Mohon tunggu...
Cerpen Pilihan

Aku Sayang Bapak

29 November 2018   02:04 Diperbarui: 29 November 2018   02:11 0 1 0 Mohon Tunggu...

"Kalau nggak enak?"

"Kamu yang makan," sahut Ibu yang sedang menyuapi Qorry dengan bubur ketan merah. Lagi-lagi kami tertawa kecil. Setelah daging habis, aku mematikan mesin dan mengganti pisau di mesin penggilingnya dengan pisau yang jaraknya pendek untuk memperhalus potongan-potongannya. Dan kuulangi dari awal.

"Mbah, pengen nanya, tapi jangan dimarahin, ya?" Hafizh menggenggam tepian mangkuk yang dia bawa untukku.

"Kenapa kok dimarahin? Mau nanya apa, ndhuk?" Mbah Putri membuat bumbu untuk daging gulung. Hafizh memandang ke arahku. Alisnya berkerut. Aku agak deg-degan mendengar apa yang akan dia katakan.

"Mbah, Mbak Zahra sama Mbak Zira tuh, kakakku bukan, sih?" bagaikan disambar petir aku mendengar pertanyaan itu. Mungkin Mbah Putri dan Ibu merasakan hal yang sama. Mbah Putri menghentikan kegiatannya sejenak, kemudian kembali melanjutkan. Ibu membawa Qorry ke depan rumah, menyusul Mbah Kakung yang duduk di depan kolam ikan.

"Ya kakakmu tho ndhuk. Lalu siapa kalau bukan kakakmu?" jawab Mbah Putri. Aku hanya diam. Jika aku menjawab, mungkin akan membocorkan yang sebenarnya. Hafizh mengerutkan dahi.

"Tapi kemarin aku denger Mbak Zira telpon sama Bapak! Padahal kan aku sama Qorry manggilnya Ayah!" bela Hafizh terhadap pernyataannya. Aku masih terus diam. Kuselesaikan tugasku menggiling daging. Mbah Putri terdiam. Tak ada pembelaan. Sudah aku peringatkan Zira. Pasti Mbah Putri marah besar dengan imajinasimu itu.

Mentari tenggelam di barat. Aku baru saja menyelesaikan ritual mandiku. Zira duduk di beranda depan sambil membaca majalah otomotif kesukaannya.

"Oi! Apa-apaan kamu telponnan sama Ilham pake panggilan Bapak segala?" aku merebut majalah yang dia baca. Zira mengerutkan keningnya.

"Tuh! Si Hafizh jadi nanya macem-macem sama Simbah!" aku duduk di sampingnya. Zira masih dengan tampang bingungnya mengeluarkan handphone dari saku.

"Bapak tuh bukan Ilham, Mbak! Bapak tuh Bapak! Bapak kita!" Zira berseru tertahan. Aku menghela nafas. Agak kesal dengannya.

"Sudahlah! Terima saja kita ini nggak punya Bapak!" aku beranjak meninggalkannya, tapi Zira menarik pergelangan tanganku. Aku menoleh.

"Sssstt! Dengar," Zira mengulurkan handphone-nya padaku. Aku mendekat.

"Hallo? Ada apa Zira, tumben telpon?" ada suara seorang laki-laki di ujung sana. Aku terkejut. Jantungku terasa berhenti 2 detik. Tak ada kata-kata yang bisa aku ucapkan. Zira menarik handphone-nya lagi.

"Pak, ini yang mau ngomong Mbak Zahra," ujar Zira. Aku masih saja tak bisa berkata apa-apa. Ini kenyataan? Atau hanya mimpi?

"Hallo Zahra, gimana kabarnya? Maaf ya, Bapak nggak telpon ke nomernya Zahra. Bapak masih takut nanti Zahra nggak maafin Bapak," aku mendengar suara itu mengalun begitu merdu di telingaku. Begitu indah dan terekam jelas di otakku. Tak terasa air mataku menetes membasahi pipi. Rindu yang selama ini kupendam seolah-olah membuncah dan surut.

"Ba-Bapak?" suaraku bergetar.

"Iya Zahra? Zahra mau panggil Bapak? Iya.. maafin Bapak ya? Selama ini nggak jenguk Zahra Zira. Selama ini Bapak cuma bisa ngeliatin Zahra Zira dari jauh.. Bapak masih terlalu takut buat deketin Zahra Zira. Bapak minta maaf Zahra.. Zahra mau maafin Bapak?" aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Aku tak sanggup menahan tangisku. Air mata terus bercucuran. Zira mengganti mode menjadi loudspeaker. Dia juga terlihat agak sembab.

"I-Iya Pak. Zahra maafin Bapak," ujarku akhirnya.

"Ya Allah, Zahra. Maafin Bapak, nak. Bapak sia-siain anak-anak Bapak. Bapak tinggalin Zahra Zira 15 tahun ini. Bapak nyakitin hati Ibu, Zahra, Zira, Mbah Putri, Mbah Kakung. Maafin Bapak. Bapak nyesel sia-siain kalian. Bapak nyesel lari sama wanita lain. Maafin Bapak, nak.. Maafin Bapak," cerita Bapak panjang lebar. Suara Bapak menjadi sedikit gemetar. Detak jantungku semakin cepat dan keras. Perasaan bahagia, sedih, marah, haru berbaur menjadi satu. Kini aku menemukan jawaban atas pertanyaanku selama ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3