Mohon tunggu...
Siti Fatimah
Siti Fatimah Mohon Tunggu... Numpang baca, jarang nulis

Diam-diam menikmati tulisan kalian sambil makan seafood.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Dilematika "Self Publishing" dari Sudut Pembaca

26 Februari 2021   13:24 Diperbarui: 27 Februari 2021   15:06 960 33 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dilematika "Self Publishing" dari Sudut Pembaca
ilustrasi mencetak buku secara mandiri. (sumber: unsplash.com/@maiaalhab)

"Mana mau saya beli buku hasil self publishing? Sudah ga ada penyuntingan isi, beli mahal, isinya ga menarik. Sinopsis bisa dibuat semenarik mungkin, tapi isi yang jadi keutamaan."

Ada yang begitu tidak? Atau saya saja? Hehe. Tiap penulis tentu memiliki keinginan untuk dapat memiliki dan menerbitkan buku karyanya sendiri. 

Kerumitan proses penerbitan naskah yang menjadi momok tersendiri bagi penulis, berpacu dengan keinginan untuk segera dapat memiliki buku dalam waktu yang relatif singkat, memunculkan gagasan untuk menerbitkan sendiri karyanya, yang jeli ditangkap pelaku usaha untuk membentuk suatu usaha ekonomi kreatif; self publishing. 

Perkembangan jaman dan teknologi memudahkan dan memungkinkannya. Berbeda dengan waktu dulu, ketika penulis harus mencari tahu sendiri, kirim naskah melewati seleksi yang ketat, ribut-akur dengan editor, berbagai macam rapat yang dilalui penerbit sebelum naskah siap cetak dan teken kontrak.

Kini, menerbitkan naskah pun semudah klik, upload, terbit. Penulis cukup siapkan naskah. Untuk design, editing, layout, promosi, pemasaran, penjualan, dan pengurusan ISBN (International Standard Book Number), disediakan penawarannya oleh penerbit yang mengakomodir self publishing. 

Ki Hajar Dewantara (Dasar-Dasar Ilmu Budaya: Deskripsi Kepribadian Bangsa Indonesia, Drs. Isma Tantawi, MA, Prenada Media: 2019, hal.20) mengartikan Kebudayaan bahwa:

"Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai."

Sehingga kemunculan self publishing dapat dikatakan sebagai gagasan solutif-adaptif berbasis usaha ekonomi kreatif, yang membawa manfaat bagi semua pihak; 

Antara penerbit dan percetakan yang-melibatkan tenaga kerja lain didalamnya-usahanya bisa terus berjalan dan memperoleh keuntungan, penulis yang impiannya untuk menerbitkan buku karyanya pun terwujud, dan pembaca senang disuguhkan beragam pilihan karya untuk dinikmati.

Lebih lanjut, maraknya keinginan untuk mempublikasikan karya ini harus dilihat bukan sekadar persoalan hak tiap orang untuk dapat menulis dan menerbitkan karya saja, tapi juga hak pembaca yang mengeluarkan uang untuk menikmati karya. 

Agar apa yang sampai ke tangan pembaca tak hanya kepuasan terhadap kualitas isi, tapi juga menambah khazanah baru yang belum diketahui pembaca sebelumnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN