian nilai-nila kejujuran sudah lepas dari hati nuraninya.

Yogyakarta, 4 Agustus 2018  Pukul 20.15