Mohon tunggu...
Edukasi Pilihan

Menyikapi Nilai Rapor Anak

14 Desember 2018   07:36 Diperbarui: 14 Desember 2018   09:36 375 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menyikapi Nilai Rapor Anak
Dok.Pribadi

Sekarang lagi momen-momennya banyak yang lagi ambil raport buat yang anaknya udah sekolah ya buibu...

Ini pengalaman pertama saya lho bakal ambil raport putri pertama saya. Walaupun baru tingkat TK tapi namanya pengalaman pertama pasti ada perasaan "gimana ya hasilnya?". Karena ini pertama kali saya akan melihat penilaian orang lain a.k.a guru sekolah terhadap si kakak. Biasanya saya ga terlalu peduli sama penilaian orang lain terhadap anak saya. 

Tapi kali ini beda, ini pengalaman pertama saya akan mencoba mendengar seperti apa si kakak di sekolah. Di balik pintu kelas yang saya tidak pernah tau apa yang kakak pelajari. Bisa tidaknya ia mengikuti proses pembelajaran di kelas, caranya berinteraksi dengan teman-temannya.

Nah buat yang di tingkat lebih tinggi lagi seperti SD, SMP atau SMA dan setingkatnya mungkin beda ya pemikiran nya. Pasti yang diharapkan dari buibu adalah nilai yang bagus. Bagus dalam artian nilainya tinggi. Padahal engga juga kok ya. Bagus itu ga harus tinggi (menurut saya). 

Bagus itu ketika anak kita sudah berusaha sebaik mungkin, kita melihat dia sudah belajar sekeras mungkin, tapi apa daya memang nilainya hanya sampai di angka 5 lalu bagaimana?. Lalu bagaimana pula yang nilainya mencapai angka 9 tapi karena tidak jujur?. Saya sih malah sedih kayaknya ya.

Anak kita bukanlah robot atau ilmuwan yang harus menguasai semua mata pelajaran di sekolah. Bahkan ilmuwan sekalipun hanya mampu menguasai satu atau tiga bidang tertentu. Tidak harus 15 mata pelajaran mendapat nilai mendekati sempurna. Lagipula masih banyak hal yang dikuasai oleh anak kita yang TIDAK DITULIS dalam raport atau sekedar nilai 10 atau 100.

Jadi menurut saya nilai bagus itu nilai yang didapat dari hasil usaha anak kita sendiri. Kita tau anak kita sudah benar-benar belajar di rumah. Nilai harian di sekolah juga bisa jadi acuan kita para orang tua "apa anak saya bisa di mata pelajaran ini?" atau "kenapa anak saya tiap pelajaran itu nilainya selalu dibawah rata-rata?" dan masih banyak hal yang perlu kita pelajari sebagai orang tua. 

Kita tidak dapat melepas pendidikan anak kita hanya kepada guru di sekolah. Di sekolah hanya salah satu perantara mengantarkan Pendidikan anak kita ke jenjang yang lebih tinggi. Sejatinya pendidikan itu dimulai dari rumah mereka, orang tua mereka dan sedikit banyak juga lingkungan mereka. Terlebih peranan seorang  ibu yang menjadi madrasah (tempat sekolah) pertama bagi anak-anak. 

Mungkin itu yang mendasari pemikiran saya untuk apa seorang perempuan harus terus belajar. Kebanyakan dari kita ingin agar anak kita jangan sampai sama (bodohnya) seperti kita para orang tuanya. Tapi kita lupa bahwa anak-anak adalah peniru ulung, mereka seperti pengikut. Mereka melakukan apa yang mereka lihat. Mereka tidak serta merta melakukan apa yang disuruh. Sebagai contoh, "nak kamu belajar yang rajin ya, rajin baca buku, jangan main terus biar ga kaya ibu bapakmu". 

Tapi sebagai orang tua apa yang kita lakukan?. Kita malah tidak mau belajar, tidak suka baca buku dan sering main tidak jelas. Lalu anak kita akan rajin seperti apa? Seperti siapa? Lah kita nya saja tidak mencontohkan kok. Kalau kita berargumen, "saya mah udah tua, udah ga bisa belajar." Bukankah belajar tak mengenal usia?. Jadi pada intinya, kita bukannya tidak bisa tapi TIDAK MAU.

Maka dari itu, kita tidak perlu mengecam anak kita harus mendapat nilai tinggi. Jadi nanti yang lihat raport anaknya ada bunga-bunga bermekaran, coba ditanya mengapa ia begitu sulit memahami pelajaran tersebut. Bantu mereka menyelesaikan masalahnya. Temani mereka saat mereka belajar. Hal-hal sederhana yang mampu membangun kedekatan juga semangat berhasil dalam hati anak kita.

Semoga bermanfaat

VIDEO PILIHAN