Mohon tunggu...
hanny kurnia
hanny kurnia Mohon Tunggu... Freelancer - Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Political Science. Part time blogger.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Pembentukan Karakter Kepemimpinan Berbasis Nasionalisme ala Ki Hadjar Dewantara

23 Oktober 2019   21:13 Diperbarui: 23 Oktober 2019   21:30 918
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

I. Pendahuluan 

Pendidikan sebagai bagian dasar dari setiap perjuangan bangsa Indonesia, yang terkadang terlupakan oleh para penerusnya. Pendidikan menjadi suatu perlawanan murni atas kesengsaraan pada masa penjajahan dan suatu titik awal untuk melangkah dimasa depan. Pendidikan menjadi kekuatan moral dalam setiap perlawanan baik masa penjajah hingga masa sekarang. Kekuatan moral yang menjadi perjuangan untuk menentukan nasib bangsa Indonesia. Nilai-nilai luhur dan cita-cita terdapat dalam pendidikan yaitu berupa moral dan hak asasi manusia untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran.

Ki Hajar Dewantara, seorang Bapak Pendidikan juga Pahlawan Nasional yang melawan kolonialisme dengan pendidikan, meskipun lahir dari keluarga bangsawan sebagai anggota keluara Kadipaten Pakualaman dengan nama asli dan gelar bangsawan Raden Mas Soewardi Soejaningrat.

Bukan senjata laras panjang yang digunakan Soewardi untuk melawan kolonialisme pada saat itu, tetapi dalam diam. Raden Mas Soewardi Soejaningrat melawan kolonialisme melalui pendidikan, Soewardi Soejaningrat mendirikan pusat pendidikan untuk pribumi (sebutan belanda pada orang asli Indonesia pada saat itu) dan rakyat jelata untuk memperoleh hak yang sama seperti para priayi dan Belanda.

Pusat pendidikan bernamakan Perguruan Taman Siswa. Lawan Sastra Ngesti Mulya yang berarti dengan ilmu menuju kemuliaan. Perguruan Taman Siswa menjadi titik awal perjuangan pendidikan tanpa kelas. Perguruan taman siswa tidak hanya mengajarkan tentang ilmu pengetahuan pencerdas otak saja, tetapi juga ilmu ajaran hidup, yang sesuai dengan nilai-nilai agama masing-masing siswa di dalamnya, sehingga ketika diluar perguruan, tidak ada lagi sebutan "orang-orang Islam", "orang-orang Katolik" atau "orang-orang Kristen" tetapi dengan sebutan orang Taman Siswa yang dapat hidup membaur ditengah masyarakat dengan perbedaan-perbedaan ajaran agama.

Ki Hajar Dewantara melawan dengan pendidikan, karena dengan pendidikan menjadi salah satu perjuangan Indonesia menuju manusia merdeka bahkan suatu perjuangan bangsa Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan atas Belanda.

Perjuangan kemerdekaan bangsa harus didasari jiwa merdeka dan jiwa nasional dari bangsa itu, Dan untuk ini perlu penanaman jiwa merdeka yang harus dimulai dari sejak anak-anak. Hanya orang-orang yang berjiwa merdeka saja sanggup akan berjuang menuntut dan selanjutnya mempertahankan kemerdekaan. Syarat utama nya adalah pendidikan nasional dan jalannya ialah pendidikan rakyat, disamping pergerakan politik[1]. Pendidikan rakyat dengan merentaskan kebodohan dan pemisahan jurang kelas antara priayi dan rakyat jelata yang memang sengaja dibuat pada saat zaman kolonialisme di Indonesia.

Semboyan yang pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menjadi suatu tolak ukur dalam pandangan pendidikan di Indonesia "ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani"[2] yang berarti didepan memberikan teladan, ditengah membangun niat, dan dari belakang mendorong. Pengajar menjadi instrument penting dalam pendidikan, yaitu didepan memberikan teladan, saat bersama-sama membangun niat untuk belajar dan bangkit lebih baik, meskipun seorang murid mengalami kegagalan memberikan dorongan untuk tetap belajar dan memperbaiki kesalahan agar mengembalikan niat belajar kembali.

Ki Hajar Dewantara menjadi seorang Bapak Pendidikan dan Kebudayaan Nasional yang menjadi suatu simbol akan nasionalisme yang sesungguhnya. Kebudayaan menjadi landasan pendidikan, melalui kebudayaan maka akan membangun suatu bangsa yang bersifat kebangsaan dan cinta akan tanah air dan budaya Indonesia menjadikan manusia berkarakter dan berbudi luhur tinggi dengan jiwa yang nasionalis.

II. Pembahasan 

Indonesia di masa kontemporer seperti ini menjadi suatu hal rentan dalam membangun manusia yang berkarakter nasionalis disebabkan oleh globalisasi dengan masuknya budaya asing, dan kemajuan teknologi yang menjadi pisau bermata dua di zaman sekarang ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun