Sri Rumani
Sri Rumani Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Aktivitas Pertemuan Tahunan Lebaran, Arisan Keluarga

19 Juni 2018   15:35 Diperbarui: 19 Juni 2018   15:40 801 1 2

Hingar bingar lebaran sudah berlalu, suasana di rumah-rumah mulai sepi ditinggalkan para pemudik kembali ke perantauan dengan membawa sejuta kenangan indah, kebersamaan dengan keluarga. Kebersamaan makan, pergi ke tempat rekreasi walau macet total tidak bergerak sampai 3,5 jam itu "sesuatu banget", yang hanya setahun sekali. Kalau tidak sekarang kapan lagi ? 

Itu pikiran semua orang, sehingga suasana lebaran benar-benar menjadi momen yang terindah dalam perjalanan hidupnya. Hari pertama pagi waktu untuk ziarah kubur dan dihabiskan di rumah untuk saling berbagi pengalaman, kabar, kondisi di perantauan. Baru siang hari bergerak menuju ke rumah saudara kandung, dan keluarga dekat yang sangat terbatas. Artinya tidak mendatangi dari rumah ke rumah, tetapi karena sudah ada pertemuan trah sehingga sangat menghemat waktu, tenaga, untuk silaturahmi.

Aktivitas hari kedua lebaran sudah rutin menjadi agenda tahunan, ada pertemuan trah dari pihak bapak mertua. Mereka datang dari berbagai kota Jakarta, Cirebon, Clacap, Semarang, Makasar, Yogyakarta. Tempat pertemuan, sekaligus sebagai penyelenggara acara dengan segala makanan, snack, diurutkan dari kakak tertua, sampai yang paling bungsu. Kebetulan bapak mertua sebagai kakak tertua, jadi waktu itu (tahun 1990) sebagai inisiator, sebagai penyelenggara, setiap 5 tahun sekali sebagai penyelenggara. Karena bapak dan ibu mertua sudah meninggal maka semua ditanggung oleh anak-anaknya yang berjumlah 8 orang yang masing-masing sudah berkeluarga.

Dalam pertemuan itu bukan sekedar silaturahmi dan saling maaf-memaafkan, namun ada peluang untuk memanfaakan "modal sosial", yang kalau diberdayakan memberi manfaat bukan saja untuk anggota trah, tetapi masyarakat sekitarnya. Dalam pertemuan trah itu ada iuran per kepala sebesar Rp 20.000,-, kalau anggotanya sudah 200 orang, artinya sudah terkumpul uang sebesar Rp 4.000.000,-. 

Uang ini setelah terkumpul dimanfaatkan untuk dana sosial (bagi anggota yang sakit dirawat di RS, melahirkan, dan lain-lain). Juga untuk membantu konsumsi penyelenggara acara. Latar belakang pendidikan para anggota yang kebanyakan lulusan S1 berpengaruh terhadap orientasi pertemuan trah. Artinya, trah ini lebih memikirkan bantuan apa yang bisa dibutuhkan.

Malam harinya ditempat kakak pertama ada pertemuan keluarga yang khusus terdiri kakak, adik, ipar, anak, mantu, cucu. Bapak ibu mertua yang sudah dipanggail Illahi, awalnya hanya berdua, saat ini dari 8 putra putri, dengan 8 menantu, jumlah anggota keluarga menjadi 68 orang. Artinya sebenarnya ini suah dapat berdiri satu trah sendiri, dan uniknya sejak tahun 2000 an, mengaakan arisan per kepala keluarga (KK) sebesar Rp 1.000.000,- yang awalnya hanya 8 KK sudah berkembang menjadi 18 KK. Inilah uniknya arisan tahunan, dan bila ada yang membutuhkan dapat "request", karena ini sifatnya kekeluargaan jadi tidak perlu diundi. Namun bila tidak ada yang membutuhkan baru diundi untuk sekali tarikan ada 4 (empat) KK yang mendapatkan arisan, agar tidak terlalu lama.  

Dalam keluarga ini pendidikan menjadi prioritas untuk diperjuangkan dengan memperhatikan masalah agama. Walaupun saudara kandung, dari 8 orang itu setelah masing-masing membina keluarga, ternyata ada pola asuh yang berbeda pula setiap keluarga. Hal ini dapat terlihat dari sikap, tingkah laku, pemikiran, pandangan hidup setiap anak dari masing-masing keluarga tersebut. Hal ini tidak terlepas dari peran ibu sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Intinya pendidikan yang demokratis, bukan permisif, tegas bukan keras, mengarahkan bukan mendikte, menasehati bukan menghakimi, sebagai modal untuk anak-anaknya menjadi jiwa-jiwa yang mempunyai kepribadian dan daya juang tinggi yang tidak mudah menyerah.  

Hari ketiga masih pertemuan trah dari ibu mertua, yang lebih bernuansa agamis, karena banyak lulusan dari pondok pesantren. Namun belum berorientasi ke depan untuk jangka panjang, mengingat dana kas lebih banyak tersedot untuk dana sosial. Anggota trah ini lebih banyak yang tinggal di Yogykarta dan sekitarnya, sehigga sudah sering bertemu. Namun demikian, hubungan kekeluargaan ini lebih formal, kaku, akibatnya komunikasi sangat terbatas. Ini membuktikan bahwa pada latar belakang pendidikan mempunyai korelasi terhadap pola komunikasi antar anggota.

Hari keempat setelah lebaran diisi denganacara bebas, artinya sudah tidak ada lagi kegiatan untuk pertemuan trah. Kalaupun masih ada sudah jarang hadir karena suah terlalu jauh sekali hubungan darahnya. Selain itu anggotanya semakin banyak semakin tidak efektif untuk mengenal satu persatu. Artinya pertemuan trah itu semakin melebar semakin kurang memberi makna, apalagi bagi anak-anak zaman "now", karena mobilitas tinggi acara tersebut sudah tidak dapat berperan serta.

Yogyakarta, 19 Juni 2018 Pukul 15.27