Mohon tunggu...
Siti Fatimah
Siti Fatimah Mohon Tunggu... Numpang baca, jarang nulis

Diam-diam menikmati tulisan kalian sambil makan seafood.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Parenting dalam Perspektif Ibu Malin Kundang

1 Maret 2021   08:00 Diperbarui: 1 Maret 2021   08:13 148 6 0 Mohon Tunggu...

Legenda Malin Kundang, acapkali diceritakan untuk menasihati anak agar tak durhaka, atau untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki Ibu; sekali angkat tangan, berdoa pada Tuhan. Sesuatu yang mengerikan terjadi.

Namun, selayaknya sebuah kisah yang tak menawarkan satu sudut pandang; ada hal lain yang menarik untuk dipikirkan, diantaranya untuk dijadikan kritik konstruktif dan reflektif dalam pengembangan diri menjadi Ibu, yang masih relevan dengan isu-isu parenting pada masa kini.

Kerasnya Kata-Kata, Tajamnya Doa.

Peristiwa makbulnya doa Ibu yang dengan cepat terpenuhi, seharusnya disikapi sebagai bentuk peringatan dari Langit untuk tidak mudah mengangkat tangan dan berkata buruk.

Terlepas dari kisah Malin tersebut nyata terjadi atau tidak, meminta manusia menjadi batu yang terdengar tak masuk akal di masa kini, dulunya saja bisa terjadi dengan seketika. Apalagi permintaan yang rasanya tak sampai minta anak jadi batu.

Dalam contoh, Ibu barangkali pernah berkata, "suatu hari kamu akan merasakan rasanya jadi ibu!"-Ibu yang sepertinya dan kehidupannya. Saat menikah, hidup anak pun merasakan segala kesulitan persis seperti yang dialami Ibunya.

Suatu saat lagi berujar, "kalau tak nurut dengan Ibu, celaka kamu!" kemudian anaknya kecelakaan, pulang ke Sang Maha Pemberi Ruh, atau hidupnya diliputi kesusahan.

Karena anak mengantuk menolak membeli tepung di warung, dengan mudah mengecam, "kamu tak akan berhasil kalau tak jadi penurut!", benar, tak berhasil di hari muda sampai tua.

Tapi apa yang didapat setelah melontarkan kata-kata seperti itu? Tak ada. Tak ada hasil yang baik dari perkataan yang buruk. Walaupun anak akhirnya berjalan ke warung, menurut dan meminta maaf, tak ada jaminan kalimat sederhana yang dikeluarkan saat itu turut berakhir dan tak menjadi nyata di kemudian hari.

Pada kisah Malin Kundang, Ibu dan anaknya sama-sama mengalami akhir yang menderita, kehilangan dan diliputi penyesalan akibat kata-kata. Meski menangis Malin mengakui Ibunya, meminta ampun atas perkataannya, sang Ibu yang menyesal pun tak bisa menarik kata meski ia sangat ingin.

Dalam kisahnya, yang ditunjukkan dalam perwatakan tokoh Ibu Malin tersebut, bahwa Ibu itu manusia. Bisa kehabisan kesabaran dan sangat bisa berkata keliru saat gegabah mengambil keputusan, terutama ketika marah, terluka dan kecewa. Alih-alih berdoa dibukakan pintu hati bagi anaknya, langsung saja Ia minta kutuk dengan hasil akhir, kutuk juga tak membantu menyatukan mereka kembali dalam kebahagiaan sebagai Ibu dan anak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN