Mohon tunggu...
SNS
SNS Mohon Tunggu... Menulis dan membaca

Saya suka menulis

Selanjutnya

Tutup

Politik

Pajak Tulang Punggung Ekonomi Kapitalis Dzalim

17 Juni 2021   03:53 Diperbarui: 17 Juni 2021   03:59 97 1 0 Mohon Tunggu...

PAJAK TULANG PUNGGUNG EKONOMI KAPITALIS DZALIM

Sebuah cerita kehidupan yang ingin aku tuliskan. Kisah seorang perempuan yang menjadi tulang punggung bagi anak-anaknya. Wanita itu mempunyai 5 anak yang masih kecil. Usia mereka hampir berurutan, paling tinggi rentang 1 tahunan per anak. Dengan jarak segitu pendek, anak tertuanya baru masuk TK kecil. Untuk menopang hidup sehari-hari dia berjualan makanan ringan, kerupuk seribuan dan air es seharga seribuan. Si ibu yang memiliki anak banyak tersebut berjualan dari pagi hingga malam hari full 24 jam. Tanpa merasa lelah dan bosan.

Baru berusia 6 bulan, anak bungsunya. Lagi belajar merayap dan merangkak. Si ayah dari wilayah antah berantah, datang kembali menyemai bibit baru. Dan si wanita itu hamil lagi. Setelah istrinya di hamili, si suami pergi lagi berkelana dari satu istri ke istri lainnya untuk menyemai bibit, sayangnya lelaki itu tidak pernah melaksanakan tanggung jawabnya.

Setelah pergi ke tukang urut. Kata nenek urut, dia memiliki bayi kembar. Galaulah hati sang ibu. mungkin akan bertambah kembali tanggungannya. Dalam keadaan hati yang lagi sempit, tidak seperti biasanya, sang ibu berniat akan memberikan salah satu bayinya nanti setelah di lahirkan.

Dari cerita di atas, sering kita temui kejadian serupa. Pahitnya perjuangan seorang perempuan tanpa ada rasa tanggung jawab dari suaminya. Dia hanya menjadi objek birahi saja. Tanpa adanya beban bahwa setiap kepemimpinan seorang lelaki di keluarganya, kelak akan di pertanggung jawabkan di akhirat. Tidak ada rasa takut berdosa, menyia-nyiakan keluarganya sendiri. Punya banyak istri tapi tidak memberi nafkah untuk anak dan istrinya. Bahkan saat istrinya hamil, dia jalan di depan rumah kontrakan istrinya bersama wanita lain.

Sebagai ibu hamil tua, wajar jika dia merasakan beban pikiran. Bagaimana biaya melahirkan nanti, ke bidan mana atau ke rumah sakit mana, biaya untuk membeli perlengkapan bayi bagaimana, apalagi anaknya kembar, tentu saja butuh barang lebih banyak. Belum lagi biaya pasca persalinan dan bagaimana nasib anaknya yang lain buat makan sehari-hari. Belum dia harus memikirkan bayar kontrakan, listrik dan air. Sedangkan dia hidup sebatang kara tanpa sanak keluarga.

Mengenai rencana pemerintah yang akan menaikkan ppn bahan pangan, biaya melahirkan dan biaya pendidikan. Tentu akan menambah berat penderitaan si ibu ini. Sang ibu merupakan perwakilan dari banyaknya ibu hamil lainnya yang kebingungan dengan biaya lahiran, apalagi jika di tambah ppn.

Sejatinya dalam sistem kapitalisme, pajak merupakan tulang punggung ekonomi kapitalis. Aroma ketidak adilan dirasakan rakyat kecil ketika pemerintah berpihak melonggarkan pajak para kapitalis. Kebijakan ini zalim dengan alasan untuk menambah pendapatan untuk mengatasi pandemic.

Berbeda dengan sistem islam, menempatkan pajak bukan sebagai sumber pendapatan negara. Kekayaan alam tidak di serahkan ke swasta tapi di kelola negara untuk kemaslahatan umat. Masih banyak lagi pos-pos pendapatan lainnya sehingga isi kas negara bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.

Nah, kalau kamu pilih sistem buatan manusia atau buatan Allah?

VIDEO PILIHAN