Mohon tunggu...
Amatur Ganda Ulibasa Situmorang
Amatur Ganda Ulibasa Situmorang Mohon Tunggu... Freelance Writer - Konsultan

Menulis tentang anti korupsi, tata kelola, keadilan sosial, pengembangan masyarakat, lingkungan dan perubahan iklim, kebijakan publik dan politik. https://gandasitumorang.carrd.co/

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Biodiesel Sawit dan Diplomasi Lingkungan

25 Agustus 2020   08:36 Diperbarui: 25 Agustus 2020   08:35 245 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana Adalah Platform Blog. Konten Ini Menjadi Tanggung Jawab Bloger Dan Tidak Mewakili Pandangan Redaksi Kompas.
Lihat foto
Nature. Sumber ilustrasi: Unsplash

Oleh: Ganda Situmorang
(Ketua Strategi Nasional Percepatan Kemajuan - Stranas PK)

Pada tanggal 26 Mei 2010 Pemerintah Indonesia bersama Norwegia menandatangani LoI yang isinya kurang lebih sebagai perjanjian kerjasama menurunkan Gas Rumah Kaca (GRK) melalui penurunan deforestasi dan degradasi hutan (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation/REDD+) di Indonesia. 

Dengan kerjasama REDD+ pemerintah Norwegia mengalokasikan dana sebesar 6 Miliar Krona atau sekitar Rp. 9.2 Triliun kepada pemerintah RI jika berhasil menurunkan kadar gas buang karbon.

Setelah bekerja keras selama 10 tahun, Indonesia berhasil menurunkan deforestasi. Jika dibandingkan dengan dasawarsa sebelumnya, emisi GRK dari deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia tahun 2016-17 turun signifikan. 

Maka sesuai perjanjian loI tahun 2010, Norwegia akan membayar hingga 530.000.000 NOK (approx. $56.000.000) untuk penurunan GRK tersebut. Ini akan menjadi pembayaran pertama kalinya oleh Norwegia atas pencapaian Indonesia dalam pengurangan emisi. 

Jumlah maksimum pengurangan emisi Indonesia adalah 11, 2 Mill ton CO2, setelah pengurangan 35% set-Asides untuk ketidakpastian, faktor risiko lainnya, dan ambisi Indonesia sendiri, seperti yang disepakati antara kedua negara. Untuk hasil tahun 2016-17 harganya adalah 5 USD per ton CO2 dari pengurangan emisi.

Biaya peluang (Opportunity Cost) Perlindungan Hutan

Tapi harga yang dibayarkan oleh Norwegia menurut hemat penulis sangat rendah. Seharusnya masyarakat internasional harus membayar pada tingkat pendapatan dari 1 Ha dari pendapatan minyak sawit, jika tidak, sulit untuk menegakkan perlindungan hutan khususnya terhadap ekspansi kebun sawit. 

Oleh karena itu perjanjian kerjasama menurunkan GRK melalui REDD+  pada kisaran 5 US$ per ton sangat kecil nilainya. Industri sawit Indonesia dapat menghasilkan uang jauh lebih besar sehingga hibah dari Norwegia hanya senilai permen karet.

Norwegia mungkin menurunkan pendapatan besar-besaran dari sumur-sumur  minyak mereka di Laut Utara tetapi mungkin mereka harus mengatasi masalah domestik sendiri daripada menghabiskan uang di belahan bumi yang jauh tanpa memperhatikan konsekuensi sosial dari program REDD+ bagi masyarakat adat (indigenous people) yang tinggal di sekitar hutan. 

Mungkin Norwegia tidak mengambil kredit karbon dalam kemitraan ini, hanya menghargai Indonesia untuk mengurangi emisi namun Norwegia telah menetapkan beberapa kondisi pada pembayaran untuk apa yang Indonesia telah berupaya lakukan sendiri sesuai komitmen untuk Perjanjian Paris, dan juga masih adanya ketidakpastian yang tinggi pada metodologi perhitungan dan mekanisme distribusi pembayaran tersebut ke masyarakat adat Orang Rimba yang tinggal di hutan Sumatera dan biaya perlindungan hutan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan