Mohon tunggu...
Fergusoo
Fergusoo Mohon Tunggu... Muda berbahaya

Membaca dan Menulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Keadaan, Oom, Keadaan!

30 April 2020   16:15 Diperbarui: 30 April 2020   16:11 26 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Keadaan, Oom, Keadaan!
Sumber gambar : Detik.com/ Fotografer : Agung Pambudhy

Memang kenapa kalau lulusan S2 bekerja sebagai ART? Salahnya dimana? Keadaan Omm Keadaan!!!

HKeadaan bagaimana? Ya begitulah. Dibawah kolong langit ini segala sesuatu bisa terjadi, seperti misalnya perempuan bisa hamil jika berenang dalam kolam renang  dengan laki-laki, nasi anjing tapi isinya makanan halal atau telur rebus disebut bisa mencegah penyebaran corona. Itulah fenomena bumi pertiwi yang kadang sulit dimengerti.

Pepatah tua ada berbunyi "Hujan emas dinegeri orang, hujan batu dinegeri sendiri, mending di lembur sorangan" atau "Makan tidak makan asal kumpul". Apa-apan tuh. Tiap masa memang memerlukan dalil dan pembenarannya masing-masing. Etdaaaah~~~

Begitupulah dengan kabar yang menyebut  bahwa seorang lulusan S2 melamar sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) disalah satu perusahaan yang bergerak dalam menyalurkan jenis ketenagakerjaan jenis ini. Memang salahnya dimana? Bukankah ia juga butuh makan.

Jangan langsung main hakim sendiri yah. Saya belum sampai pada titik final tulisan  ini.

Dalam pemberitaan detik.com, disebutkan disana bahwa LPK Tiara Kasih Bunda Irena mengaku kedatangan 2 pekerja dengan latar pendidikan cukup tinggi dengan waktu yang berbeda. "Yang satu S2, yang satu lagi sarjana. Itu mereka melamar loh."

Jika informasi ini bocor ke emak-emak kompleks, pastilah  jadi topik omongan yang super fantastis bersama kang sayur keliling.  Tapi sayang, kang sayurnya udah gak jualan karena corona. Ngebahasnya di WAG aja... Hiya hiya hiya...


Informasi ini cukup memutarbalikkan dogma kita yang selama ini berpegang teguh pada prinsip bahwa dengan sekolah kita bisa meraih impian. Menjadi orang besar, punya pendapatan selangit dan sudah barang pasti tidak susah mencari kerjaan.

Perihal ini tentu sedang menggambarkan kejadian yang sekarang ini nampak. Ekonomi yang sedang melambat karena gempuran wabah cobid-19 menyebabkan gelombang arus PHK yang tinggi. Dampaknya pun membuat orang-orang untuk sulit bekerja.

Alhasil, efek domino ini menyasar semua orang tanpa memandang latar belakang pendidikan dan keahlian.

Dan fenomena S2 melamar menjadi ART saya rasa menjadi momok yang menampar kita semua. Coba bayangkan orang yang level ilmunya sudah Magister harus rela turun gunung untuk menjadi pembokat dirumah orang-orang mewah.

Sebelum negara api (baca : virus corona)
menyerang, pada umumnya mereka para pemuja sarjana yang tinggal dikampung selalu mendewakan para lulusan pendidikan tinggi ini. Dikiranya setelah menjadi sarjana apalagi sudah menyandang magister akan dapat pekerjaan di kantor gedongan, perusahaan minyak, tambang agau semacamnya.

Jika kembali kekampung mereka sangat disegani. Bahkan mereka mendapat tempat duduk paling depan dalam setiap acara-acara sosial seperti pada pesta penikahan, sunatan hingga hari-hari besar lainnya.

Anomali pun terjadi. Memang dunia itu berputar dan akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka. Itulah fakta hari ini.

Lagipula menjadi ART dengan latar belakang pendidikan tinggi sepertinya menarik. Menarik kita untuk melihat, mungkin akan menjadi sebuah kolase kehidupan dan magnet bagi para magister magister lainnya yang mencoba pekerjaan yang satu ini.

Menjadi ART dengan gaji sesuai UMR bukanlah sebuah aib yang harus ditutupi. Setidaknya mereka yang bekerja halal demi keluarga dan bertahan hidup dari gempuran sulirnya ekonomi masih lebih teehormat ketimbang daei mereka yang berpura-pura jadi miskin agar mendapat bantuan.

Para sarjana dan magister yang baru saja menamatkan studinya di pendidikan tinggi beberapa bulan ke depan akan menghadapi masalah besar jika keadaan ini belum usai. Faktanya mereka bisa bersaing dengan para korban PHK untuk mendapatkan pekerjaan.

Corona berjalan, perkuliahan online terus lanjut dan phk satu demi satu, pelan tapi pasti muncul kepermukaan. Akhirnya menjamurlah para wisudawan-wisudawan yang entah akan diserap dan disalurkan kemana mereka.

Saat beban angkatan kerja berbanding terbalik dengan jumlah kesediaan lapangan kerja, maka bukan mustahil bila LPK akan terisi pelamar-pelamar yang latar pendidikannya lumayan mumpuni.

Semenjak wabah Covid-19 masuk ke Indonesia dan kondisi ekonomi makin berat, pelamar untuk menjadi ART hingga suster rumahan memang meningkat drastis. Jumlah pelamar yang masuk ke LPK yang berada di Bogor ini meningkat hingga 40% dari biasanya (Sumber : detik.com).

Tantangan kedepan justru akan semakin berat. Diwaktu yang sama pemerintah dan para pencari kerja harus putar otak untuk menyediakan lapangan kerja bagi generasi muda selanjutnya.

Program Kartu Pra Kerja mungkin bisa jadi alternatif sementara waktu bagi para calon sarjana dalam waktu yang dekat ini. Mengingat Presiden Joko Widodo menyebutnya sebagai jalan untuk menutupi kekosongan waktu luang pekerja untuk semakin produktif. 

Keadaan Oom Keadaan, yang tidak enak ini membuat semua orang harus sabar dan sadar bahwa pergolakan ekonomi yang melambat ini bukanlah alasan untuk memilih-milih pekerjaan. Semua harus dijalanidengan hati iklas. Walau kadang fakta mengkhianati impian.  Mau  dia S2 kek, S3 kek atau Stontong sekalian, keadaanlahn yang membuat ini semua. Ahh siall betullll!!!

VIDEO PILIHAN