Mohon tunggu...
SRI HARTONO
SRI HARTONO Mohon Tunggu... Supir - Mantan tukang ojol, kini buka warung bubur ayam

Yang penting usaha

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Membandingkan Sesama Kompasianer

9 Juli 2022   06:00 Diperbarui: 9 Juli 2022   11:28 693
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Merenung / Wattpad - Pinterest. 

David kalau menulis artikel malam malam. Masih sempat sempatnya dia berkarya walaupun sudah lelah pulang kerja. Hal ini mungkin yang membedakan saya dengan dia. Jika selesai bekerja, saya lebih suka masuk kamar yayang yayangan. 

Jangan ngeres ya, saya yayangan dengan anak istri karena kami berempat tidur sekamar. Yayangan bagi saya adalah saling cerita dan canda ria sebagai wujud berbagi kasih sayang keluarga. 

Yang termasuk langka itu Pak Katedrarajawen. Beliau dengan 2 kata saktinya 'Omong Kosong' kok bisa bisanya membuat banyak tulisan dengan berbagai topik. Maknanya mendalam dan penuh perenungan. 

Lain halnya dengan saya yang lebih banyak menulis dengan sedikit makna. Saya boleh dikatakan sebagai kompasiner 'omong kosong nyaring bunyinya'. 

Suatu saat saya pernah terbahak membaca membaca tulisan Mbak Fatmi Sunarya. Judulnya saya lupa, tetapi waktu itu saya memberi beberapa penilaian di satu artikel itu. Beliau kalau menulis humor itu lucunya setengah mati. 

Beberapa tulisan humor saya juga dianggap lucu oleh kompasianer lain. Mungkin mereka juga menganggap humor saya lucu setengah mati. 

Saya setuju dengan anggapan tersebut. Humor saya memang lucunya setengah mati saja, karena yang setengah mati lagi adalah membuatnya. 

Menulis humor itu sulit. Coba suruh orang orang yang skripsi atau tesisnya mendapat nilai A-plus, belum tentu mereka bisa menulis cerita humor. Namun jika mereka bisa menulis humor, hasilnya pasti luar biasa seperti Pak Felix Tani. 

Saya juga sering membandingkan diri dengan kompasianer maestro, Pak Tjip dan Ibu Rose. Opa-Oma yang sudah S3 (sudah sangat sepuh), jempol dan mata beliau tentunya masih berfungsi dengan baik. Jika tidak, bagaimana pasangan Kompasiner senior itu bisa mengetik dan membaca tuts keyboard atau HP yang kecil kecil Ini. 

Belum tentu kelak di usia segitu indra saya masih berfungsi normal. Belum tentu juga umur saya bisa mencapai S3 seperti mereka. 

Banyak kompasianer lain lagi yang saya bandingkan dengan diri sendiri. Mereka yang profesinya bukan kaleng kaleng masih mau menyibukkan diri menulis di Kompasiana. Ada wartawan, editor, motivator, konsultan dll. Para Kompasiner itu kan kalau menulis di tempat lain bisa berhonor jutaan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun