Mohon tunggu...
Petrus Purnama
Petrus Purnama Mohon Tunggu...

Hanya seorang yang mau belajar 'mengetik' di keyboard... Dan Mau membaca ketikan orang lain. Pemerhati Social Entrepreneurship dan Internet Marketing, suka masalah Teknologi khususnya Internet.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Ngopi in The Morning: Homeless to Harvard

3 Juli 2010   00:00 Diperbarui: 26 Juni 2015   15:08 319 0 5 Mohon Tunggu...

[caption id="attachment_181365" align="alignleft" width="300" caption="southwestern.edu"][/caption] Secangkir kopi menyegarkan tubuh dipagi hari, memberi semangat baru untuk mengarungi hari. Inspirasi hidup menggugah hati - menyegarkan jiwa. S’mangat Pagi.

Lahir pada 23 September 1980 di Bronx , New York, dari orang tua yang mengindap AIDS, pencandu narkoba. Liz kecil berubah kehidupannya ketika sang ibu meninggal karena penyakit AIDS nya dan menyebabkan ayahnya mendiami ‘shelter’ bagi pada Tuna Wisma.

Suatu keadaan yang akan memupuskan harapan Liz kecil. Keberuntungan menghingkapi Liz ketika dia mendatangi Humanities Preparatory Academy, Chelsea, Manhattan. Walau dia telat mengikuti pendidikan Sekolah Menengah Atasnya, dan hidup dilingkungan yang tidak mendukung, Liz berhasil menamatkan pendidikan SMU nya hanya dalam waktu dua tahun.

[caption id="attachment_181366" align="alignright" width="214" caption="oddee.com"][/caption] Dari prestasinya tersebut wanita bernama lengkap Elizabeth Murray, mendapatkan penghargaan dari Surat Kabar New York Times, dengan beasiswa untuk masuk di Universitas Hardvard, universitas terkenal di Amerika serikat. Liz akhirnya bisa mengenyam pendidikan di Harvard tahun 2000, ditahun 2003 dia memindahkan study nya ke Universitas Columbia, untuk bisa dekat dengan ayahnya yang terkena AIDS, sampai meninggal di tahun 2006.

Sepeninggal ayahnya di Tahun 2008 dia kembali melanjutkan kuliahnya di Harvard dan lulus di bidang Psikologi tahun 2009. Suatu kisah yang akhirnya difilmkan di tahun 2003 berjudul : Homeless to Harvard, dibintangi oleh Thora Birch dan Kelly Lynch.

Kisah yang bisa membuat kita semangat untuk mengejar pendidikan setinggi mungkin tidak terpengaruh dengan kondisi atau keadaan. Kondisi Negara kita sangat sering didapati anak-anak putus sekolah karena ketidak mampuan mereka. Kita bisa berkata ya itulah keadaan negeri kita yang belum mampu mensejahterakan anak bangsa.

Tapi bagi seorang Saldi Isra hal itu tidak menjadi kendala bagi dia, dia tetap mempunyai kemauan yang tinggi untuk menjadi seorang guru, yang dipandang adalah suatu pekerjaan yang mulia, yang terpandang dan tentunya akan bisa membantu kesejahteraan keluarganya.

Sekarang bukan hanya menjadi seorang guru biasa bahkan bisa menjadi seorang dosen, seorang Ahli Tata Negara terkenal di negeri ini bergelar Profesor Doktor. Apakah itu Faktor keberuntungan? Tekad yang kuat lah yang mendasari seorang Sadli Isra bisa mencapai gelar seperti sekarang ini, walau terlahir dari orang tua yang hanya petani dan buta huruf. Begitu pula dengan Basuki seorang Loper Koran yang bisa meraih Doktor dibidang Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI) dan sekarang menjadi salah satu dosen di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta.

Bagi saya , belajar adalah hal yang tidak bisa dihentikan, disetiap saat saya mencoba belajar berbagai hal baru. Dari bacaan, dari seminar, dari berdiskusi dengan banyak orang, bahkan ketika saya menuliskan berbagai artikel ini, saya pun sedang melakukan pembelajaran pada diri sendiri.

Sayang memang , ketika dunia pendidikan kita terkadang seperti tidak fokus untuk mencapai tujuan dari suatu pendidikan.Bahkan sangat miris melihat negeri ini yang sebenarnya memiliki banyak ilmuan tetapi mereka semua mengabdikan diri di Negara lain. Negeri ini masih belum menghargai keilmuan mereka, tidak memiliki kemampuan untuk memberikan fasilitas bagi penelitian mereka.

I have had dreams and I have had nightmares, but I have conquered my nightmares because of my dreams ~ Jonas Salk

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x