Mohon tunggu...
Siti Khusnul Khotimah
Siti Khusnul Khotimah Mohon Tunggu... Guru - Fasilitator

Jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang dapat menjadi guru dengan kemampuannya masing-masing.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Refleksi Berbasis Proyek

4 Agustus 2022   10:07 Diperbarui: 4 Agustus 2022   10:14 70 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Kurikulum Merdeka Belajar: Refleksi Berbasis Proyek

Tahun ajaran baru 2022/2023 sudah berjalan hampir 1 bulan. Masih seumur jagung untuk menilai efektivitas kurikulum merdeka belajar terhadap pembelajaran di sekolah. Kurikulum nasional merupakan acuan dari pemerintah pusat untuk dijalankan oleh setiap instansi pendidikan pada level apapun. Kehadiran kurikulum merdeka belajar berupaya mendobrak tatanan baku dari kurikulum sebelumnya, yang dilengkapi dengan seperangkat instrumen agar dapat mengobservasi perkembangan siswa di sekolah dari segala aspek.

Perbedaan yang dirasakan di lapangan terhadap implementasi kurikulum merdeka ini adalah, para guru dilibatkan langsung dalam upaya-upaya penyusunan sistem pendidikan di sekolah masing-masing. Hal ini cukup baru, mengingat generasi guru-guru yang menghadapi kurikulum merdeka saat ini, sebelumnya tidak mendapatkan materi merdeka belajar dalam perkuliahan. Perubahan yang cukup dinamis pada sektor pendidikan, membuat setiap guru yang ingin bertahan dengan idealismenya dalam mengajar, harus perlahan-lahan mengikuti sistem yang telah dirancang untuk "memerdekakan" cara belajar di kelas yang dinilai masih bercorak old style.

Gelombang skeptisisme tidak hanya bergaung dalam pertemuan virtual dengan para perancang kurikulum, melainkan juga di tempat saya mengajar. Rekan-rekan sejawat saya memiliki keresahan atas perubahan kurikulum yang serba mendadak dan perlu dipersiapkan secara "mandiri" ini. Mereka, sebagai generasi yang terbiasa menerima "template" kurikulum dari pemerintah pusat merasa kerepotan ketika harus menyusun segala bentuk perangkat mengajar, bahkan sistem di sekolah secara mandiri. Terlalu banyak istilah baru yang tidak dapat dipahami dengan cepat oleh para guru yang sudah senior. Mereka mengakui, dalam implementasi kurikulum merdeka belajar, mereka cenderung lebih lamban dan pasif dibandingkan dengan guru-guru yang masih muda atau fresh graduated.

Saya menyadari, implementasi kurikulum baru tidak hanya tentang siswa, tetapi menyangkut seluruh elemen di sekolah yang mengupayakan terwujudnya tridaya pendidikan dalam lingkungan sekolah. Satu hal yang menarik perhatian saya sedari awal berdengungnya kurikulum merdeka belajar, yakni pembelajaran berbasis proyek. To be honest, selama ini saya selaku pengampu guru IPA di sekolah, selalu mendorong siswa untuk melakukan kegiatan "implementasi" dari materi yang sudah kami bahas bersama di kelas. Saya merasa, pemahaman atas teori yang saya sampaikan di kelas akan lebih mudah dipahami jika siswa bersentuhan langsung dengan objek pembelajaran. Selain itu, mengutip sebuah pepatah yang banyak dibagikan oleh siswa di media sosial menjelang ujian, "Setiap orang adalah jenius. Namun, jika kamu menilai ikan dengan kemampuannya untuk memanjat pohon, maka ikan akan percaya sepanjang hidupnya, bahwa ia itu bodoh."

Kutipan itu, sebagai seorang pengajar menampar saya berkali-kali, walaupun saya paham kemampuan seorang anak tidak sama dengan kemampuan seekor ikan. Namun, mengingat standar penilaian dari kurikulum sebelumnya yang terbilang cukup tinggi, saya turut merasakan keresahan yang sama dengan siswa/i saya menjelang ujian kenaikan maupun ujian kelulusan. Kegelisahan itu amat mengganggu, karena anak dituntut untuk mencapai kriteria ketuntasan tertentu tanpa benar-benar menguasai bidang tersebut. Kembali lagi pada pepatah tadi, kita semua tahu ikan hanya bisa berenang. Jangan kita uji dia untuk memanjat pohon, atau selamanya dia akan menganggap dirinya bodoh karena ia hanya mampu berenang. 

Kehadiran kurikulum merdeka ini seakan menjawab kegelisahan saya atas kebakuan standar penilaian yang ditetapkan dari kurikulum sebelumnya. Sekalipun aspek penilaian siswa semakin berkembang, justru ini merupakan tantangan bagi saya untuk memadamkan kekhawatiran anak-anak menjelang ujian. Hal ini dapat dijawab dengan pembelajaran berbasis proyek dari kurikulum merdeka belajar.

Tuntutan kriteria penilaian dan capaian indikator dalam suatu pembelajaran kian meningkat. Bobot soal dalam asesmen pun semakin mengandalkan kemampuan berpikir kritis dalam menyelesaikan persoalan hadap masalah, sebagaimana kritisisme adalah salah satu pilar dalam kurikulum merdeka belajar. Jalan tengah dari ketimpangan pemahaman siswa atas literasi dapat ditingkatkan melalui aspek 3C lainnya, seperti kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan berkreasi. Ketika siswa mengeluh kesulitan dalam memahami suatu materi dalam pembelajaran, 4C merupakan tools yang dapat digunakan untuk menjawab kebuntuan tersebut. Seperti yang kita pahami, bahwa tools tidak akan berguna tanpa adanya objek permasalahan. Maka, yang kita jadikan objek disini adalah pembelajaran berbasis proyek itu sendiri. 

Misalkan, siswa kesulitan memahami prinsip Bernoulli dalam fluida dinamis. Kita rancang proyek bersama untuk membuat percobaan roket air sederhana. Dalam pembuatan roket, harus kita pastikan bahwa komponen yang digunakan siswa akan mendukung pemahamannya terhadap prinsip Bernoulli. Kita sebagai fasilitator berperan dalam mengawasi kreatifitas siswa dalam proyek pembelajaran. Kata mengawasi tidak sama dengan memerintah. Kita hanya perlu mengarahkan tujuan besar dalam proyek ini, sehingga konsep keseluruhan proyek dapat didiskusikan oleh siswa secara berkelompok. Peran kita selaku guru ketika percobaan dilaksanakan adalah memancing nalar siswa untuk berpikir kritis. Dalam kasus ini, kita perlu menggali pengetahuan siswa mengenai proyek yang dikerjakannya.

"Apa yang membuat roket terbang?"

"Bagaimana sudut kemiringan roket saat terbang?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan