Mohon tunggu...
sri nuraini
sri nuraini Mohon Tunggu... Hoteliers - swasta

seorang yang gemar snorkeling

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Harga Mati Ideologi Jalan Tengah Bernama Pancasila

1 Oktober 2022   17:40 Diperbarui: 1 Oktober 2022   17:44 95 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Pancasila - jalandamai.org

Mengacu pada Wikipedia bahwa dalam politik, sebuah ideologi, partai maupun posisi politik dapat diklasifikasikan dengan istilah kiri dan kanan. Sistem klasifikasi ini mempertentangkan politik sayap kiri dan sayap kanan. Istilah ini berasal dari Prancis, dimana sayap kiri dianggap sebagai "partai gerakan" dan sayap kanan sebagai "partai keteraturan". Posisi di tengah-tengah dua sayap ini disebut sentrisme atau posisi moderat. Pengamat politik biasanya mengelompokkan anarkisme, komunisme, sosialisme demokrat, libertarianisme kiri, progresivisme, liberalisme sosial, persamaan ras dan serikat buruh ke kelompok sayap kiri. Konservatisme, libertarianisme kanan, neokonservatisme, imperialisme, monarkisme, fasisme, reaksionarisme, tradisionalisme, dan demokrasi kristen (di negara-negara Barat) biasanya dianggap sayap kanan.

Indonesia memiliki keistimewaan tersendiri. Para tokoh, pemikir, pejuang dan pemimpin bangsa Indonesia dengan sadar sedari awal menyusun Pancasila sebagai ideologi yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Pancasila sengaja didesain sebagai Ideologi Tengah, tidak menganut individualisme dan kapitalisme dan juga tidak menganut kolektivisme dan sosialisme atau komunis. Pancasila memuat gagasan dan nilai yang memadukan peran negara dan peran swasta sebagai jalan tengah. Pancasila mengandung nilai-nilai teosentris dengan menghormati nilai-nilai antroposentris sehingga Indonesia bukan negara sekuler dan juga bukan negara agama. Namun Indonesia memiliki gagasan dan nilai-nilai mengenai negara kekeluargaan atau negara gotong royong yang memiliki implikasi kultural seperti budaya budaya musyawarah, budaya berbagi, budaya rukun, selaras, serasi dan seimbang.

Pancasila sebagai Ideologi Jalan Tengah dalam perjalanannya tentu saja mengalami berbagai ancaman baik itu ditarik ke kiri ataupun ke kanan. Penghujung September ini sebagai pengingat kita bahwa Pancasila pernah mengalami ancaman oleh kelompok kiri yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI) dimana mereka melakukan makar melalui Gerakan 30 September pada tahun 1965. Sebelumnya PKI juga pernah melakukan pemberontakan pada 18 September 1948 dipimpin oleh Muso dan Amir Sjarifuddin dengan tujuan utama untuk mendirikan Negara Soviet Indonesia yang memiliki ideologi komunis. Pemerintah menyadari bahwa PKI berbahaya bagi negara akhirnya pemerintah melakukan berbagai tindakan untuk membubarkan PKI. Akhirnya PKI dapat dibubarkan setelah dilakukan operasi penumpasan dan dua pemimpinnya gugur serta beberapa petingginya melarikan diri.  

Ancaman dari kelompok kanan dimulai dari pemberontakaan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin oleh SM Kartosuwiryo pada 7 Agustus 1949, Pemberontakan DI/TII ini diawali dengan didirikannya Negara Islam Indonesia (NII) dengan tujuan menggantikan Pancasila sebagai dasar negara dengan syariat Islam. Namun gerakan tersebut bertentangan dengan ajaran Islam karena saat pemberontakan banyak terjadi perusakan, pembakaran rumah warga dan penganiayaan penduduk. Hingga akhirnya pada 4 Juni 1962 Kartosuwiryo dan para pengikutnya ditangkap. 

Baik kelompok kiri ataupun kanan dengan pandangan "radikal-ekstrim" sama-sama mempunyai efek yang akan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia karena bertentangan dengan hakikat Pancasila yang moderat.

Ancaman yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini adalah santernya kelompok konservatif yang berupaya menegakkan khilafah. Meski pemerintah telah membubarkan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) namun tetap saja kelompok tersebut menempuh berbagai cara untuk menegakkan khilafah di Indonesia. Hal ini tentu saja mengancam stabilitas nasional. Baik PKI ataupun HTI sama-sama dibubarkan oleh pemerintah. Pembubaran PKI diikuti dengan pelarangan ideologi komunis namun pembubaran HTI tidak diikuti dengan pelarangan ideologi khilafah. Inikah yang membuat ideologi khilafah itu terus bertransformasi sejak Indonesia merdeka hingga kini?

Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara merupakan komitmen bersama seluruh anak bangsa dan sudah terbukti ampuh mengatasi ancaman terhadap keberagaman suku, etnis, agama, budaya, bahasa, dan sebagainya. Tidak hanya NKRI namun Pancasila juga merupakan harga mati bagi bangsa Indonesia!

  

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan