Zulfikar Akbar
Zulfikar Akbar Jurnalis

Peminat isu-isu sosial politik dan humanisme | Pemilik tularin.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Mengembalikan Kehangatan di Media Sosial

9 April 2018   17:54 Diperbarui: 9 April 2018   19:27 1696 30 17
Mengembalikan Kehangatan di Media Sosial
Gbr: Andrezamendes.com

Semestinya media sosial memang menjadi tempat bersosialisasi. Sayangnya memang terkadang media sosial terseret ke dalam situasi yang bahkan jauh dari nilai-nilai sosial, dan nilai kemanusiaan.

Perbedaan pandangan politik acap dijadikan pembenaran untuk menjadikan sementara kalangan yang dipandang lemah untuk menjadi tumbal. Bukan hal asing jika konten berbau hasutan dan fitnah terasa kian leluasa saja. Ya, kalau itu terasa sebagai sebuah dosa yang pernah Anda lakukan, saya juga bisa jadi pernah sengaja atau tak sengaja turut melakukannya.

Idealnya, perbedaan pandangan politik bukanlah sebuah masalah. Politik memang membenarkan perbedaan, lantaran memang ranah tersebut menjadi wadah untuk bermacam ragam pikiran, idealisme, prinsip, dan sudut pandang. Menjadi masalah hanya jika karena alasan politik lalu memilih untuk menjadikan banyak hal sebagai tumbal, sebagai korban, sebagai umpan.

Narasi-narasi dibangun cukup menjelaskan itu. Jika kita amati, bagaimana di sana, semata-mata demi kepentingan politik, agama pun dibentur-benturkan. Demi kepentingan kelompok, persoalan suku pun terseret-seret.

Ribut-ribut di media sosial bermunculan. Hampir sebagian besar hanya melanjutkan dari ribut-ribut yang muncul dari figur-figur yang dipandang sebagai panutan. Tragisnya lagi ada sebagian tokoh yang merasa menjadi panutan, tanpa terbeban melemparkan berbagai pernyataan yang mengundang keributan.

Lalu keributan semakin bermunculan, sementara yang mengajak untuk melihat dengan jernih dituding tak memiliki sikap. 

Jadi teringat beberapa hari terakhir. Saya pribadi berinisiatif melemparkan cuitan di akun Twitter, hanya berisi kalimat bahwa saya sebagai seorang Muslim juga menyukai lagu-lagu gereja atau lagu rohani. Respons yang saya dapatkan di sana justru cukup menyentuh, karena terlihat para pengguna media sosial membutuhkan sesuatu yang mendamaikan dan menenangkan. 

Ada kelelahan bagi sebagian pengguna media sosial melihat keributan dan pertikaian yang bermunculan hampir tanpa jeda di sana. Mereka menyukai obrolan-obrolan yang menggembirakan, membawa kesejukan.

Dari cuitan yang saya sebutkan di atas, muncul banyak cerita tentang pemeluk agama Nasrani yang juga mengakui jika mereka akrab dengan Islam dan bahkan menghafal Alfatihah sampai terlibat dalam kegiatan-kegiatan berbau keislaman.

Ada lagi yang bercerita tentang keluarga yang tetap baik-baik saja walaupun di tengah-tengah mereka terdiri dari berbagai agama.

Ya, mereka merindukan cerita-cerita seperti itu. Sekaligus sebagai gambaran tentang sebuah realitas yang tak lagi meributkan perbedaan sebagai hal yang harus disikapi dengan permusuhan. Di cuitan kecil itu saja, mereka bercerita selayaknya sahabat-sahabat yang sudah saling mengenal, berbagi tentang pengalaman mereka. Mereka mengekspresikan kerinduan mereka pada kedamaian.

Bagi saya, itu menjadi sebuah pesan yang memang mutlak perlu untuk dicatat, setidaknya oleh saya sendiri. Setidaknya agar dalam bermedia sosial, terlepas perbedaan pandangan politik, perbedaan agama, namun tak berarti harus bermusuhan. Persahabatan masih bisa terjadi di tengah berbagai perbedaan. Media sosial semestinya memang kembali berfungsi untuk tempat mengekspresikan sisi sosial pengguna, atau mensosialisasikan sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan sosial.

Bahwa masih ada saja yang memberikan respons negatif, saya pikir itu masalah pribadi si pemberi respons. Sebab bisa jadi, yang gemar dengan cara bersosialisasi negatif, hanya sedang meluapkan kesulitan hidup mereka, kekecewaan pribadi mereka, hingga mengalirkan kekeruhan pikirannya di sana. Tak apa-apa, sepanjang yang masih memiliki pikiran jernih terus berusaha menebarkan apa yang diyakini membawa kebaikan bagi orang banyak, maka kekeruhan tadi pelan-pelan akan berkurang dengan sendirinya.*