Mohon tunggu...
Sri Rumani
Sri Rumani Mohon Tunggu... Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Menuntaskan Agenda Reformasi

22 Mei 2018   01:14 Diperbarui: 22 Mei 2018   22:50 1049 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menuntaskan Agenda Reformasi
sejarah-negara-com-5b03f969bde5756ed2418853.jpg

Perjuangan mahasiswa seluruh Indonesia mencapai klimak pada tanggal 21 Mei 1998, dengan mundurnya Presiden Suharto secara konstitusional, dan BJ. Habibie diangkat sumpah oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai presiden ke-3. Perjalanan untuk menuju puncak perjuangan mahasiswa itu telah jatuh korban mahasiswa yang tertembak di kampusnya Trisaksi tanggal 12 Mei 1998 yaitu Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidan Royan, dan Henriawan Sie. Di Yogyakarta mahasiswa Moses Gatotkaca menjadi korban di daerah Mrican, di dekat Universitas Sanata Dharma.

Sungguh ini sebagai tragedi kemanusiaan, yang sampai hari ini belum diketahui siapa yang menembaknya, walau sudah olah TKP (Tempat Kejadian Perkara) berkali-kali, uji balistik, tetap tidak diketahui dari pelurus siapa dan senjata nomor berapa. Presiden sudah berganti sampai 5 (lima) kali yaitu B.J. Habibi, Megawati, AbdulrahmanWahid (Gur Dur), Susilo Bambang Yudoyono (SBY), dan Joko Widodo (Jokowi), tragedi ini masih menjadi misteri.

Tertembaknya mahasiswa Trisaksi sebagai pengobar semangat mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat bersatu padu melengserkan Presiden Suharto yang sudah berkuasa selama 32 tahun. Di Yogyakarta, pergerakan mahasiswa dan masyarakat yang dimulai dari kampus UGM dan seluruh penjuru jalan melakukan aksi "long march, berjalan kaki melakukan aksi damai menuju Alun-Alun Utara depan Keraton Yogyakarta yang disebut dengan "Pisowanan Ageng"/menghadap raja secara besar-besaran. Aksi ini sering disebut:"Gerakan Rakyat Yogyakarta", "Aksi Damai Rakyat Yogyakarta", Reformasi Damai".

Sepanjang perjalanan rakyat menyediakan nasi bungkus, minuman gratis untuk peserta aksi damai ini. Di kepala atau lengan tangan peserta ada pengikat kain putih bertuliskan "Reformasi". Toko-toko yang dilalui peserta aksi dami tutup dan ditempelkan tulisan "Pro Reformasi". Semua dilakukan secara spontan, tanpa ada yang memberi komando apalagi perintah, dan suka rela. Sungguh suasana waktu itu sangat menegangkan (namun tidak menakutkan), karena aparat memberi perlindungan dengan menjadi pagar betis agar tidak ada penyusup. Sangat mengharukan, aksi yang melibatkan ribuan orang, dapat berjalan dengan sopan, tertib dan tidak anarkis.

Di Alun-alun Utara yang penuh mahasiswa dan masyarakat Yogyakarta jumlahnya hampir sejuta orang, mendengarkan pembacaan Maklumat dari Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi DIY Sri Sultan HB X dan Sri Paku Alam VIII. Intinya, ajakan masyarakat Yogyakarta dan Indonesia mendukung Gerakan Reformasi dan pemimpin yang pro rakyat, ABRI melindungi rakyat, menjaga persatuan dan kesatuan, dan menghimbau agar berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing untuk keselamatan Negara dan Bangsa.

Setelah di Yogyakarta ada Pisowanan Ageng, dan di Jakarta 14 Menteri mengundurkan diri, serta himbauan Ketua MPR Harmoko di depan media massa agar Presiden Suharto mengundurkan diri. Tanggal 21 Mei 1998, Presiden Suharto di Istana Negara tepat jam 09.00 meletakkan jabatan secara konstitutional dan BJ. 

Habibie sebagai peggantinya. Banyak orang menyambut gembira dengan bersorak, dan para mahasiswa menceburkan diri di kolam Gedung DPR/MPR, merayakan kemenangan dalam melengserkan penguasa Orde Baru. Namun sebagian terharu, meneteskan air mata saat melihat Pak Harto membacakan surat sakti yang menandai diakhirinya Orde Baru dan dimulainya Orde Reformasi.

Namun perjuangan belum usai, dan baru dimulainya Era Reformasi yang masih menimbulkan gejolak dan tragedi Semanggi I tanggal 11-13 Nopember 1998, dan tragedi Semanggi II tanggal 24 Nopember 1998. Dalam tragedi itu jatuh korban tewas warga sipil 20 orang dan luka-luka 217 orang. Pemerintahan transisi Indonesia mengadakan sidang Istimewa untuk menentukan Pemilu dan membahas agenda reformasi yaitu adili Soeharto dan kroni-kroninya, amandemen UUD 1945, penghapusan dwifungsi ABRI, otonomi daerah yang seluas-luasnya, supremasi hukum, pemerintahan yang bersih dari KKN.

Memang agenda reformasi sudah dijalankan, Presiden Soeharto sudah diadili namun sakit dan sampai meninggal, berarti sudah tidak diteruskan, amandemen UUD 1945 sudah dilaksanakan dengan merubah pasal 7, sebelum masa jabatan Presiden selama 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali (tidak ada batasan berapa kali). Kemudian dalam amandemen sudah ada perubahan, masa jabatan Presiden 5 (lima) tahun, dan dapat dipilih kembali maksimum 2 (dua) kali masa jabatan. 

Penghapusan dwifungsi ABRI sudah dilaksanakan, kemudian otonomi daerah seluas-luasnya juga sudah dilaksananya, namun berdampak muncul "raja-raja kecil" di daerah. Supremasi hukum masih perlu perjuangan keras untuk mewujudkannya. Terakhir agenda pemerintahan yang bersih dari KKN, juga perlu agenda secara komprehensif, terencana, dan terukur untuk memberantasnya.

Masalah otonomi daerah, dengan pilkada langsung dampaknya untuk menjadi calon kepala daerah itu memerlukan biaya yang besar, sehingga ada kecenderungan "kembali modal" selama menjabat. Buktinya kasus OTT para pejabat publik karena korupsi, jual beli jabatan, penyelewengan keuangan, dan lain-lain. Supremasi hukum, kasus para penegak hukum yang "tersandung", godaan yang sangat berat dalam menangani perkara. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN