Sri Rumani
Sri Rumani Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Kembali ke Titik "Nol", Apa yang Dilakukan?

6 Agustus 2018   21:14 Diperbarui: 6 Agustus 2018   21:21 551 0 0
Kembali ke Titik "Nol", Apa yang Dilakukan?
(silverdoctors.com)

Roda itu selalu berputar kadang dibawah terkena lumpur dan becek, kadang diatas yang dekat dengan aroma wewangian para penumpang. Namun roda tidak pernah protes ketika posisi dibawah maupun jumawa saat diatas.

Roda tetap berputar pada porosnya yang digerakkan oleh mesin, ataupun kayuan kaki. Tidak pernah menolak ketika roda harus diganti karena sudah aus termakan usia. Roda juga setia berputar di jalan mulus, berbatu, bergelombang, becek, bahkan tertusuk paku tajam dan berkarat.

Kehidupan manusia ibaratnya seperti roda yang berputar pada porosnya, kadang di bawah, di tengah, di atas. Perpindahan antara posisi bawah, tengah, atas itu berproses tidak serta merta (instan). Pasti melalui tahapan, tanjakan, step by step, karena dalam berproses itulah ada pembelajaran, pengalaman, hikmah yang bisa dipetik, agar dalam menjalani kehidupan selanjutnya lebih hati-hati, waspada (bukan curiga apalagi dengan pikiran negatif).

Keledai itu pun tidak akan jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Manusia dengan akal pikir, semestinya dapat menghindari lubang yang sama, agar tidak terperosok kedua kali untuk masalah yang sama.

Roda kehidupan ini bukan hanya berkaitan dengan materi yang bersifat kasat mata, tetapi karier dalam pekerjaan yang ditekuni dan dipilih untuk memberi nafkah keluarga atau sekedar sebagai “ban serep”, nenambah penghasilan keluarga. Menjalani hidup berstatus sebagai aparatur sipil negara (PNS) maupun pegawai perusahaan BUMN, pekerja di swasta, tidak terlepas dari proses  perekrutan, pengangkatan, pelatihan, agar mendapatkan pengalaman kerja dan mengasah keahlian sehingga siap bekerja dan meniti karier dari tangga paling bawah, sesuai dengan ijazah.

Seiring dengan perjalanan waktu, posisi di tangga itu terus naik, walaupun ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Posisi di anak tangga karier berbanding lurus dengan besarnya pendapatan, semakin tinggi posisi, semakin besar pendapatan yang dibawa pulang ke rumah (take home pay). 

Untuk meniti tangga, memerlukan semangat tinggi, loyalitas, dedikasi, amanah, ketekunan, kejujuran, kerjasama secara dinas maupun sosial, perilaku, sikap, sehingga dapat meniti tangga dengan lancar. Gesekan, friksi-friksi dalam meniti tangga karier sering terjadi, bahkan politik praktis masuk ranah pembinaan karier. Kalau sudah begini perjalanan karier seseorang dapat terhambat, terjegal, bahkan berhenti.

Dalam politik kata orang tidak ada kawan sejati, saat ini jalan bersama besok pagi sudah ganti dengan orang lain. Penulis sendiri awam dengan politik walau pernah bekerja di lingkungan orang-orang yang mempunyai ilmu politik. Namun dapat merasakan ada “permaian” politik baik secara halus (diam-diam) maupun kasar dan tidak beretika.

Orang yang polos, jujur, sederhana, berprestasi menjadi sasaran empuk “obyek” permaian politik praktis demi untuk memenuhi ambisi pribadi, kroni dan kelompoknya. Model menginjak bawah, menyikut kanan kiri, dan menjilat atas, secara nyata ada di dunia pekerjaan baik pemerintah maupun swasta dan perusahaan.

Ada saja yang berperan sebagai orang baik dan orang jahat, dan orang baik selalu menjadi korban orang jahat. Namun anehnya tidak  masuk tindak kejahatan yang dapat dipidanakan, sebagai “perbuatan tidak menyenangkan”. Korban pun tidak pernah melaporkan ke atasan apalagi polisi, karena dapat menjadi bumerang dan mengganggu perjalanan keriernya.

Rela dan ikhlas menjadi  sasaran “bullying” oleh lingkungan yang tidak menyukai kehadirannya. Aneh bukan orang yang jujur, polos, sederhana, amanah menjadi sasaran untuk disingkirkan oleh orang-orang jahat, karena dapat menganggu niat dan ambisinya untuk merebut posisi dan kursi.   

Orang polos, sederhana saat mempunyai semangat tinggi untuk menggapai tangga paling atas, ternyata secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional di stop, agar berhenti di tangga yang dipijak. Ibaratnya kendaraan yang sedang melaju kencang, gas tinggi posisi gigi (perneling) 4 (empat), langsung di stop dan berhenti.

Kondisi ini pastinya dapat mencelakakan pengemudi kendaraan, minimal terbentur karena berhenti mendadak. Kaget, syok, trauma, dengan semangat hidup ada di titik nol, paling bawah, sedih, meratapi, menyesal, menyalahkan diri sendiri, dan tidak ada gairah lagi, tidak berdaya, lemas, lunglai.

Walaupun posisi karier ada di titik nol alias berhenti, stop tidak bisa lanjut, dan ini nyata, riil, dialami, dirasakan. Jujur awal-awal mengalami titik nol itu sangat sulit untuk menerima kenyataan secara “legowo”, dan ini manusiawi, alami, setiap orang pernah mengalami kondisi di titik nol.

Pasrah, menyerah bukan berarti kalah, namun menang secara hakiki, menerima skenario Alloh SWT yang lebih indah daripada skenario manusia. Setelah menjalani hidup dengan perasaan yang “nano-nano” itu mengendap dalam sanubari, dapat menemukan hikmah dibalik peristiwa, akhirnya keikhlasan datang dan menerima kenyataan, untuk berhenti naik tangga menuju puncak.

Sungguh ini menjadi pelajaran dan pengalaman hidup, keberhasilan, kesuksesan, prestasi, karier yang mulus, ternyata itu menjadi “bibit” iri hati, kedengkian, fitnah bagi orang-orang yang tidak bisa mengikuti jejaknya. Berhati-hatilah dimana pun kita berada, ada orang-orang yang mengincar posisi dan kursi kita, apa pun ditempuh demi terwujudnya ambisi pribadi yang haus dengan kekuasaan, sanjungan, dan “gila” hormat.

 Yogyakarta, 6 Agustus 2018 Pukul 20.12