Mohon tunggu...
Siwi W. Hadiprajitno
Siwi W. Hadiprajitno Mohon Tunggu... The lucky one. Yang beruntung.

Energy can neither be created nor destroyed; rather, it can only be transformed or transferred from one form to another.

Selanjutnya

Tutup

Media

Ngumpulin 13 Poin untuk Jadi Taruna

27 Maret 2019   23:33 Diperbarui: 29 Maret 2019   05:46 0 4 5 Mohon Tunggu...
Ngumpulin 13 Poin untuk Jadi Taruna
Icon poin dan pangkat Kompasiana


22.03 WIB. Setelah kemacetan panjang selama empat jam perjalanan kembali ke kantor dan diskusi dengan salah satu Bos di ruangannya, ditambah bonus tiga antrian panjang lampu merah yang tiga-tiganya menyala merah ketika aku berjarak 10 m darinya, barulah aku tiba di rumah.

Saat membuka laman Kompasiana, kulihat aku masih bertengger di pangkat 'Junior'. Padahal kulihat beberapa akun yang tulisannya sering kusamperin, sudah bergelar 'Taruna' (1.501 -10.000 poin) bahkan 'Penjelajah' (10.001 - 50.000 poin) dan 'Fanatik' (50.001 - 100.000 poin). Di atas itu masih ada 'Senior' (100.001 - 250.000 poin) dan 'Maestro' (250.001 - 1.000.000 poin). Poinku terkumpul seribu empat ratus delapan puluh delapan. Itu artinya ketika aku ingin naik level menjadi 'Taruna', maka aku harus mengumpulkan tiga belas poin lagi, supaya menjadi 1.501 poin.

A-ha!

13 poin.

Dikit lagi.

Untuk mencapainya, aku bisa menempuh beberapa cara sih. Artikel masuk daftar pilihan, dapat 5 poin. Artikel masuk daftar headline, dapat 10 poin. Dua hal ini susah-susah gampang. Tidak semua artikelku dapat pilihan, apalagi headline. Kayaknya jadi headline baru untuk dua atau tiga artikel. Sedangkan pilihan baru nemplok di 7 artikel. Jadi, ya, lupakan dulu tentang artikel pilihan ataupun headline.

Satu-satunya 'harapan' untuk menambah nilai adalah dengan memposting artikel. Dengan upaya itu, aku akan dapat 5 poin per posting. Sehingga, paling tidak, aku harus bikin 3 artikel lagi untuk kuposting beberapa hari ke depan.

Baiklah. Maka jika aku ingin jadi 'Taruna' dalam pekan ini, maka, hari ini aku posting 1 artikel, besok 1 artikel, dan lusa satu artikel.  Dengan skenario itu, aku bakal dapat nilai 15, jadi total nilaiku adalah 1.503 poin, dan itu cukup untuk masuk di pangkat Taruna. Semoga saja besok dan lusa aku nggak perlu pulang kerja selarut ini supaya masih ada cukup energi untuk memposting artikel.

Ada skenario lain, yaitu aku bikin dua tulisan, lalu ada tiga Kompasianer yang memberi nilai. Atau, ada tiga Kompasianer yang memberi komentar. Klop deh. Poin akan terkumpul sebanyak 13.

Atau, skenario ke-3. Aku cukup posting satu tulisan ini (jadi poin yang kudapat adalah 5), selanjutnya harus ada delapan Kompasianer yang memberiku nilai atau memberikan komentar di tulisan ini. Asyik juga nih skenario ke-3.

Beneran jadi penasaran, dari ketiga skenario itu, kira-kira mana yang paling cepat untuk kenaikan pangkatku

Kayaknya bakalan seru kalau ada Kompasianer yang memberikan nilai atau komentar untuk tulisan ini, lalu aku balik memberi nilai atau kasih komentar di artikel mereka deh ya. Dengan adanya poin untuk pemberian nilai dan komentar di Kompasiana, semacam memberi ruang bagi terbangunnya interaksi di dunia digital dan media sosial. Bukankah:

(1) "digital adalah media dua arah atau media interaktif" (Budiman Hakim, Kompasiana, "Pilih Berilan Menggunakan Televisi atau Digital?")?

(2) "media digital adala media 2 arah. Sarana interaktifnya memungkinkan terjadi interaksi yang panjang dan hidup." (Budiman Hakim, Kompasiana, "Storytelling. Beriklan Lewat Cerita.")?

Mari kita buktikan.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x