Mohon tunggu...
Sofiyya Zhanzabila
Sofiyya Zhanzabila Mohon Tunggu... -

Love, Laugh, Learn, and Leap!

Selanjutnya

Tutup

Money

Asuransi? Percayakan Pada Sun Life Syariah

14 September 2014   06:31 Diperbarui: 18 Juni 2015   00:45 1427
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Apa itu Asuransi?

Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau bisnis di mana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa, properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan, kerusakan atau sakit, di mana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut.

Di dalam bahasa Arab, Asuransi dikenal dengan istilah at Takaful atau at Tadhamun yang berarti : saling menanggung. Asuransi ini disebut juga dengan istilah at Ta'min, berasal dari kata amina, yang berarti aman, tentram, dan tenang. Lawannya adalah al-khouf, yang berarti takut dan khawatir. (Al Fayumi, Al Misbah Al Munir : 21). Dinamakan at Ta’min, karena orang yang melakukan transaksi ini (khususnya para peserta ) telah merasa aman dan tidak terlalu takut terhadap bahaya yang akan menimpanya dengan adanya transaksi ini.

Namun, dari total penduduk Indonesia sebesar 240 juta jiwa, hanya sekitar 43,7 juta orang atau hanya sekitar 18 persen dari total penduduk Indonesia yang memiliki perlindungan asuransi jiwa. Dan dari 43,7 juta orang tersebut, hanya sekitar 11 juta orang atau hanya 4,5 persen dari total populasi yang memiliki asuransi jiwa individu. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya memiliki asuransi. Sebagian masyarakat bahkan tidak paham apa sebenarnya asuransi tersebut. Tidak sedikit pula yang justru memandang asuransi tidak ubahnya bisnis MLM yang mengeruk keuntungan besar dari anggotanya. Citra asuransi semakin buruk ditambah dengan maraknya penipuan oleh beberapa biro asuransi yang banyak memakan korban beberapa tahun terakhir. Dampak buruknya sangat banyak, di antaranya perceraian dan bunuh diri para nasabah. Siapa pula yang tidak depresi jika uang ratusan juta hingga milyaran tenggelam begitu saja tanpa pertanggung jawaban.

Saya sendiri pernah dihubungi langsung oleh seorang pegawai biro asuransi X melalui telepon. Pintarnya sang penelepon tersebut tahu semua data mengenai saya dan memastikan kalau saya adalah nasabah di sebuah bank Y. Tahu saya adalah seorang mahasiswi yang belum berpenghasilan, ia mengatakan bahwa saya tetap bisa ikut asuransi kesehatan yang ditawarkan dengan membayar premi 150 ribu perbulan saja. Pendaftarannya sangat sederhana, cukup dengan mengiyakan beberapa pertanyaan dari pegawai tersebut maka saya sudah resmi mengikuti asuransi tersebut. Tutur bahasanya yang runut dan santun, sejenak membuat saya terlena dan lupa bahwa uang beasiswa yang masuk ke rekening saya setiap bulan hanya 800 ribu. Jika dikurangi premi seperti yang sudah disebutkan tadi, tinggal berapa sisa uang yang bisa saya gunakan untuk mencukupi kebutuhan selama sebulan? Beruntung saya segera sadar dan memilih untuk memutus telepon.

Oleh karena itu agar kita tidak  tertipu asuransi bodong,  perhatikan 3C saat akan memilih jodoh asuransi, yaitu: cermat, cerdas dan cekatan. Jangan hanya karena keuntungan yang ditawarkan besar kita menjadi gelap mata, tergesa-gesa dan tidak bisa menilai bahwa keuntungan tersebut sebenarnya tidak masuk akal. Wajib hukumnya kita mencermati dan mempelajari jejak perusahaan asuransi yang akan kita percayai, pastikan mereka memiliki izin dan track record yang bagus.

Salah satu perusahaan asuransi yang sudah teruji prestasinya dalam membantu nasabah adalah Sun Life Financial, sebuah perusahaan jasa keuangan internasional terkemuka di dunia yang menyediakan beragam produk manajemen kekayaan dan perlindungan serta pelayanan kepada nasabah individu dan korporasi. Didirikan pada 1865, Sun Life Financial dan mitranya kini telah beroperasi di pasar-pasar utama di seluruh dunia, termasuk Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Irlandia, Hong Kong, Filipina, Indonesia, India, China, dan Bermuda. Sun Life Financial Indonesia dididirikan pada tahun 1995, adalah sebuah perusahaan swasta yang dimiliki oleh Sun Life Financial Inc, dengan distribusi yang kuat di 20 kota besar di Indonesia, juga lebih dari 5.000 tenaga penjualan.

Lalu pada Desember 2010, Sun Life meluncurkan bisnis syariah termasuk di dalamnya asuransi syariah. Adapun asuransi Syariah pertama kali di Indonesia baru muncul pada 24 Februari tahun 1994. Walaupun begitu, perkembangan asuransi Syariat jauh lebih pesat dari asuransi konvensional, karena sampai tahun 2005 telah tercatat 29 perusahaan, sehingga laju pertumbuhannya hingga 8% dalam satu tahun. Bahkan kini menjadi 34 perusahaaan lebih.

Beberapa penghargaan yang berhasil dikumpulkan unit syariah Sun Life adalah:

2013—Memenangkan 2 awards sebagai rangking 1 untuk Best Risk Management, dan rangking 3 untuk Best Islamic Life Insurance.

2014—Memenangkan rangking 1 untuk Best Risk Management, dan rangking 3 untuk The Most Profitable Insurance.

Hermawan Kartajaya: Perbedaan Syariah dan Konvensional

Siapa yang tidak mengenal sosok yang satu ini, seorang guru marketing dan sudah beberapa lama bergaul dengan praktisi keuangan syariah. Ia seorang Tionghoa, namun pengetahuan dan kemantapannya saat mengatakan Islam itu adalah agama rahmatan lil ‘alamin, patut diacungi jempol.

Ketika ditanya soal konsep marketing syariah, ia mengatakan bahwa marketing syariah itu mengajarkan orang untuk jujur pada konsumen atau orang lain. Nilai syariah mencegah orang (marketer) terperosok pada kelirumologi, yaitu marketing diartikan untuk membujuk orang belanja sebanyak-banyaknya. Atau marketing yang yang pada akhirnya membuat kemasan sebaik-baiknya padahal produknya tidak bagus. Atau membujuk dengan segala cara agar orang mau bergabung dan belanja. Pak Hermawan menyebutkan, dalam marketing syariah ada nilai-nilai yang harus dijunjung oleh seorang pemasar. Apalagi jika ia Muslim.

“Islam agama yang universal dan komprehensif. Guidance-nya lengkap. Ada petunjuk untuk seorang pedagang, kepala negara, seorang anak, panglima perang dan semuanya. Ada diatur secara lengkap. Di atas semua itu saya melihat Islam itu ajaran yang damai dan indah. Ajaran Islam bisa dipakai semua orang. Itu kesan saya dan mengapa saya mau mempelajari nilai Islam untuk dikembangkan dalam konsep marketing. Saya sekarang menjadi aktivis lingkungan dan nilai-nilai.” Ucap Pak Hermawan ketika ditanya pendapatnya tentang Islam.

Jika seorang pakar marketing Tionghoa saja bisa bangga dengan konsep syariah, mengapa kita yang Muslim justru diam-diam saja, dan masih mengikuti sistem Barat?

Apa Perbedaan antara Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional?

Yang dimaksud sebagai asuransi konvensional di sini adalah asuransi yang selama ini kita kenal. Ada beberapa perbedaan yang sangat kontras antara kedua tipe asuransi ini, di antaranya adalah:

Asuransi Syariah

Asuransi Konvensional

Dewan Pengawas

Ada

Tidak ada

Akad

Berdasarkan tolong-menolong

Berdasarkan jual beli

Investasi dana

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun