Mohon tunggu...
Supartono JW
Supartono JW Mohon Tunggu... Konsultan - Pengamat
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Niat berbagi

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Haruskah Megawati Menyindir KAMI?

27 Agustus 2020   15:50 Diperbarui: 27 Agustus 2020   15:53 365
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik


Apakah seorang Megawati perlu membuat pernyataan yang justru membuat nilai dirinya turun? Sebagai seorang Ketua Umum Partai terbesar yang kini sedang menguasai NKRI dan sebagai Presiden ke-5 Indonesia, seharusnya, sekaliber Megawati, tak perlu membuat pernyataan yang justru membuat nilai dirinya turun di tengah rakyat.

Seharusnya, Megawati tak perlu ikut kebakaran jenggot dengan adanya deklarasi KAMI, toh sudah ada parlemen, pemerintah, dan stakeholder terkait yang dapat memantau keberadaan KAMi.

Bila Megawati ikutan berkomentar, maka semakin jelas bahwa baik parlemen maupun pemerintahan Republik ini sebenarnya "dia" yang mengendalikan, sementara yang ada di lapangan, hanyalah boneka-bonekanya.

Sayang, pada akhirnya media massa pun tak kuasa mengakat berita bahwa Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyindir deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang diisi oleh Gatot Nurmantyo dan kawan-kawan.

Bahkan dalam sindirannya, Megawati menilai gerakan moral itu membuat banyak individu yang ingin menjadi presiden RI.

"Jadi kemarin-kemarin ini ada pemberitaan ada orang kan yang membentuk KAMI, itu KAMI. Di situ kayaknya banyak banget yang kepengin jadi presiden," ujar Megawati saat membuka Sekolah Partai Angkatan II bagi Calon Kepala Daerah dan Calon Wakil Kepala Daerah PDIP secara virtual, Rabu (26/8/2020) yang dirilis oleh berbagai media di Indonesia.

Apa yang diungkap oleh Megawati, yang menyebut "di situ kayaknya banyak banget yang kepengin jadi presiden", justru menjadi sesuatu yang tidak bernilai.

Sebab, para tokoh yang ada di dalam KAMI, bahkan tidak ada yang terlihat nampak berambisi untuk duduk sebagai orang nomor satu di Indonesia. Bahkan, beberapa individu menyebut, bila KAMI berubah menjadi partai politik, maka mereka pasti tidak akan bergabung di dalamnya.

Masyarakat juga tahu, apa dan bagaimana syarat untuk mencalonkan diri menjadi presiden. Sehingga, sindirian verbal Megawati yang bisa dikatakan menuduh bahwa para tokoh yang bergabung dalam KAMI adalah orang-orang yang kepengin jadi presiden, maka jelas salah alamat.

Dari deklarasi dan poin yang terpublikasi, KAMI hadir karena Indonesia sedang dalam kondisi yang tak biasa dan rakyatnya masih "terjajah" sejak pemerintahan dikuasai oleh partai Megawati ini.

Bahkan pemerintahan Jokowi dengan terang-terangan juga membentengi diri dengan para influencer dan buzzer yang dibiayai dari uang rakyat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun