Mohon tunggu...
SNS
SNS Mohon Tunggu... Freelancer - Konsultan Bedah Cinta

A wife, mommy of 1 boys, working mom also as consultan Bedah Cinta, Contact me: WA 083153707731, Email shashanaura9@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Tangis Guru Honorer di Ruang PPPK

21 September 2021   11:26 Diperbarui: 21 September 2021   11:34 178 4 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Aku adalah salah satu tenaga honorer yang telah berkecimpung selama puluhan tahun mengajar. Selama lebih dari 5 tahun terakhir dari perjalananku itu, kouta jurusanku 3 kali berturut-turut tidak ada di buka. Dengan memendam harapan yang ada, tahun setelahnya pun ternyata hanya daerah lain yang cukup jauh, ada penerimaan 1-2 orang itupun harus ktp domisili setempat yang bisa lolos syarat administrasi.

Harapan makin menipis. Sementara umur semakin bertambah. Sudah lewat 35 ahun artinya tidak ada lagi kesempatan untuk itu.

Tapi pengabdian memang tak pernah habis. Menjelajahi medan yang sulitpun sudah bukan hal berat lagi. Sudah biasa dengan kondisi mengjar yang serba terbatas. Gaji minim. Untuk biaya makan saja tidak cukup buat sebulan. Biaya transportasi? Terpaksa harus puasa makan.

Hingga usia menuju senja, wajar jika sebagian besar dari kami (baca: guru honorer) di hari tua bisa menjalani hidup tenang dan mendapat sedikit pengakuan. Memiliki gaji yang cukup buat menjalani masa pensiun, mendapat gelar kehormatan memiliki NIP dan berbaju seragam coklat bertuliskan PNS.

Apa yang kami lakukan sama saja dengan yang di lakukan guru berbaju dinas. Mereka mengajar menggunakan standar kurikulum nasional, kami pun juga sama. Kami mengajar kadang melebihi jam standard seorang PNS melebihi 24 jam seminggu. Kerja kami serius tapi sedihnya di hati gaji kami malah main-main.

Di bandingkan dengan tenaga buruh kasar, tukang sapu jalanan, tukang masak di rumah sakit atau profesi non guru lainnya yang tidak perlu ada kemampuan wawasan dan kemampuan mengajar. Kami kerja maksimal, harus lulus perguruan tinggi dulu untuk mendapat titel dan kemampuan mengajar tersebut.

Tapi mengapa kami di bayar dengan angka rupiah yang untuk biaya hidup saja tidak cukup membuat kami bisa hidup dan bernafas.

Biaya bertahan hidup saja kami harus memikirkan dan mengais lagi di tempat lain. Harapan kami adalah dari sekian banyak guru yang sudah mengabdikan sepanjang umurnya untuk mengajar, kami ingin mendapatkan gaji yang layak, lebih banyak sehingga mencukupi, posisi kehormatan sebagai pahlawan pendidikan artinya status yang di perhitungkan, di hargai dan di hormati seperti profesi lainnya. Kerja kami tidak main-main dan kami berharap bayaran kami juga demikian.

Kenapa Harus PPPK lagi?

Antara cpns dengan pppk jelas beda. pppk pesertanya adalah orang yang sudah lama terjun langsung di dunia pendidikan. Banyak yang usia sudah sepuh juga.

Bagusnya jika mereka di bekali dengan diklat saja atau otomatois di berikan penghargaan saja tanpa ada tes lagi. Diklat pembekalan untuk menambah atau mengasah skill bukan tes sebagaimana cpns.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan