Mohon tunggu...
Spongedictator
Spongedictator Mohon Tunggu...

Who are you? Who am I? Let's play!

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Si Gadis dan Si Jepang | Kisah Jugun Ianfu yang Dibalut Modern

3 September 2015   11:54 Diperbarui: 4 September 2015   12:53 0 3 0 Mohon Tunggu...

[caption caption="Sumber gambar: enggahome.wordpress.com"][/caption]

 

Aku percaya, ada beberapa hal yang yang ada di dunia ini yang sama sekali tidak patut dibagi kepada orang lain, sekalipun itu berwujud atau tidak. Seperti sebuah harta karun yang berada di dalam kotak pandora— jika dibuka, maka hal itu akan musnah, namun jika dibiarkan, akan tertimbun selamanya.

Begitupun dengan ingatan seseorang. Berbagai macam kenangan; baik itu pahit atau bahagia, hanya orang itu yang berhak menentukan apakah itu layak untuk dibagi atau tidak. Kita tidak bisa memaksanya.

Namun sepertinya aku berbeda. Aku dapat melihat kenangan itu di ujung kehidupannya.

***

Ia bernama Nenek Suhanah. Meski keriput telah menghiasi seluruh wajah, namun sisa-sisa kecantikan yang terpancar dari raut moleknya masih bisa dirasakan sampai sekarang. Seperti ketika ia tersenyum, maka kau bisa langsung mengerti betapa cantiknya ia puluhan tahun lalu.

“Selamat pagi, Nek Suahanah, makan dulu yuk. Hari ini Eri bawa bubur jagung, lho.” Aku memulai percakapan, meski aku paham betul ia tidak akan langsung meresponnya.

Nenek Suhanah memandangku seperti melihat seorang penjahat. Gestur defensif yang selalu dibuatnya ketika bertemu dengan orang asing membuatku sakit.

Aku mencoba bersabar. Dengan senyum simpul kuletakkan semangkuk bubur jagung di atas nakas. Sambil menunggu Nenek Suhanah bereaksi, aku sengaja mengambil sedikit jarak untuknya beradaptasi.

Detik demi detik berikutnya, ia mulai bisa menguasai diri. Ada sejumput perasaan lega ketika ia bangkit dari rebah dan duduk dengan nyaman di atas pembaringan.

“Eri,” panggil Nenek Suhanah. Dia tersenyum dan aku membalas dengan ikut mendudukan diri di atas kursi sebelahnya.

“Bubur jagungnya enak, lho. Ini Eri sendiri yang buat.” Aku mengambil kembali mangkuk bubur itu dari atas nakas. Uap panas yang masih mengepul serta harum rempah-rempah yang tercium sepertinya mulai menggugah seleranya.

“Pasti, Om Farhan juga bantuin kan?” dua alisnya yang sudah putih semua berkedut lucu.

“Iya. Om Farhan juga ikut bantu,” kataku setengah tertawa sambil menyendokkan bubur jagung itu lalu meniupnya pelan.

Ketika aku baru saja ingin menyuapkan sesendok bubur itu, Nenek Suhanah tiba-tiba menahan tanganku.

“Dulu, waktu orang-orang Nippon di sini. Nenek cuma dikasih makan nasi aking sekali,” kenang Nenek Suhanah sambil tersenyum kecut.

Aku berusaha untuk tidak menjatuhkan sendok yang tengah kupegang. Meski tanganku bergetar dan mataku tertutup kabut air mata, aku berusaha tegar.

“Dulu, Nenek pernah dijanjiin jadi penyanyi. Tapi nyatanya, Nenek dibawa ke tempat Cikadha—mucikari.”

***

Malamnya, sama seperti beberapa hari belakangan yang kualami, mimpi buruk itu datang lagi. Aku menggigil tidak berdaya. Apa yang kulihat seperti neraka.

Aku melihat beberapa orang anak-anak gadis belia yang diseret paksa dan ditodong oleh serdadu-serdadu Jepang kemudian dimasukan ke dalam kamar-kamar dengan pencahayaan remang-remang.

Di sepanjang langkah yang kutempuh, suara-suara memilukan terdengar. Aku sungguh tidak ingin mendengarnya, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa.

“Tolong!”

Aku terkesiap. Aku mengenali suara itu.

Nenek Suhanah, terlentang tanpa busana dan dikelilingi oleh tiga serdadu Jepang dengan senjata di tangan.

Aku menutup mulut dan berusaha untuk tidak mengeluarkan isi perut ketika tiga orang Jepang itu menekan-nekan perut gendut Nenek Suhanah dengan senjata mereka.

Entah sudah berapa kali Nenek Suhanah menjerit dan meronta-ronta, namun mereka tidak juga melepaskannya. Darah merah pekat merembes ke mana-mana.

“Jangan!”

Aku tercekik saat mendengar lolongan Nenek Suhanah yang tertahan di tenggorokan.

Sudah cukup. Jangan diteruskan. Tapi percuma, aku bahkan sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri lagi setelah seonggok daging merah yang masih menggeliat-geliat keluar dari rahim Nenek Suhanah.

Aku terpaksa harus merangkak turun dari ranjang untuk sampai di meja panjang tempat di mana kuletakkan obat penenang. Dengan tangan gemetar, aku menuangkan beberapa pil putih itu ke telapak tangan lalu menelannya dengan cepat.

Di dalam keheningan kamar, aku menangis dalam diam, memeluk lutut dan menundukkan kepalaku dalam-dalam.

***

Jika bagi sebagian anak muda, panti werda adalah tempat yang benar-benar harus dijauhi, seakan-akan sebuah tempat sumber infeksi, namun bagiku ini surga.

Meski baru dua minggu aku di sini, aku sudah banyak belajar berbagai macam makna kehidupan dari mereka. Meski mereka sudah renta dan kebanyakan sduah tidak dipedulikan lagi oleh keluarganya, namun mereka masih tetap bisa tersenyum sambil menunggu kematian menjemput.

Seperti pagi ini, aku tersenyum sambil mendorong troli ketika beberapa orang veteran menyapa. Mereka masih terlihat gagah. Di balik punggung bungkuk dan tubuh yang hanya dibungkus oleh kulit yang mengering, mereka masih tetap menyimpan jiwa muda yang luar biasa.

Mereka, seorang pejuang perang tanpa nama, yang pastinya telah terlupakan oleh sejarah.

Setelah beberapa kali bertegur sapa, akhirnya aku sampai juga di depan kamar Nenek Suhanah. Seperti biasa, aku pasti selalu mengetuk dulu pintu berpelitur abu-abu itu sebelum masuk ke dalam.

Senyumku merekah saat aku mendapati Nenek Suhanah tengah duduk tenang di atas tempat tidur. Sepertinya ia baru selesai mandi, terlihat dari handuk miliknya yang masih tersampir di ujung ranjang.

“Selamat pagi,” aku menyapa sambil membuka gorden dan juga jendela. “Nenek, tidurnya nyenyak?”

Nenek Suhanah tidak segera merespon. Tatapan yang diberikannya masih sama, sikap defensif itu masih ada. Kalau sudah begini, aku hanya bisa memberikan sedikit ruang baginya untuk mengenali diriku.

“Eri,” panggilnya setelah beberapa detik berlalu dalam kebisuan.

“Ya, Nenek.” Aku mendorong troli makanan mendekati ranjangnya. “Hari ini ada sayur bayem. Kesukaan Nenek,” kataku sambil mendudukan diriku di sampingnya.

Kulihat mata Nenek Suhanah berkilat gembira.

“Nenek hari ini mau jalan-jalan habis makan?” tawarku dengan tangan yang sibuk membuka penutup mangkuk dan kotak makanan.

Nenek Suhanah mengangguk lalu mengerling pada buntalan benang rajut yang teronggok di atas nakas.

“Wah, Nenek sekarang lanjutin rajutannya? Sekarang mau ngerajut apa?” aku menunggu jawaban darinya dengan sumringah. Namun, seketika senyumku luntur saat tanganku disentuh olehnya.

Aku terpaksa meletakan mangkuk sarapan Nenek Suhanah ke atas nakas.

“Kenapa, Nek?” tanyaku dengan suara bergetar. Dapat kulihat gurat kesedihan yang terpancar dari mata indahnya.

“Nenek, mau buat baju hangat buat Ogawa Sensei.”

“Siapa itu, Nek?” tanyaku ringan sambil menyuapinya dan menunggu dengan sabar sampai Nenek Suhanah menelan makanan yang masuk ke dalam mulutnya.

Wong Nippon itu semuanya jahat. Tapi Ogawa Sensei baik. Dia dokter yang sembuhin nenek.”

Saat itu, aku yakin sekali dapat melihat perasaan sakit hati, marah dan rindu di dalam setiap tutur katanya.

***

Aku sengaja membungkus tubuhku dengan dua selimut tebal saat gelombang dingin itu datang. Aku menggigil hebat. Aku benar-benar tidak bisa lagi membedakan yang mana realita dan halusinasi. Bagiku semuanya sama, membaur menjadi satu adegan dalam teater realis; ada percakapan, ada tempat, dan ada dua orang dengan gender berbeda.

“Tomoe-san.”

“Saya bukan Tomoe. Saya Suhanah.”

Laki-laki itu berkacamata dan berambut belah tengah. Wajahnya sangat oriental dengan mata sipit menyerupai bulan sabit. Serta, dapat kulihat Nenek Suhanah muda yang tengah terbaring tak berdaya di atas bangsal.

“Yang tadi keluar dari dalam perut saya, itu jabang bayi kan?”

Aku terhenyak saat mendapati wajah tenang Nenek Suhanah muda. Apakah dia sudah ikhlas dengan kematian anaknya atau karena memang sudah mati rasa?

Kemudian aku dapat melihat laki-laki itu mengangguk.

“Nggak apa-apa. Saya juga nggak tahu siapa bapaknya. Semua Nippon itu jahat. Mereka bejat.”

Laki-laki Jepang itu hanya diam. Aku berani yakin kalau dia sama sekali tidak mengerti apa yang telah diucapkan oleh Nenek Suhanah muda.

“Maaf.”

“Kamu janjinya mau bikin negara saya merdeka. Tapi apa buktinya? Kamu samanya kayak Wong Londo. Kamu penjajah.”

“Maaf.”

“Saya benci Nippon.”

“Maaf.”

Entahlah, aku berpikir hanya kata “maaf” yang laki-laki itu tahu.

“Saya mau mati aja. Saya ini dari keluarga priyayi. Saya bukan orang nakal. Bunuh saya aja sekarang.”

Aku melihat tubuh Nenek Suhanah muda berguncang. Tangisnya pecah dan laki-laki Jepang itu tidak berbuat apa-apa.

“Saya Hideyoshi Ogawa, saya dokter dan saya tidak bisa bunuh orang.”

Aku terperangah saat laki-laki Jepang itu bicara. Ternyata ia cukup mampu untuk berkata dan mengerti Bahasa Indonesia.

“Semua salah saya. Saya belum suntik kamu dulu. Saya minta maaf. Kamu bisa bunuh saya sekarang.”

Aku bisa melihat Nenek Suhanah muda berdecak di sela-sela tangisnya.

“Kalau saya bunuh kamu. Untungnya buat saya apa? Saya masih jadi jugun ianfu[1].”

“Saya dokter, saya bisa tunjukin kamu jalan keluar.”

Setelah laki-laki Jepang itu berkata, seketika semuanya berubah putih. Rasanya sangat sakit dan pedih. Aku terpaksa harus menutup mata untuk menghalau kuatnya sinar yang masuk ke dalam retina.

Aku memutuskan untuk membuka mata ketika suara Nenek Suhanah mendobrak pendengaranku.

Tempat yang semula kulihat kini berubah. Sebuah ruang rawat dan juga bangsal-bangsal yang berjejer kini tergantikan oleh rumah-rumah rakyat.

Aku dapat melihat Nenek Suhanah muda bersama dengan beberapa gadis-gadis muda lain berlari menelusuri jalan setapak hingga sampai di dekat sebuah pasar. Melihat wajah-wajah bahagia mereka (terutama Nenek Suhanah) membuatku tersenyum lega.

Namun sayangnya, baru beberapa saat mereka menghirup udara kebebasan, tiba-tiba saja pesawat-pesawat Jepang menjatuhkan bomnya di sana. Semua orang berteriak dan tiarap. Aku yang baru pertama kali merasakan kekejaman medan perang, dilanda tremor hebat.

Ketika itu juga aku menyaksikan puluhan mayat berserakan akibat bom. Rintihan serta lolongan orang-orang kesakitan benar-benar dapat kurasakan. Kengerian di sana membuatku terguncang.

Di antara huru-hara bom yang meledak, saat itu aku masih bisa menyaksikan Nenek Suhanah dan gadis-gadis lain selamat. Mereka berlari tanpa henti menuju desa terdekat sambil berharap akan ada orang yang mau membantu mereka.

Sayangnya, kenyataan pahit harus dihadapi oleh Nenek Suhanah muda. Tidak ada satu pun orang pribumi yang mau menolong mereka dengan alasan takut jika mereka diketahui oleh pihak Jepang.

Di tengah keputusasaan, beberapa gadis yang ikut kabur bersama Nenek Suhanah muda memutuskan diri untuk kembali menjadi seorang jugun ianfu. Mendengar hal itu, jelas-jelas Nenek Suhanah marah dan nyaris menampar mereka.

“Kalo sampeyan mau jadi orang nakal lagi, ya sudah balik lagi sana! Aku sudah ndak mau lagi jadi budak Nippon! Aku lebih baik mati waktu dibom tadi daripada harus melacur!”

Aku bisa menyaksikan Nenek Suhanah murka.

Selama beberapa saat, mereka semua dilanda keheningan. Kebingungan, kelaparan, dan rasa putus asa terkadang membuat akal sehat hilang dan itulah yang kusaksikan di sana.

Ternyata, sebagian besar gadis yang ikut melarikan diri bersama Nenek Suhanah muda malah memutuskan untuk kembali menjadi budak orang-orang Jepang.

Dadaku seperti dicubit saat mengetahui hal itu. Namun untungnya, di bawah tekad yang kuat, Nenek Suhanah muda terus memantapkan hati untuk keluar dari jeratan orang-orang Jepang yang tidak bermoral.

Waktu terus bergulir sangat cepat hingga adegan demi adegan yang terlintas di depan mataku berlalu tanpa bisa kuingat dengan jelas. Namun satu yang aku tahu, Nenek Suhanah dan beberapa gadis yang mengikutinya, akhirnya bebas.

Aku tersenyum lega saat mengetahui itu. Namun sayangnya, aku terpaksa harus menyaksikan kekejian sekali lagi.

Ternyata, jalan yang harus dilalui Nenek Suhanah muda tidaklah semulus itu. Meskipun dia sempat bebas, serdadu-serdadu Jepang suruhan Cikadha yang diam-diam mengikuti mereka akhirnya berhasil menculik mereka dan membawa mereka kembali.

Aku menutup mata dan tidak berani melihat hal apa yang mereka lakukan kepada Nenek Suhanah muda dan teman-temannya. Yang kudengar hanya lolongan kesakitan dan jerit tangis pilu menyayat hati.

***

“Tomoe-san.”

Suara laki-laki itu lagi.

Aku langsung membuka mata ketika mendengar suara laki-laki jepang itu memanggil nama Jepang Nenek Suhanah.

Yang kulihat sekarang benar-benar membuat hatiku teriris. Kondisi Nenek Suhanah muda begitu mengenaskan dengan luka lebam di sana-sini dan dokter Ogawa-lah yang berbaik hati mengobati semua luka-lukanya.

“Kamu kenapa obatin saya?”

Nada yang terdengar dari suara Nenek Suhanah muda ketus sekali dan aku mengerti kenapa ia bersikap begitu. Siapapun juga pasti akan berlaku begitu kepada penjajah.

“Saya dokter.”

“Kamu Nippon penjajah.”

“Maaf.”

“Maaf saja ndak bisa bikin negara saya merdeka!”

Aku dapat melihat laki-laki Jepang itu mengoleskan salep pada permukaan kulit tangan Nenek Suhanah yang membengkak.

“Saya bukan tentara. Saya dokter, jadi saya tidak bisa kasih negara kamu merdeka.”

Nenek Suhanah meludahi wajah laki-laki Jepang itu dan aku cukup terkejut dengan keberaniannya.

“Kalian semua mati saja!”

Dapat kulihat wajah laki-laki Jepang itu mengeras. Aku sudah was-was kalau dia melakukan kekerasan lagi pada Nenek Suhanah.

Namun sepertinya hal itu tidak terbukti. Bukannya marah, ia malah tersenyum lembut dan ramah.

“Kalau nanti negara kamu merdeka. Kamu mau janji buat tunggu saya, Suhanah-san?”

Itu pertama kalinya aku mendengar laki-laki Jepang itu memanggil nama asli Nenek Suhanah.

***

Aku nyaris bangun kesiangan lantaran menelan pil penenang melebihi batas. Aku bersyukur tidak melebihi dosis dan masih bisa membuka mata hari ini.

Seperti biasa, aku menjalani rutinitas pekerjaanku sebagai pengurus panti werda ini dengan senyuman, canda, dan tawa dari para penghuni di sini. Hal itu saja sudah cukup membuatku bersemangat sepanjang hari.

Menu masakan hari ini sangat spesial karena kata pemilik panti, seorang donatur dari luar negeri memberikan bantuan yang sangat besar. Aku yakin semua penghuni panti ini, terutama Nenek Suhanah, akan merasa sangat bahagia.

Sambil mendorong troli makan, aku bersiul-siul kecil melewati beberapa lansia yang sedang berolahraga. Aku menyapa mereka lalu kembali melanjutkan langkahku menuju kamar Nenek Suhanah.

Aku mengetuk pintu dua kali kemudian masuk ke dalam.

“Selamat pagi,” sapaku riang. Tapi kemudian senyumku hilang ketika diriku sama sekali tidak mendapati Nenek Suhanah di dalam kamarnya.

Ini aneh. Sepengetahuanku, Nenek Suhanah jarang sekali keluar kamar di pagi hari. Ia biasa akan berjalan-jalan atau sekedar bercengkerama bersama lansia lain setelah aku memberinya sarapan.

Aku kemudian keluar kamar lagi. Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru dan berharap kalau Nenek Sunahah tidak pergi jauh.

“Eri, cari Suhanah?”

Aku spontan menoleh ketika seorang lansia memanggilku.

“Iya, Nenek Suhanahnya kok nggak ada ya?” tanyaku bingung.

“Suhanah lagi di kantor. Katanya, kedatangan tamu.”

Tamu?

Dahiku berkerut. Setahuku Nenek Suhanah sudah tidak punya keluarga lagi—bahkan yang kutahu dia sudah dibuang sejak lama oleh keluarganya.

“Oh, gitu ya? Makasih ya, Nek Arsih.” Aku pamit kepada Nenek Arsih untuk segera pergi menuju ruangan pemilik panti.

Aku berlari dan benar-benar melupakan troli makanan yang kutinggalkan di depan kamar Nenek Suhanah. Firasatku mengatakan pasti akan terjadi sesuatu.

Sesampainya di sana, seperti ada sesuatu yang menahanku. Tanganku yang tadinya ingin membuka kenop pintu tertahan begitu saja. Apalagi aku dapat mendengar suara Nenek Suhanah yang dibalut dengan kegembiraan dan rasa rindu yang membuncah.

“Suhanah-san. Bagaimana kabarnya? Saya akhirnya ketemu kamu lagi.”

Karena tidak bisa membendung rasa penasaranku, aku terpaksa mengintip dari balik jendela yang terbuka dan keterkejutanku bertambah ketika melihat bias dan rona gembira di wajah Nenek Suhanah. Terlebih lagi kini seorang laki-laki renta asing juga berada di dalam sana.

Aku sangat mengenali wajah laki-laki asing itu.

Mungkinkah…,

Mungkinkah itu Ogawa Sensei?

“Sekarang negara kamu sudah merdeka. Apa kamu masih benci Nippon?”

Nenek Suhanah tidak segera menjawab dan aku menunggu dengan tidak sabar.

“Sejujurnya, saya masih benci Nippon. Saya benci orang-orang yang sudah perkosa saya dulu. Tapi, saya sudah ikhlas karena negara saya sudah merdeka sekarang. Saya harap Nippon tidak lagi menjajah Indonesia.”

Aku terenyuh mendengar ucapan Nenek Suhanah. Seandainya saja gelar pahlawan bisa kuberikan untuknya, pasti dia sudah memiliki gelar itu sekarang. Hatinya begitu tulus dan baik untuk memaafkan penjajah seperti Jepang.

Sambil bersandar aku kembali mengingat potongan-potongan ingatan Nenek Suhanah yang terlihat olehku. Semuanya menyakitkan. Kalau aku menjadi dirinya, aku yakin aku tidak akan pernah bisa bertahan lama.

Entah itu aku yang langsung mati akibat digugurkan kandungannya dengan paksa atau bunuh diri setelah diperkosa.

Nenek Suhanah benar-benar pahlawan yang tak bernama.

“Suhanah-san!”

Aku terlonjak kaget saat mendengar suara laki-laki Jepang itu berteriak. Aku dengan refleks masuk ke dalam.

Mataku terbelalak saat mendapati tubuh Nenek Suhanah yang tergeletak tak berdaya di atas sofa. Dengan cepat aku berlari keluar untuk memanggil pemilik panti, Om Farhan, dan juga petugas kesehatan.

Ya Tuhan. Semoga ini bukan pertanda.

Ya Tuhan. Aku mohon izinkanlah Nenek Suhanah untuk berbahagia sedikit lagi saja.

Sayangnya, mau seberapa banyak pun doa yang kupanjatkan. Nyawa tetaplah berada di tangan Tuhan. Aku hanyalah manusia biasa yang tidak punya daya dan upaya.

Hari itu aku menangis tersedu-sedu mengiringi kepergian Nenek Suhanah ke tempat yang lebih layak. Aku yakin dia akan bahagia. Dia pasti bahagia dan melupakan semua penderitaannya di dunia.

***

Satu hari setelah pemakaman Nenek Suhanah, aku yang tengah termenung sendiri dikagetkan dengan kedatangan Ogawa sensei. Dia yang kutahu telah membantu Nenek Suhanah dulu tersenyum padaku.

“Saya suka Indonesia,” katanya sambil mendudukan dirinya di sebelahku.

Aku melirik tanpa minat. “Anda bisa bahasa Indonesia?”

Kulihat ia mengangguk.

“Saya sudah cari Suhanah-san tujuh puluh tahun.”

“Lama sekali. Kenapa Anda cari Nenek Suhanah?”

“Karena saya punya dosa. Saya salah. Dulu, saat Jepang kalah. Saya pulang ke Jepang. Saya sebetulnya ingin kembali ke Indonesia, tapi karena saya harus bantu dokter-dokter di sana untuk korban bom. Saya tidak bisa. Saya juga harus menikah.”

Aku sebenarnya sempat bingung dengan ucapannya, logat Jepangnya begitu terasa. Tapi aku cukup salut dengan kelancarannya berbahasa Indonesia.

“Lalu, sensei setelah ini mau ke mana?”

“Kalau bisa saya mau minta maaf ke semua gadis yang sudah Jepang paksa jadi baishunfu[2].”

“Tapi mereka pasti sudah mati.”

“Saya tahu. Saya juga pasti sebentar lagi juga mati. Saya harap bisa reinkarnasi jadi orang yang baik. Saya sudah belajar Bahasa Indonesia lama dan saya harap saya bisa bicara lama sama Suhanah-san.”

Aku tersenyum melihat kesungguhan di matanya. Aku yakin selama ini dia sudah susah payah mecari mereka—terkhusus untuk Nenek Suhanah, yang bahkan jejaknya sebagai pahlawan tanpa nama bagai hilang ditelan bumi.

“Nenek Suhanah sudah maafin sensei.

Sebuah senyuman terulas di wajahnya. Aku yakin sekali Nenek Suhanah juga menyetujui ucapanku.

Selamat jalan Nenek Suhanah. Semoga kau tenang di sisi-Nya.

 

========================================================

a/n: Cerita ini sengaja dibuat untuk mengenang para Jugun Ianfu yang seakan terlupakan oleh sejarah, terutama sejarah Indonesia. Saya harap mereka bisa menikmati masa tuanya tanpa harus menanggung malu karena disebut-sebut sebagai ‘Bekas Jepang.’

 

[1] Istilah yang digunakan untuk merujuk kepada wanita (bahasa Inggris comfort women) yang menjadi korban dalam perbudakan seks selama Perang Dunia II di koloni Jepang dan wilayah perang.

[2] Pelacur

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
KONTEN MENARIK LAINNYA
x