Zulfikar Akbar
Zulfikar Akbar Jurnalis

Bekerja di surat kabar olahraga | Pemilik tularin.com | Bukan perjaka |

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup highlight headline

Raline Shah, Najwa, dan Media Beraroma Pria

11 Agustus 2017   06:51 Diperbarui: 11 Agustus 2017   09:25 1982 8 5
Raline Shah, Najwa, dan Media Beraroma Pria
Karena perempuan juga bertarung dengan kekuatan untuk menapaki mimpi dan berbagi - Foto: Dok. Raline Shah

Sebenarnya di tengah riuhnya kabar Najwa Shihab yang mundur dari Metro TV dan "tutup usia"-nya Mata Najwa ada kabar lain yang membuat banyak mata pria menyala; Raline Shah. Tapi ini bukan sedang ingin membandingkan Najwa dan Raline. Saya cuma ingin bicara tentang wanita selalu memikat di tengah merebaknya berbagai berita.

Wanita mampu membuat pria meraba-raba--semoga Anda tak membayangkan yang tidak-tidak lantaran kalimat ini. Terbukti, hanya karena keputusan Najwa terkait kariernya, terutama karena salah satu acaranya pun menyusulnya (baca: berhenti), banyak orang lantas meraba-raba.

Selayaknya meraba, maka yang didapatkan tentu saja apa yang terasa. Sementara, rabaan dan apa yang terasa bisa saja mengecoh. Sebab yang sedang dilakukan itu cenderung tak lagi melibatkan semua indra, sehingga apa yang terasa bahkan tak benar-benar dipahami oleh indra perasa (lidah). Beda halnya jika dalam meraba melibatkan semua indra--ini dapat melebar ke mana-mana.

Sebelum Anda melamun soal raba-meraba, saya kutip saja apa kata Noam Chomsky terkait media (karena bicara Najwa tak lepas dari dunia media). Chomsky pernah berujar bahwa media, entah ia di posisi sebagai media liberal atau konservatif, maka di sana tetap saja tak bisa lepas dari korporasi, terutama media-media arus utama.

Selayaknya korporasi, yang mereka--perusahaan media--lakukan takkan jauh-jauh dari menjual produk ke pasar. Pasar mereka, ya, para pengiklan. Produknya adalah audiens mereka sendiri. Setidaknya begitulah Chomsky memetakan secara kasar yang saya bahasakan lagi dengan bahasa yang mungkin terasa makin kasar.

Chomsky juga menyebut bahwa di tengah para elite media, menjadi bagian mereka dalam merancang apa saja yang ingin mereka sasar. Di sini, mereka akan berusaha agar apa yang dilakukan dapat menjadi semacam refleksi dari kepentingan hingga nilai yang dipegang para penjual, pembeli, dan produk itu sendiri.

Lalu, korelasi dengan Najwa? Tunggu dulu, dari tadi saya belum menyentuh satu lagi, Raline.

Nah, Raline ini menarik. Dia cantik, benar. Dia memiliki pesona sangat kuat, juga sangat benar. Dia entertainer, selebritas, konon memiliki intelektualitas, juga tak perlu disangsikan. Tapi kemudian dia dipercayakan dengan sebuah jabatan terbilang sangat prestisius di perusahaan sekelas Air-Asia? Di sinilah kita banyak terjebak lagi dalam meraba-raba.

Kita cenderung memilih sok tau bahwa adanya skandal ini dan skandal itu, ada "pertaruhan" ini dan itu. Ketika mencari suatu referensi, alih-alih membantu pikiran dapat berpikir secara berimbang, justru hanya ditujukan untuk membuat anggapan kita itu terlihat benar--meskipun statusnya tetap saja meraba-raba. Sekali lagi, terlihat benar, bukan untuk membawa kita pada kebenaran yang sebenarnya.

Apalagi banyak dari pembuat kesimpulan, memang bukan mereka yang betul-betul dekat dengan Najwa ataupun Raline, boro-boro berbicara dari hati ke hati. Sebab, iya, jika dekat dengan mereka, tak banyak lelaki mampu menjaga hati.

Lalu saya ingin bicara apa juga sebenarnya? Ya bicara tentang kita. Tentang kecenderungan untuk terburu-buru, atau kecenderungan hanya membaca judul di sampul suatu buku lalu merasa sudah mengetahui keseluruhan isi buku.

Itu yang bikin saya melamun tiap kali membaca berbagai spekulasi tentang Najwa dengan "Mata"-nya, dan Raline dengan maskapainya. Betapa kita yang bicara Najwa cenderung mengandalkan satu mata, dan bicara Raline dengan kesimpulan jauh lebih cepat dari sekian pesawat boeing di perusahaan yang mengangkatnya.

Lalu, apa perlunya saya menyitir hingga ke kalimat Chomsky? Nah ini yang agak serius. Sebab dari sekian kalimat Chomsky itu masih bertalian lagi dengan pernyataannya yang lain, "Integritas dan kejujuran profesional tak jarang justru  terkontaminasi oleh berbagai misi yang tak cukup kuat untuk mereka hindari."

Uhm, saya kecewa jika kutipan kalimat itu justru bikin Anda makin meraba-raba. Cukup saya saja yang melakukan itu, duh.

Sekali lagi tunggu, sebab bicara Najwa dan Raline tak bisa lepas dari seputar layar kaca; media yang bisa membuat Anda berpikir dan melamun secara bergantian dengan sangat cepat.

Jika mengutip Chomsky lagi. Di tengah semua kabar, di tengah segala rumor, lebih baik melihat dunia televisi secara apa adanya. "TV hanyalah bagian dari budaya pemasaran," kata pemikir yang acap disebut pemberontak itu. "TV ada bukan untuk memberdayakan Anda atau dapat melakukan sesuatu untuk memperbaiki kehidupan Anda."

Skeptis terasa lebih baik daripada menambah jumlah penyebar gosip. Tak kalah baik juga jika kita melihat secara positif saja, jika sekian rumor tentang Najwa dan sekian kabar angin tentang Raline, masih bisa digantikan dengan "lamunan"--boleh dibaca sebagai sudut pandang--lebih baik; bahwa mereka adalah perempuan yang tidak sekadar berangkat dari sekadar kesadaran bahwa mereka cantik. Mereka adalah perempuan yang menapak di tangga demi tangga impian sendiri-sendiri dengan kaki yang lembut tapi kokoh.

Meski mereka perempuan, tapi mereka juga bertarung. Mereka tetap memainkan "pedang" masing-masing. Para perempuan ini tetap terlihat berusaha dapat melakukan sesuatu yang berarti.

Najwa nyaris dapat dipastikan tak hanya bergerak dan berbuat untuk sekadar uang atau ketenaran. Dia sudah cukup memiliki itu. Atau, Raline yang relatif lebih muda, juga nyaris bisa dipastikan tak melulu mengejar sekadar pengakuan. Mereka masih sering melakukan secara diam-diam, bahwa ada rintihan yang ingin mereka hentikan; ketidakberdayaan hingga kebodohan. Lewat "pengejaran" yang mereka lakukan, di situlah mereka sedang berusaha membawa solusi; negeri ini butuh inspirasi.

Sayang sekali kita lelaki jika mereka kalangan perempuan makin kencang berlari dan masih sempat berbagi, sementara kita sibuk berspekulasi yang terhenti hanya pada basa-basi.*