Mohon tunggu...
Siti Khusnul Khotimah
Siti Khusnul Khotimah Mohon Tunggu... Guru - Fasilitator

Jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang dapat menjadi guru dengan kemampuannya masing-masing.

Selanjutnya

Tutup

Parenting Pilihan

Berapa Harga 1 Kebajikan?

5 Agustus 2022   13:46 Diperbarui: 5 Agustus 2022   13:54 93 8 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Parenting. Sumber ilustrasi: Freepik

Artikel ini ditulis ketika aku teringat pada almarhumah nenek. Beliau meninggalkan kami tiga tahun yang lalu di usianya yang ke-60. Beliau pergi tanpa pertanda, sehat wal afiat dan tidak bergejala sakit. Ketika nenek mangkat, keluarga besar berkumpul untuk mengantarnya ke peristirahatan terakhir. Tidak terhitung para tetangga dan kerabat jauh yang turut membantu selama prosesi.

Aku tidak terlalu dekat dengan nenek karena kami tinggal di kota yang berbeda. Momen dimana aku bertemu nenek adalah saat lebaran dan liburan sekolah. Kebetulan aku mengajar di sekolah sehingga mendapat jatah libur yang hampir sama dengan anak-anak sekolah.

Nenek dikenal sebagai orang yang baik, sekalipun jarang keluar rumah karena memang tidak terbiasa sejak ia kecil. Nenek tinggal bersama kakek dan dua orang anaknya yang sudah berkeluarga dan memiliki keturunan. Keseharian nenek adalah bermain bersama cucu-cucunya dan mengurus kakek yang terpaut usia 15 tahun lebih tua dari usia nenek.

Kebutuhan sehari-hari untuk nenek dan kakek terpenuhi berkat uang pensiun yang masih diterima kakek setiap bulannya. Namun, nenek tetap tidak memiliki tabungan karena uang pensiun kakek sebagian besar digunakan untuk keperluan cucu-cucunya yang hendak masuk sekolah. Baik nenek maupun kakek tidak pernah membahas masalah uang ketika anak-anaknya berkumpul. Beliau menunjukkan bahwa keduanya masih mampu menolong anak dan cucunya, apabila suatu hari membutuhkan bantuan dalam bentuk uang.

Ketika nenek tiada, kakek yang paling terpukul dan merasa kehilangan yang teramat. Setiap pagi nenek selalu menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, lalu keduanya menyantap hidangan sembari duduk di bawah sinar mentari pagi. Kehilangan yang dirasakan kakek rupanya muncul dalam bentuk gangguan fisik. Kakek mulai sering sakit-sakitan dan pingsan di tengah malam. Beberapa kali anaknya yang tinggal serumah memergoki kakek sedang ngelindur, memanggil nenek dalam keadaan terpejam dan tubuh yang menggigil.

Kepergian nenek tak lama disusul dengan kakek. Beliau pergi selang 1 tahun setelah haul nenek, menyisakan penyesalan batin di hati anak-anaknya yang merasa belum sempat membalas kebajikan mereka. Salah satunya Ibuku, beliau menceritakan kebaikan kakek dan nenek semasa ia kecil, bagaimana orangtuanya dulu membesarkan dan mendidik Ibu. Kemudian penyesalannya karena merasa belum dapat membahagiakan orangtuanya di masa senja mereka.

"Ibu menyesal karena Mbahmu masih harus dipusingkan dengan urusan sekolah cucunya."

Ibu membuka percakapan denganku ketika kami selesai acara yasinan dan kembali ke kamar.

"Seharusnya itu tanggungjawab pamanmu, tetapi karena mereka masih tinggal dengan Mbah, mau bagaimanapun pasti kepikiran juga."

Aku mengingat tipikal kakekku yang seringkali terlalu memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak lagi menjadi kewajibannya. Berbanding terbalik dengan sifat nenek yang terlihat cuek dari luar, padahal murah hati ketika ada yang datang padanya dan meminta pertolongan.

"Ibu sedih, belum bisa memberikan penghidupan yang layak buat mereka."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Parenting Selengkapnya
Lihat Parenting Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan