Mohon tunggu...
Sri AdelliaMunaff
Sri AdelliaMunaff Mohon Tunggu... -
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Tantangan Menuju Swasembada Pangan

30 Januari 2019   03:06 Diperbarui: 30 Januari 2019   04:29 208 3 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Petani (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

Pada debat calon presiden ke dua yang akan dilaksanakan 17 Februari nanti, pangan menjadi salah satu tema utama yang akan dibahas para calon presiden. Tema ini sangat aktual dan memang penting untuk dibahas secara khusus. Karena bangsa yang berdaulat, tidak akan bisa sebenar-benarnya berdaulat bila ia tidak memiliki ketahanan pangan.

Pun di beberapa kesempatan, Prabowo Subianto selaku calon presiden penantang sudah berulang kali menekankan bahwa bangsa yang besar, bangsa yang hebat, adalah bangsa yang bisa mewujudkan swasembada pangan. Penekanan itu seolah menjadi sindiran tegas bagi Presiden Joko Widodo yang sudah empat tahun menjabat, namun belum pernah dianggap bisa mewujudkan swasembada pangan.

Kita pun harus mengakui bahwa mewujudkan swasembada pangan tidaklah mudah. Ini lantaran Indonesia dihadapkan pada beberapa tantangan. Misalnya konversi lahan pertanian dan subsidi pertanian, khususnya untuk pupuk dan benih yang masih diperlukan.

Kebijakan subsidi pertanian pada dasarnya sangat diperlukan, tetapi perlu dievaluasi dalam pengelolaannya agar lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran. Tantangan lainnya ialah lemahnya penerapan teknologi, masih kecilnya skala usaha petani, dan aneka macam tantangan lainnya.

Namun kita tidak bisa mengabaikan prestasi Presiden kita dalam berusaha mewujudkan swasembada pangan. Dari sisi konsep ketahanan pangan, Indonesia sebenarnya terus mengalami perbaikan indeks. Hal ini tercermin dari data Global Food Security Index (GFSI) yang dirilis The Economist Intelligence Unit. (Bisnis.com)

Dari 113 negara, Indonesia menempati posisi 72 pada 2014. Posisi ini memburuk menuju 76 pada 2015, tetapi cenderung membaik ke depannya. Pada 2018, Indonesia pun berhasil menuju ke level 65.

Ada 4 indikator dalam menilai peringkat GFSI, yakni affordability (keterjangkauan), availability (ketersediaan), quality and safety (kualitas dan keamanan), serta natural resources and resilience (sumber daya alam dan ketahanan).

Dari keempat indikator tersebut, Indonesia mendapat peringkat tertinggi di sisi ketersediaan dengan peringkat 58. Peringkat keterjangkauan juga baik, yakni di posisi 63.

Affordability dalam arti kemampuan membeli pangan membaik. Data statistik menunjukkan bahwa kemiskinan turun jadi single digit. Artinya, orang miskin berkurang, sedangkan kapasitas daya beli masyarakat terhadap pangan pun meningkat.

Berbagai langkah pun telah dijalankan Kementerian Pertanian untuk mewujudkan swasembada padi, jagung, dan kedelai, salah satunya melalui optimalisasi lahan, penambahan luas lahan, serta bantuan benih dan pupuk.

Tapi sejauh ini, upaya itu seperti tidak membuahkan hasil. Indonesia masih harus mengimpor tiga komoditas pangan utamanya. Yakni Padi, jagung, dan kedelai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan