Mohon tunggu...
Hasyim Ashari
Hasyim Ashari Mohon Tunggu... Hanya orang biasa yang lahir di Indonesia

Travel Enthusiast - Broadcasting '19 - Jurnalis - IG hasyimashar23 - Badminton Blogger

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Setelah Menjuarai All England 2020, Apakah Praveen/Melati Mampu Mematahkan Mitos Kutukan Olimpiade?

9 Juni 2020   10:53 Diperbarui: 9 Juni 2020   13:27 47 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Setelah Menjuarai All England 2020, Apakah Praveen/Melati Mampu Mematahkan Mitos Kutukan Olimpiade?
(doc: Badminton World TV)

           

Pasangan ganda campuran Indonesia Praven Jordan/Melati Daeva Oktavianti berhasil keluar sebagai juara dalam turnamen All England 2020 setelah berhadapan dengan ganda campuran asal Thailand yaitu Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taeratanachai dalam 3 pertandingan dengan skor 21-15. 17-21, 21-8 di partai final pada 5 Maret 2020.

 Gelar All England tahun 2020 ini merupakan gelar pertama bagi ganda campuran Praveen/Melati sejak mereka di pasangkan tahun 2018 silam. Sementara itu, untuk Praveen Jordan merupakan gelar kedua setelah sebelumnya ia sempat menjuarai All England bersama Debby Susanto di tahun 2016. Praveen/Melati untuk selanjutnya akan menargetkan Emas Olimpiade Tokyo tahun 2021 mendatang.

Sejak 2 tahun terakhir, sektor ganda campuran sangat didominasi oleh para pemain asal Tiongkok. Hal itu terlihat dengan kokohnya dua pasangan di tangga peringkat 1 dan 2 dunia, mereka adalah Zheng Siwei/Huang Yaqiong di peringkat 1 dunia serta Wang Yilyu/Huang Dongping di peringkat 2 dunia. Dominasi kedua pasangan ini terbukti sangat merepotkan bagi ganda campuran negara lain apalagi jika melihat performa Zheng Siwei/Huang Yaqiong yang sering keluar sebagai juara di setiap turnamen BWF.

(doc: Badminton World TV)
(doc: Badminton World TV)
Namun sercercah harapan muncul dari salah satu pasangan ganda campuran asal Indonesia yakni  Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti yang berhasil mematahkan dominasi Tiongkok di sektor ganda campuran. Praveen/Melati menarik perhatian para pecinta bulutangkis karena telah mengalahkan 2 pasangan ganda campuran terbaik asal Tiongkok yaitu Zheng Siwei/Huang Yaqiong dan Wang Yilyu/Huang Dongping di ajang turnamen Denmark Open tahun 2019. Dan kemenangan akhirnya diraih oleh Praveen/Melati.

Tidak sampai disitu, pada kejuaraan French Open 2019 yang di gelar pada tanggal 22-27 Oktober 2019 Praveen/Melati kembali menorehkan tinta emas karena sukses menumbangkan pasangan ganda campuran peringkat 1 dunia yakni Zheng Siwei/Huang Yaqiong di partai final dalam 3 pertandingan dengan skor 24-22, 21-16, 21-12. Tentu ini menjadi catatan yang baik bagi karir atlet bulutangkis Praveen/Melati di sektor ganda campuran Indonesia dan berpeluang luas untuk memenangkan turnamen BWF selanjutnya.

(doc: Badminton World TV)
(doc: Badminton World TV)
Di sisi lain Praveen/Melati juga terhalang oleh kutukan Olimpiade yakni sejak tahun 1996 siapa saja pemain di sektor ganda campuran yang berhasil menjuarai All England, maka mereka tidak akan juara di Olimpiade. Praveen sendiri juga pernah merasakannya di tahun 2016 sejak berpasangan dengan Debby Susanto. 

Tidak sedikit yang mengatakan bahwa pasangan ganda campuran peringkat 1 dunia Zheng Siwei/Huang Yaqiong di sinyalir sengaja mengalah di kejuaraan All England demi bisa mencapai impiannya untuk meraih medali emas Olimpiade. Asumsi ini semakin menguat mengingat Zheng Siwei/Huang Yaqiong berhasil di taklukan oleh pasangan ganda campuran non unggulan peringkat 20 dunia yakni Robin Tabeling/Selena Piek asal Belanda.

Pada saat ini Olimpiade ditunda hingga tahun 2021 mendatang, peluang Praveen/Melati untuk bisa meraih medali emas Olimpiade semakin terbuka lebar. PBSI bahkan tak segan memberikan ultimatum kepada Praveen/Melati untuk bisa mencapai target medali emas di Olimpiade. 

Semoga Praveen/Melati memanfaatkan waktu libur ini sebagai kesempatan untuk berlatih lebih keras dan mengasah kemampuan mereka agar bisa mencapai target yang mereka inginkan dan mematahkan asumsi mitos kutukan Olimpiade tersebut. Ketika nanti waktunya tiba, semoga mereka bisa melanjutkan tradisi Indonesia meraih medali emas pada event akbar 4 tahunan tersebut mengikuti jejak senior mereka yang lebih dulu menjuarai Olimpiade yakni Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir tahun 2016 silam di Rio De Janeiro, Brazil.

VIDEO PILIHAN