Mohon tunggu...
SofialWidad
SofialWidad Mohon Tunggu... Latahzan innallaha ma'ana

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Perempuan yang Takut Gagal

8 April 2021   08:17 Diperbarui: 8 April 2021   08:28 36 1 0 Mohon Tunggu...

Hari ini langit sangat cerah matahari bersinar dengan terangnya, burung-burung berkicau, dan kucing mengeyong dengan manjanya di pelataran belakang rumah. Sudah sampai hari ini Zafa menghabiskan harinya hanya dengan bermalas-malasan dirumah, sudah banyak waktu yang terlewatkan dengan hanya berdiam diri dirumah memikirkan banyak cara yang pada akhirnya terpatahkan oleh fakta diluar akal. Ya, delapan bulan sudah berlalu sejak acara wisuda membahagiakan itu. Hari itu banyak hal yang terjadi.

Seperti biasa pagi ini Zafa melakukan rutinitasnya yang setiap hari ia habiskan hanya didalam rumah, membantu ibunya memasak, membersihkan rumah, dan banyak tugas lainnya yang dilakukan oleh perempuan ketika dirumah.

“Za….. sudah bangun? Tolong jagakan Ara dong. Bisakan?” (Tanya mbak Laila kepada Zafa yang sendari tadi sibuk mengotak atik layar laptopnya) “iya mbak bisa, sebentar Zafa matikan laptop dulu.” Zafa dengan sigap mematikan laptopnya dan menuju kerumah mbak laila yang letaknya disamping rumah Zafa. “hemmmh, Ara…. Kamu sudah bangun? La la la… lihat lihat ini apa ya….” Menggoda bayi yang berusia sekitar 6 bulan “em, em,….” Bayi Ara tertawa, ya begitulah anak kecil gampang untuk merasa bahagia dengan hal-hal yang sangat sederhana bahkan hal itu ingin dirasakan kembali oleh sepertiku yang sudah dewasa.

Dewasa terlalu menakutkan untuk dibahas. (“hari ini aku akan mencoba lagi untuk mengirimkan surat lamaran pekerjaan, semoga lolos”) batin Zafa, entah akhir-akhir ini aku merasa ada yang salah dengan semua yang aku rencanakan. Kenapa semua gagal? Kenapa semua hasilnya tanpa jawaban?. Lama Zafa menatap langit lekat-lekat dengan memikirkan bagaimana cara Tuhan mengambil andil dalam hidupnya.

Bapak sendari tadi memerhatikan Zafa yang seperti orang bingung, bahkan seperti cangkang tanpa isi. Untuk beberapa hari ini kepercayaan Zafa hampir memudar kepada dirinya sendiri.”memang ada apa di langitnya? Apa yang sedang kamu pikirkan?” Pertanyaan itu seketika membuyarkan lamunan dan delusi Zafa yang panjang. “gak ada pak. Hanya melihat langitnya sangat cerah hari ini ya pak?” tersenyum yang bahkan serasa getir yang iya rasakan. “oya, bagaimana kabar surat lamaran-lamaran yang kamu kirim Za?” “apakah sudah ada panggilan?” sambungnya. Pertanyaan itu sederhana tetapi sungguh menjenuhkan, seolah memberi racun pada diriku.

Angin berhembus dengan lembut. Tapi, hari ini serasa angin itu tak lagi lembut. Aku terdiam tidak segera menjawab pertanyaan itu “hmmm… masih belum ada jawaban pak. Mungkin karena pandemi ini dan kebijakan pemerintah yang makin menyulitkan.” Jawabku singkat, Berharap pertanyaan-pertanyaan selanjutnya cepat diakhiri. Tatapanku serasa tak tertuju kepada apapun, berusaha keras mengendalikan kecamuk dalam diri. “em.. gitu. Iya memang sulit saat ini apalagi menghadapi keadaan yang seperti ini. Sabar.. pada saatnya akan sampai juga pada cita-cita kamu” menghela nafas. Hela nafas bapak serasa jawaban untukku ada rasa kecewa, ada rasa kasihan didalamnya. Dan semua itu menambah sesak dalam dadaku, menambah berat dalam pikirku. (“kenapa? Kenapa? Kenapa?”) pertanyaan yang selalu terlintas dalam benakku akhir-akhir ini.

Jalan setapak yang dipinggirnya ditumbuhi tanaman pagar menambah keasrian desa ini. Kota tak memiliki ini. Zafa berjalan menyusuri jalan setapak desa yang masih asri. Sesampainya ditoko “pak saya mau beli pulsa.” Sambil duduk di pelataran rumah bapak Ansori “oh, kamu fa. Iya sebentar saya ambil Hp ya” masuk kedalam rumah dengan segera. “isi berapa fa?” tanyanya “5000 pak” sembari aku menyebutkan deretan angka-angka nomor telepon.

Entah darimana pertanyaan itu datang “Fa.. kapan kamu nyusul temen-temen kamu?” seketika itu pertanyaan pak Ansori memecah pikiranku. “Nyusul kemana pak?” jawabku “nyusul nikah, Kamu kan udah hampir tua, udah lulus kuliah, dan dirumah terus. Apa kamu tidak mau nikah ataupun tunangan fa?” pertanyaan menohok pak Ansori yang tak memiliki perasaan itu terlontar juga. “ah… saya masih terlalu muda pak untuk mikirin hal semacam itu.” Aku menjawab sambil berlalu pergi.

Fakta yang tak bisa terelakkan. Memang teman-temanku sudah menikah dan sebagian sudah memiliki anak, bahkan ada yang dijadikan sebagai ajang berbangga-bangga oleh ibu-ibunya ketika perkumpulan gosip itu berlangsung. Ya, mereka bangga bahwa putrinya atau putranya menikah dengan keluarga kaya dan berada ketika semua kebutuhannya bisa terpenuhi. “ish…. Begitu banggakah mereka dengan semua itu?” gumamku kesal.

“Kasihanilah Aku.” ratapku sambil mendongakkan wajah kelangit, sepertinya aku terkena sindrom kekhawatiran berlebih. Zafa yang sendari tadi duduk menyendiri di pelataran belakang rumah seketika itu beranjak berjalan kedalam rumah menuju ke kamarnya. “kenapa aku tak bisa lagi menangis? Ash… ini terlalu menyebalkan, keadaan ini, kondisi ini, dan semunya terasa menyebalkan.”  Zafa Duduk termenung mencari semangat yang entah kemana hilangnya pagi ini.

Dunia menertawakannya. Perempuan yang memiliki mimpi besar, dunia mencemoohnya. Ketika dia stuck di tempatnya, ketika dia merasa tidak ada jalan keluar untuk dirinya melangkah. Dunia menyeretnya untuk keluar dan menjatuhkannya. Seolah perempuan itu tak pantas bermimpi tinggi, ketidak pantasan hanya karena dirinya seorang perempuan. “pikiran ini, hati ini, seluruh tubuh ini seperti bukan milikku lagi.” “iya, aku takut dunia mengatakan bahwa aku telah GAGAL” renungan ini akan bertambah lama sepertinya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x