Zulfikar Akbar
Zulfikar Akbar Jurnalis

Peminat isu-isu sosial politik dan humanisme | Pemilik tularin.com

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Reuni Demi Prabowo, Media Jadi Pendosa

6 Desember 2018   20:37 Diperbarui: 6 Desember 2018   21:13 1128 9 4
Reuni Demi Prabowo, Media Jadi Pendosa
Prabowo masih memiliki masalah dalam membangun hubungan dengan media yang sejatinya corong penting untuknya berburu istana - Foto: Merdeka.com

Beberapa hari belakangan, dunia media sedang didudukkan di kursi pesakitan. Sebagai pendosa, karena ketika sekelompok orang yang diklaim mencapai belasan juta yang memadati Monumen Nasional dan sekitarnya, katanya mewakili umat, kok bisa-bisanya media membangun sekat.

Kalangan media jadi tertuduh. Para jurnalis dituding berpihak kepada penguasa. Eksesnya, dari atas ke bawah beramai-ramai mencela media. Berbagai cap buruk pun berdatangan, dari tuduhan bahwa kafir menguasai media, penguasa melarang media membesarkan berita seputar acara yang katanya reuni, hingga ajakan untuk tidak menghormati jurnalis.

Ajakan itu sendiri datang dari "tokoh besar" di acara tersebut, yakni Prabowo Subianto yang hari ini masih terkenal sebagai calon presiden. Ia mengajak untuk tidak lagi menghormati media karena menurutnya media sudah berada di kubu penguasa.

Tentu saja, ajakan dari seorang tokoh sekelas Prabowo yang memiliki pengikut belasan juta itu, tak bisa dianggap sebagai ajakan sederhana.

Bayangkan jika di antara peserta reuni itu adalah para pengusaha kaya raya, punya pengaruh kuat ke berbagai perusahaan, dan bisa menentukan sebuah perusahaan media bisa dapat kue iklan atau tidak. Bangkrut tuh perusahaan-perusahaan media. Kompas meratap, Tempo bersedih, Metro TV berduka, dan berbagai TV lain berbelasungkawa. 

Eh, tapi itu candaan saya saja. 

Sebab media-media itu juga jelas punya kue iklan dari mana-mana. Mereka juga punya orang-orang yang punya kemampuan "berdagang" alias mencari iklan yang andal. Relasi yang mereka punya pun tentu saja bukanlah kelas orang-orang yang gemar "bikin semak" jalan raya saja.

Jadi, Prabowo sebagai capres memang patut kecewa di sini. Ia belum jadi presiden, hingga belum bisa menjadi penentu hidup-mati sebuah media. Coba jika kursi presiden sudah di tangannya, inspirasi dari sang mertua, maksud saya, dari mantan presiden Soeharto, pasti takkan dilewatkan begitu saja.

Beredel!

Satu kata itu saja cukup keluar dari mulutnya. Media sebesar apa pun bisa tumbang. Perusahaan media bisa bangkrut. Karyawan dan juga wartawan bisa gigit jari, dan terpaksa menghabiskan waktu memutar lagu-lagu Rhoma Irama tujuh hari tujuh malam di YouTube! 

"Merana ... memang merana ... kalau putus kontrak!"

Sayang sekali, Pak Capres kita ini belum jadi presiden. Dia pun tidak bisa minta bantu kepada pemerintah, "Tolong dong, beredel saja media-media itu tuh!" Jelas, karena minta bantu kepada lawan, sama saja mencoreng muka sendiri. 

Jadilah di depan banyak wartawan, Prabowo memilih menunjukkan karakternya bahwa, "Gue mantan jenderal, lho! Jangan main-main dengan saya!"

Kira-kira itulah kesan dari pernyataannya kepada beberapa wartawan tempo hari (dengan bahasa versi saya, tentunya) saat ia memilih meluapkan kekecewaannya kepada kalangan media. Dalam kondisi emosi, penggunaan kata "gue" dan "saya" bisa saja muncul dalam satu kalimat.

Di sisi lain, keputusannya menunjukkan karakter sebagai pemberang di depan media pun memunculkan tanda tanya di media lainnya, yakni media sosial.

"Itu disengaja atau alami saja?"

"Jangan-jangan sikapnya di depan wartawan gitu cuma buat bikin namanya jadi obrolan lagi ..."

"Bisa jadi itu cuma caranya saja biar namanya tetap terjaga, karena sudah pasti diberitakan oleh media ..."

Jika Anda rajin membuang waktu di media sosial, akan dengan mudah menemukan kalimat bernada kegamangan seperti itu. Apalagi ini tahun politik, kegamangan yang muncul bisa saja lebih serius daripada kegamangan bujang lapuk yang masih bertanya-tanya, apakah dia memutuskan kawin saja atau tetap memilih sendirian saja. 

Namun di tengah kencangnya berita seputar kurangnya berita tentang "aksi jutaan umat" tadi, hingga Prabowo kecewa, saya juga punya sudut pandang lain. Boleh jadi sudut pandang ini juga terbetik di kepala Anda--entah Anda beruban atau belum. Bahwa, jangan-jangan Prabowo gusar hanya karena ia sedang menjadi korban "PHP"--istilah coding yang kini diterjemahkan sebagai "Pemberi Harapan Palsu."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2