Humaniora

Udara atau Agama

3 Maret 2018   14:00 Diperbarui: 5 Maret 2018   11:29 434 0 1

Spiritus ubi vult spirat et vocem ejus audis, sed nescis unde veniat, aut quo vadat: sic est omnis qui natus est ex Spiritus

Kenapa kita ingin  membungkus udara dan seakan akan sudah memiliki seluruh jagad raya?

Kita melabeli angin dengan dengan pikiran sempit kuta dan mengira yang dihirup semua umat manusia selain kita adalah angin kepalsuan.

Menurut saya angin, udara yang kita hirup ini adalah hembusan nafas Tuhan. Seperti yang kita sudah tahu, Dia itu menghembuskan udara semua orang, gak peduli siapa kita, apa agama kita dan berapa rupiah didompet kita, semua menghirup udara yang sama.

Dan karena Dia berupa roh, maka kita cuma bisa merasakan kehadirannya, sama seperti udara, kita tahu dia ada dan menghidupi dan meresap kedalam seluruh tubuh manusia, tapi apakah kita tahu dari mana dan kemana angin kehidupan itu berhembus?

Dan kita tahu satu-satu nya kebutuhan yang kita perlukan tanpa rasa cuma udara, ketika kita mencoba mencapuri udara dengan rasa, itu cuma cara kita meracuninya, betapa unik udara ini, bukan?

Saya mencoba membayangkan kalau Tuhan kita itu serupa dengan udara, apakah kita akan membunuh sesama kita, apakah kita akan menunjuk sesama kafir dan bidah, sementara kita menyembah dan bersujud kepada Tuhan yang sama, Udara

Karena udara itu nafas Tuhan, ketika kita menunjuk sesama sesat dan bidah, itu sama aja menunjuk pada bayangan di kaca. Karena kita menghirup udara yang sama yang berasal dari Tuhan yang sama.

Kecuali yang kita hirup bukan udara, tapi ....