Mohon tunggu...
Soni Herdiansyah
Soni Herdiansyah Mohon Tunggu... Mahasiswa Prodi Pendidikan IPS 2018-Universitas Pendidikan Indonesia

Selalu menginspirasi hakikat sejati untuk membangun negeri.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Berantas Pornografi Melalui Studi Patologi Sosial

7 Juni 2020   20:37 Diperbarui: 7 Juni 2020   20:40 32 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berantas Pornografi Melalui Studi Patologi Sosial
Ilustrasi pornografi. Gambar: Kompas Health

Zaman semakin maju,teknologi informasi semakin menunjukkan diri. Kondisi ini tak dapat kita hindari, namun suatu tantangan baru akan kelamnya dunia maya bila kita tidak dapat mengontrol diri.

Salah satu mata kuliah tambahan, bisa dibilang penguatan untuk mata kuliah Kajian Kemiskinan dan Kejahatan (K3) adalah Patologi Sosial. Menurutku, sangat cocok deh, soalnya Patologi Sosial adalah ilmu tentang penyakit sosial. Penyakit sosial yang ada di masyarakat umumnya kita kenal dengan permasalahan sosial. 

Nah, untuk dapat mengetahui kenapa terjadinya permasalahan sosial tersebut, yaitu melalui Patologi Sosial. Bila diibaratkan sih, seperti seorang dokter yang sedang memeriksa penyakit yang dialami oleh pasien.

Sudah hampir 2 bulan, presentasi secara online melalui aplikasi zoom berlangsung. Seperti biasa, Pak Arief Rakhman, S.E.,M.Pd., selalu mendampingi kami di setiap pertemuannya, salah saru dosen yang akrab dengan mahasiswanya dan bertanggungjawab.

Kemudian, presentasi yang disampaikan masing-masing kelompok mengenai Patologi Sosial di masyarakat. Jumlah kelompok seluruhnya ada 12 kelompok dengan tema yang berbeda.

Kelompokku mendapat materi Pornografi sebagai Patologi Sosial. Dengan urutan tampil ke-6 (kelompok 6). Semenjak aku mendapatkan materi ini, satu hal yang aku tahu mengenai pornografi ini adalah pikiran kotor. Dan, sejak saat itu aku pun mengetahui bahwa pornografi adalah Patologi Sosial yang harus diatasi karena dapat merusak moral masyarakat.

Melalui tulisan ini, aku ingin berbagi pengalaman menarik pada mata kuliah Patologi Sosial. Juga bagaimana cara kita menyikapi dan memberantas pornografi di Indonesia.

Yang aku pahami bahwa, pornografi termasuk ke dalam penyakit sosial di masyarakat, karena pornografi memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat. Hal ini telah di atur dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008.

Pornografi banyak bentuknya, ada yang berupa gambar, tayangan, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, animasi, gambar bergerak, gerakan tubuh, dan pesan lainnya yang dimuat melalui media komunikasi, seperti media sosial atau pertunjukkan di muka umum. Hal ini bisa memicu hasrat seksual seseorang, serta dikhawatirkan dapat memicu perbuatan terlarang atau pidana.
 
Nah, melalui mata kuliah Patologi Sosial ini setidaknya aku mendapat informasi mengenai pornografi tersebut, serta dapat mengetahui kenapa seseorang dapat terjerumus ke dalam pornografi tersebut.

Setelah mempelajarinya, aku jadi tahu kalau faktor pemicu seseorang terjerumus ke dalam perilaku pornografi itu karena dua faktor. Yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

1. Faktor internal

Faktor internal menyangkut kepribadian atau kontrol diri seseorang. Jadi, seseorang yang melakukan perbuatan pornografi karena terjadi kepribadian yang bermasalah, bisa jadi karena trauma, atau kurangnya keimanan dan pengetahuan agama.

2. Faktor eksternal

Faktor eksternal berkaitan dengan lingkungan, terutama lingkungan sosial dan budaya. Seseorang yang terjerumus ke dalam pornografi biasanya berada pada lingkungan sosial yang rawan dan kurang baik, salah pergaulan, dan sebagainya.

Itulah faktor pemicu seseorang terjerumus ke dalam perbuatan pornografi. Dan, bila tidak diatasi akan berdampak bagi kesehatan dan kehidupan seseorang. Yaitu, bila kecanduan pornografi dapat merusak lima bagian otak terutama Pre Frontal Cortex (PFC) yaitu bagian otak yang mengatur logika, mengendalikan emosi, serta berpikir. Lebih parahnya lagi, jika seseorang kecanduan pornografi dapat menimbulkan pergaulan bebas atau sex bebas dan menimbulkan penyakit menulat seperti HIV/AIDS.

Lalu, bagaimana cara memberantas pornografi tersebut?

Tentu saja bisa, yang jelas penanggulangan pornografi bisa dilakukan dengan cara melakukan sosialisasi akan bahayanya pornografi, kemudian promosi stop kenakalan remaja, dibantu aparat dengan melakukan pendekatan agama dan sosial, serta mencegah beredarnya VCD atau video porno di internet.

Upaya penanggulangan pornografi tersebut tidak akan berhasil tanpa ada bantuan dari semua pihak. Terutama kesungguhan dan kontrol diri masing-masing individu untuk menghindari pornografi.

Demikian pengalamanku selama presentasi mata kuliah Patologi Sosial secara daring dengan materi Pornografi. Semoga dapat dipahami dan kita bisa menjadi agen penanggulangan pornografi di lingkungan masyarakat. Kita stop pornografi sekarang juga.

VIDEO PILIHAN