Mohon tunggu...
Edukasi

Khawatir terhadap Pelajar Matematika? Kreativitas Pendidik Kuncinya

1 Mei 2019   04:08 Diperbarui: 1 Mei 2019   04:12 13 4 0 Mohon Tunggu...

Matematika merupakan salah satu ilmu dasar hidup dalam kehidupan. Mulai dari menghitung waktu, melaksanakan jual beli, menentukan nilai sesuatu dan lainnya. Pembelajaran matematika akan melatih kemampuan kritis, logis, analitis, dan sistematis.

Tapi semakin beranjak dewasa, kadang kita kurang mengerti tujuan dari mempelajari matematika. Dalam materi seperti trigonometri, logaritma, dan matriks kita akan lebih acuh dan  malas untuk mempelajarinya. 

Hal tersebut karena konsep awalnya agak jauh dengan kehidupan dan penerapan sehari-hari,  sehingga banyak orang yang merasa tidak membutuhkannya. Padahal ilmu matematika berpengaruh pada bidang lainnya juga seperti ekonomi, fisika, biologi, kedokteran, dll. Wahyudin (2000) mengatakan bahwa seluruh kehidupan dunia tidak akan lepas dari peran matematika.

Untuk mendapatkan generasi yang berkualitas tinggi, diperlukan proses pembelajaran yang sesuai. Mata pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat memprediksi posisi kemampuan siswa, apakah siswa tersebut termasuk dalam kategori rendah, sedang, atau tinggi di sekolah. Dikuatkan oleh Ruseffendi (2006) yang mengatakan bahwa "Matematika adalah ratunya ilmu pengetahuan".

Upaya menuju pendidikan yang berkualitas memerlukan peran banyak pihak sebagai jembatan siswa dalam mengikuti pembelajaran guna meningkatkan mutu dan kualitas diri, tetapi hasilnya belum memberikan kabar menggembirakan. 

Oleh karena itu, pembelajaran di sekolah, khususnya mata pelajaran matematika yang mudah dan menyenangkan perlu terus dikembangkan. Berbagai konsep, metode, dan strategi pembelajaran perlu dikembangkan sesuai dengan IPTEK dan IMTAQ yang selama ini matematika dianggap siswa tidak menyenangkan menjadi menyenangkan, menakutkan menjadi tidak menakutkan, dan peru adanya kreatifitas guru.

Mengajar merupakan bagian dari pembelajaran, dimana peran guru lebih ditekankan pada bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan atau diamanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu (Sanjaya, W. 2008). Barnet berry dalam bukunya Teaching 2030 mengatakan bahwa proses pembelajaran yang akan menghasilkan kualitas pembelajaran diperlukan guru yang memiliki daya kreativitasnya tinggi.

Zaman sekarang teknologi berkembang sangat pesat, khusunya di kalangan anak, remaja, dan dewasa. Fenomena yang sering terjadi seperti banyaknya anak yang diam karena handphone sudah menjadi pemandangan lumrah pada era sekarang.

Ditambah dengan adanya laman untuk mengakses internet di Hp, membuat siswa tidak terbiasa berfikir secara kritis. Mereka lebih suka cara simpelnya dengan mencari informasi dan jawaban di internet yang kadang belum jelas kebenarannya. Hal tersebut akan menjadi sifat ketergantungan yang menjadikan otak kita tidak terasah dengan baik dan mungkin sajaakan menurun kualitas kerjanya.

Contoh misalnya untuk menghitung matematika yang biasanya memerlukan banyak coretan dalam kertas, kini kita akan lebih menghemat waktu dan tenaga dengan menggunakan kalkulator. Penulis pernah menjumpai anak yang sebenarnya dia mampu, tapi karena sifat malesnya itu, di sampai menggunakan kalkulator dengan cara voice note, sehingga cara ini sangat cepat dan efektif ketika banyaknya tugas.

Tapi keefektifannya hanya berlaku sesaat, ketika siswa menjalankan sebuah tes, bisa jadi kemampuan kritis dan teliti mereka sangat rendah karena tidak pernah melakukan penghitungan sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN