Mohon tunggu...
SNS
SNS Mohon Tunggu... Menulis dan membaca

Saya suka menulis

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Pemerintah Jangan Berbisnis dengan Rakyat

16 Januari 2021   10:32 Diperbarui: 16 Januari 2021   10:46 48 1 0 Mohon Tunggu...

Hujan lebat sudah hampir tiap hari menguyur hampir seluruh Indonesia. Ada yang hampir 24 jam bahkan hujan gerimis di selingi lebat tidak pernah berhenti.

Saya jadi ingat sama kucing belang tiga peliharaan adik saya bernama "cantik" dengan seekor anaknya yang masih dalam masa menyusui. Entah bagaimana kondisi dia sekarang di atas loteng jemuran rumah kami yang sudah beberapa hari terendam air. Bagaimana dia harus bertahan hidup kedinginan, bagaimana dia menahan lapar. mau turun ke bawah pun gak bisa karena semua tersapu banjir dan barang-barang hanyut terkena derasnya air yang mengalir deras bercampur tanah.

Sebagai tuan dari kucing tersebut, tidak sempat membawanya dalam proses eksekusi kemarin merupakan beban tersendiri. Kucing juga makhluk bernyawa, nyawanya berharga apalagi nyawa manusia. Cara kita melindungi mereka sebagai binatang akan tetap di hisab di akhirat. Apalagi sekelompok orang yan di amanahi untuk mengelola manusia dan menjaga nyawa dan jiwanya. Mungkin tidak semua orang menangis karena kehilangan kucing, dan tidak semua orang menangisi kematian manusia yang bukan sanak keluarganya. Namun sekelompok orang yang memegang kendali atau manusia-manusia itu akan mendapat hisab dan hukuman berat di akhirat jika lalai dalam melayani umat.

Tadi malam teman dari pulau Jawa menanyakan bagaimana kondisi banjir di sini. Karena akses informasi sulit di dapat. Tidak banyak yang sempat meliput kondisi korban seperti apa. Wong mereka sibuk untuk mencari keselamatan dan perlindungan. Listrik, air pun mati. Baterai HP otomatis gak bisa di ces. Bagaimana bisa sempat merekam video karena dalam beberapa detik air merembes masuk rumah, dan sudah setinggi pinggang. Kalang kabut di subuh saat ada yang pakai mukena akhirnya melepas mukena tidak jadi sholat lalu lari terbirit-birit untuk menyelamatkan diri. Akan makin cepat bergerak masuk ke sela-sela rumah penduduk. Semua panik. Adik saya pun ikut panik karena ayah tergelincir tidak bisa menahan beban amukan aliran deras yang masuk tiba-tiba ke dalam rumah.

Dengan gerak sigap, saat tidak ada satupun lelaki selain ayah. Adik saya meraih obat, baju, sarung dan selimut sampai dia melupakan hanya pakaian di badan yang sempat dia bawa. Tim sar akhirnya datang menjemput. Sebagai orang yang terakhir kali di jemput, bertahan dalam derasnya air yang sudah sedada bukan perkara mudah. Muka ayah saya pucat dan makin sulit berjalan mengandalkan sebelah kakinya yang masih berfungsi karena stroke.

Dan saat naik perahu karet, adik saya terbawa arus beberapa kali dan bergantian anggota tim SAR pun mau ikut terbawa arus. Adik saya berfikir, kalo tim SAR yang hanyut maka siapa yang nanti membantu warga gang lain. Lalu dia melepas genggaman tangan. Apakah pemerintah akan berfikir yan sama? Seperti adik saya yang memprioritaskan keselamatan anggota tim SAR daripada dirinya. Padahal penguasa di hisab dan lebih berat hisabnya.

Dengan sekuat tenaga mereka saling bahu membahu untuk bisa keluar dari lokasi tersebut. Badan lelah harus mendorong perahu yang di atasnya ada ayah dan tetangga saya yang masih belum di evakuasi.

 Dan kondisi warga lainnya tidak jauh berbeda. Salut sama tim SAR yang bersedia berlelah-lelah untuk menjemput satu persatu warga dalam waktu yang sangat singkat, banjir sudah sampai atap menutupi toko-toko di pasar dan sapi/ kerbau, mobil berserakan bak mainan yang hanyut di air. Semua berserakan.
Sebagai tim SAR mereka lebih pahlawan dari pada sekelompok orang yang di atas kepalanya ada kitab suci saat mengucap sumpah suci.

 Sampai di penampungan sekalipun, semua pengungsi harus ikhlas mendapat sedikit makanan. Yang jualan tidak ada. Semua penduduk berada di tempat aman banjir. Bahan makanan di pasar semua hanyut dan terendam banjir. Akses masuk kota pun lumpuh, jembatan putus, mau kirim uang bantuan pun mesin ATM tidak berfungsi. Kalau pun mesin ATM berfungsi duit sudah tidak ada artinya lagi. mereka butuh makanan bukan makan duit.

 Petaka yang terjadi ini bukan hal yang cukup mendapatkan kata "prihatin" saja. Sikap prihatin itu jelas-jelas merupakan cermin kelalaian bukan bentuk penjagaan jiwa dan nyawa bagi manusia. Saat ini yang di perlukan adakan tindakan cepat tanggap dan solusi atas segala bencana yang melanda mereka. Mengapa korban Sriwijaya lebih mendapat perhatian cepat, yang di cari box hitam, sedangkan di daerah lain masih ada manusia lain yang mengigil kedinginan, susah makan, mulai bertambah yang sakit akibat banjir. 

Mengapa saat kebakaran hutan yang di salahkan adalah kalimantan, saat SDA di kerok lalu mereka mendapat banjir mengapa semua diam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN