Mohon tunggu...
Siti Aliya
Siti Aliya Mohon Tunggu... Mahasiswa - Pendidikan Sejarah

UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Masuk dan Berkembangnya Islam di Banten

18 April 2021   17:54 Diperbarui: 18 April 2021   18:28 285
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Sejak kapan nama banten di kenal sebagai nama tempat? Bila merujuk pada sumber asing yaitu sumber cina yang berjudul Shung Peng Hsiang Sung (1430) nama banten disebut sebagai nama tempat yang terletak dalam beberapa rute pelayaran: Tanjung Sekong-Gresik-Jaratan; Banten-Banjarmasin; Kreung (Aceh)-Barus-Pariawan-Banten. 

Rute pelayaran ini dibuat Mao'k'un pada sekitar tahun 1421. Dalam buku Yin-Yai-Sheng Lan (1433) Banten disebut Shunt'a (maksudnya Sunda). Menyebut Banten adalah berita Tome Pires. Jelas bahwa ketika orang portugis ini datang pada tahun 1512 tempat itu sudah bernama banten meskipun ia menyebutnya "bautan"

Dalam sumber Lokal nama banten di sebut paling awal dalam naskah cerita parahiyangan, yang ditulis pada tahun 1580. Dalam naskah ini disebutkan adanya sebuah tempat yang disebut "Wahanten Girang" yang dapat dihubungkan dengan nama Banten. 

Dalam Tambo Tulangbawang dan Primbon Bayah, serta berita cina hingga abad ke-13, orang menyebut daerah banten daerah dengan nama Medanggili. Selain itu, nama banten jelas di sebut dalam naskah-naskah Sadjarah Banten. Ada sekitar 31 versi dari naskah ini, tetapi yang paling tua ditulis tahun 1662/1663.

Dalam laporan perjalanan Tome Pires (1513) banten di gambarkan sebagai sebuah kota pelabuhan yang ramai dan berada di kawasan kerajaan sunda. Kesaksian Tome Pire itu dapat dijadikan petunjuk bahwa Bandar banten sudah berperan sebelum berdirinya kesultanan banten (1526) atau pada masa kerajaan sunda. Bisa di duga bahwa banten telah berdiri sekurang-kurangnya pada pertengahan abad kesepuluh atau abad ke-7. 

Banten yang berada di jalur perdagangan internasional di duga sudah memiliki hubungan dengan dunia luar sejak awal abad masehi. Kemungkinan pada abad ke-7 banten sudah menjadi pelabuhan yang dikunjungi para saudagar dari luar.ketika islam di bawa oleh para pedagang arab ke timur barangkali banten telah menjadi sasaran dakwah islam. 

Menurut berita Tome Pires pada tahun 1513 di Cimanuk sudah di jumpai orang-orang islam. Jadi setidaknya pada akhir abad ke-15 islam sudah mulai diperkenalkan dipelabuhan milik kerajaan Hindu Sunda.ketika Sunan Ampel Denta pertama kali datang ke Banten, ia mendapati orang islam di  Banten, walaupun penguasa di situ masih beragama Hindu.

Ketika malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun 1511, Diaspora para pedagang muslim terjadi, sebagian dari mereka pindah ke Banten. Keramaian  banten bertambah juga karena pedagang Eropa yang datang dari arah ujung selatan Afrika Selatan dan Samudra Hindia mau tidak mau harus melalui selat sunda. 

Di samping itu, pelabuhan banten pun di lalui oleh kapal-kapal dagang yang datang dari dan yang menuju ke arah barat laut melalui selat Bangka. Islamisasi banten, setelah di awali oleh sunan ampel, kemudian di lakukan oleh Syarif Hidayatullah (sunan Gunung Jati). 

Dalam naskah cerita Caruban Nagari di kisahkan tentang usaha Syarif Hidayatullah bersama 98 orang muridnya mengislamkan penduduk banten. Secara perlahan-lahan, silam dapat di terima masyarakat sehingga banyak orang masuk islam, bahkan bupati banten yang merasa tertarik dengan ketinggian ilmu dan akhlak Sarif Hidayatullah menikahkan adiknya yang bernama Nyai Kawunganten dengan wali penyebar islam di tatar sunda ini. Dari perkawinan ini lahirlah dua anak yang diberi nama Ratu Winahon dan Hasanuddin.

Dalam babad banten di ceritakan bahwa sunan gunung jati dan putranya Hasanuddin terus berusaha untuk mengislamkan masyarakat di daerah Banten. Mereka pergi kearah selatan, ke gunung pulosari, tempat bersemayamnya 800 ajar yang setelah mendengar ajaran islam disampaikan ayah dan anak itu, semuanya menyatakan masuk islam. 

Di lereng Gunung Pulosari itu, sunan gunung jati mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan keislaman kepada anaknya. Setelah ilmu yang dikuasai Hasanudddin sudah dianggap cukup sunan gunung jati memerintahkan supaya anaknya itu berkelana sambil menyebarkan agama islam kepada penduduk negeri. 

Sunan gunung jati kembali ke Cirebon menurut babad banten, islamisasi dilanjutkan oleh Hasanuddin dengan berdakwa dari satu daerah ke daerah lain mulai dari Gunung Pulosari, Gunung Karang, Gunung Lor, sampai ke pulau panaitan di Ujung Kulon. Setelah tujuh tahun melakukan tugasnya itu, Hasanuddin beretmu ayahnya kembali yang kemudian membawa pergi menunaikan ibadah haji ke mekkah. Dalam penyebaran islam kepada penduduk pribumi, hasanuddin menggunakan cara yang dikenal oleh masyarakat setempat seperti menyabung ayam satupun mengadu kesaktian.

Hasanuddin berhasil mengalahkan Prabu Pucuk Umum di Wahanten Girang (Banten Girang) pada tahun 1525. Kemudian atas petunjuk Sunan Gunung Jati Hasanuddin memidahkan pusat pemerintahan banten yang tadinya berada di pedalaman Banten Girang (tiga Kilometer dari kota serang) ke dekat pelabuhan banten. Hal ini terjadi pada tanggal 8 oktober 1526.dalam pemindahan pusat pemerintahan banten ke pesisir tersebut Sunan Gunung Jati menentukan posisi dalem (istana), benteng, pasar, dan alun-alun yang harus dibangun di dekat kuala sungai Banten yang kemudian di beri nama Surosowan sebagai ibu kota kerajaan banten. 

Pemilihan surosowan sebagai ibu kota kesultanan banten tampaknya di dasarkan atas perimbangan karena surosowan lebih mudah dikembangkan sebagai Bandar pusat perdagangan.karena banten semakin besar dan maju maka tahun 1552 masehi, banten yang tadinya hanya sebuah kadipanten diubah menjadi negara bagian demak dengan dinobatkannya Hasanuddin sebagai raja di Kesultanan banten dengan gelar Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan.

Sistem Pengadilan agama yang resmi di atur oleh pemerintahan baru diperkenalkan pada tahun 1882  walaupun sebagaimana yang telah di lihat, pengadilan ini sesungguhnya telah eksis di indonesia sejak datangnya islam di wilayah ini. Apa yang di lakukan oleh belanda untuk di lakukan pada tahun 1882 tersebut adalah mengadministrasikan huku islam melalui lembaga peradilan. 

Sebelum tahun itu pemerintah penjajah tidak pernah turut campur tangan dengan organisasi peradilan agama. Bahkan dekrit Gubernur Jendral Daendels tahun 1808 tentang Administrasi pengadilan untuk daerah pesisir pantai utara jawa berisi kententuan yang pada pasal 73 ditentukan bahwa "Hak para pendeta mereka untuk memutuskan beberapa perbedaan mengenai perkawinan dan kewarisan harus sepenuhnya dibiarkan tak berubah (Saring, 2020: 4-6).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun