Mohon tunggu...
Surya Rianto
Surya Rianto Mohon Tunggu... Blogger, Jurnalis Ekonomi, Pecinta Badminton, dan Anime

Blogger, Jurnalis Ekonomi, Pecinta Badminton, Penggemar Anime dan Dorama Jepang.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Perjalanan Karier Taufik Hidayat, si Anak Ajaib

9 Juni 2019   12:13 Diperbarui: 9 Juni 2019   14:20 0 3 1 Mohon Tunggu...
Perjalanan Karier Taufik Hidayat, si Anak Ajaib
Taufik Hidayat. / Sumber foto : Yonex

Komentar Taufik Hidayat terkait pernyataan Hendri Saputra tentang Kento Momota telah memicu keramaian di dunia maya. Banyak warganet yang justru menilai negatif komentar taufik tersebut. Ada pula yang merespons dengan positif. 

Menariknya, beberapa warganet yang menilai aksi Taufik tidak sopan, tidak solutif, dan sebagainya mempertanyakan peforma sang legenda ketika masih aktif bermain. Bahkan, ada yang mempertanyakan konsistensi Taufik ketika aktif bermain hingga berani berkomentar seperti itu. 

Ada juga yang menyebut, kan Taufik cuma menang di Olimpiade 2004 dan Asian Games 2006, tetapi berasa legenda hidup banget

Nah, untuk itu, saya jadi gatel juga ingin menelusuri jejak karir Taufik Hidayat, si anak ajaib, yang menjadi peringkat satu dunia pada umur 17 tahun. 

Saya menuliskan detailnya di Suryarianto.id termasuk video pertandingan full Taufik pada Singapura Open 1999, Indonesia Open 2003, Olimpiade 2004, dan Asian Games 2006. 

Berikut jejak karir Taufik Hidayat :

Seperti dikutip dari situs resmi BWF, Taufik Hidayat mulai aktif bermain pada 1996. Kala itu, dia mengikuti kualifikasi Indonesia Open.

Dia pun berhasil memenangkan pertandingan kualifikasi melawan Hengky Irawan 15-12, 15-3. Namun, dari data BWF tidak ada pertandingan lanjutan yang dilakoni oleh pemuda berumur 15 tahun masa itu.

Pada 1997, Taufik mengikuti turnamen Malaysia Open. Sayangnya, langkah sang legenda harus kandas di babak pertama.

Dia dikalahkan oleh tunggal Denmark Jeroen Van Dijk lewat rubber set 15-7, 8-15, 13-18.

Kandas di Malaysia, Taufik mencoba berkembang lebih jauh di Indonesia Open 1997. Dia berhasil lolos hingga ke babak ketiga.

Sayangnya, di babak ketiga, dia dikandaskan rekan senegaranya Budi Santoso lewat rubber 15-7, 9-15, 5-15.

Karirnya mulai memberikan sinyal ketika umurnya memasuki 16 tahun. Dia berhasil lolos ke semi final Asia Championship.

Di semifinal, Taufik dikalahkan Hermawan Susanto dua set langsung 9-15, 7-15.

Gelar Pertama di Negeri Jiran

Taufik muda mengikuti turnamen tahunan Malaysia Open 1998. Namun, dia belum mampu melangkah lebih jauh di turnamen internasional series [dulu belum ada tingkatan turnamen seperti super series dan sebagainya].

Dia harus mengakui keunggulan tunggal tuan rumah Rashid Sidek lewat rubber set 15-11, 5-15, 8-15.

Kegagalan di Malaysia menjadi tonggak awal karir cemerlang sang legenda, Taufik berangkat ke Brunei. Di Negeri Jiran [tetangga] itu, Taufik berhasil meraih gelar pertamanya.

Di Brunei Open, Taufik muda berhasil menjadi kampiun setelah mengalahkan tunggal asal China Dong Jiong lewat rubber set 12-15, 15-3, 15-9.

Selepas juara di Brunei Open 1998, Taufik tidak menjuarai turnamen apapun lagi pada tahun tersebut. Prestasi tertingginya meraih perunggu di Asian Championship 1998 dan semifinal Indonesia Open.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5