Kotaksuara

Pilgub Jabar 2018: Pertarungan Dua Calon Gubernur

25 Agustus 2017   10:45 Diperbarui: 25 Agustus 2017   10:56 497 2 1
Pilgub Jabar 2018: Pertarungan Dua Calon Gubernur
dedi-mulyadi-dan-dedi-mizwar-kumparan-com-599f9d24c2d91828b3366802.jpeg

Nama-nama calon Gubernur dari sudah bermunculan. Sesuai dengan Prediksi sebelumya, Pilgub Jabar adalah Pertarungan Partai Pengusung Pemerintah, dan partai yang Kontra dengan Pemerintah.

PKS-Grindra, kembali Koalisi di Jawa Barat, mereka mengusung Petahana Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar yang berpasangan dengan Ahmad Syaikhu Wakil Walikota bekasi.

Sementara PDIP-Golkar juga menyatakan bersama-sama untuk memenangkan pesta lima tahunan tersebut. Selain sepakat di Pilgub Jabar, Golkar-PDIP juga sepakat berkoalisi di Pilkada/Pilwakot yang serentak di gelar di 16 Kabupaten dan kota di Jawa Barat. Bahkan, 14 dari 16 derah di jabar yang menggelar Pilkada, koalisi tersebut di Prediksi bisa memenangkannnya.

Ramai diberitakan oleh media, Ketua DPD Golkar Jabar dan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi akan di pasangkan dengan Puti Soekarno, cucu dari Presiden RI pertama.

Bagaimana dengan Partai lain seperti  PPP, PKB, Hanura, Demokrat, PAN dan Nasdem yang jauh-jauh hari sudah mendeklarasikan Ridwan Kamil untuk menjadi Gubernur?

Di kutip dari Kompas, Partai tersebut minus Nasdem beberapa waktu lalu di Bandung sepakat membentuk Poros tengah untuk mengusung Calon Gubernur dan wakil Gubernur Jawa Barat.

Alasan Nasdem tidak dilibatkannya dalam pertemuan tersebut karena Nasdem telah memiliki calon tersendiri. Maka, dengan tidak di libatkannya Partai Nasdem jelas sangat membuat posisi Ridwan Kamil semakin terpojok.

Apalagi, dalam sebuah Pertemuan dengan PAN, Ridwan Kamil meminta Bima Arya (Walikota Bogor) untuk menjadi wakilnya di Pilgub Jabar. Tetapi setelah dua hari Bima Arya meminta waktu untuk menimbang ajakan tersebut, dia memustuskan tidak akan maju di pilgub jabar, dan memilih fokus untuk menjalankan tugasnya sebagai walikota.

Dikutip dari media Pojok Bandung, fokusnya Bima Arya di Bogor menjadikan PAN memutar haluan. Ketua DPP PAN Zulkifli Hasan mengatakan, kemungkinan besar dengan tidak tercapainya kesepakan tersebut, Partai tersebut akan berkoalisi dengan PKS-Grindra untuk mengusung Demiz-Syaikhu.

Bersatunya PAN dengan pasangan tersebut jelas sangat merugikan Ridwan Kamil, apalgi jumlah kouta Partai Nasdem masih sangat kurang.

Begitu juga dengan Partai Demokrat? Demokrat sepertinya masih malu-malu untuk menentukan calonnya, Demokrat sangat dimungkinkan untuk bergabung dengan parati PKS-Grindra mengingat DPP Partai tersebut memiliki hubungan baik dengan PKS maupun Grindra.

Semakin mencair dan mengerucutnya politik di Jawa Barat, Poros tengah lainnya seperti PPP, PKB maupun Hanura, yang disinggung di atas merupakan pengusung Pemerintah tidak cukup kuat untuk melawan koalisi besar yang sudah di usung sebelumnya.

Sangat dimungkinkan Partai-partai tersebut akan bersatu di Jawa Barat karena kesamaan Visi untuk membangun Jawa Barat yang lebih baik di tahun-tahun mendatang.

PPP, PKB, Hanura dan Jangan lupakan juga Partai Perindo kemungkinan besar akan akan bersatu dengan Golkar dan PDIP karena kesamaan visi mengusung Dedi Mulydi melawan koalisi PKS, Grindra, PAN dan Demokrat.

Bagaimana dengan Nasdem dan Ridwan Kamil? Mengingat jalur Independen sangat kecil untuk menang. Tetapi memang sangat kecil kemungkinannya dia akan merapat ke Partai PKS-Grindra yang Notabenya kendaraan kendaraan yang mengantarkannya menjadi Walikota Bandung. Tetapi kemungkinan itu sangat kecil selain sudah memiliki calon tersendiri, pintu untuk Ridwan Kamil sudah tertutup.

Pada akhirnya nanti, sangat di Mungkinkan hanya dua pasagan calon Gubernur yang akan mengikuti pesta Demokrasi lima tahunan tersebut