Mohon tunggu...
Siti ZikrinaFarahdiba
Siti ZikrinaFarahdiba Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Teknologi Informasi

Mahasiswa Teknologi Informasi Yang membahas tentang teknologi dan sekitarnya.

Selanjutnya

Tutup

Metaverse

Ketika Teknologi Digital (Metaverse) Berdampingan dengan Agama

16 Juni 2022   15:19 Diperbarui: 16 Juni 2022   15:27 302 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Metaverse. Sumber ilustrasi: FREEPIK

Di zaman modern seperti sekarang perkembangan teknologi sedang gencar-gencarnya dikembangkan,terutama dibidang teknologi digital. Perkembangan teknologi digital tersebut kadang membuat banyak orang lupa dengan agamanya karena terbuai dengan perkembangan teknologi yang kadang memiliki unsur yang bertolak belakang dengan nilai-nilai agamanya. 

Buktinya di beberapa negara yang disebut-sebut sebagai negara maju,jumlah  masyarakat yang memiliki keyakinan makin lama semakin menurun. Mereka lebih memilih dan mempercayai sains dan teknologi sebagai panduan dalam kehidupan mereka sehari - hari ketimbang dengan agamanya. 

Hal ini menjadi sangat bahaya karena fungsi utama dari agama sendiri adalah menjadi pedoman dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Untungnya sebagai negara beragama, masyarakat Indonesia masih banyak yang menjadikan agama sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat Indonesia mayoritas menganut Islam sebagai agamanya. Dalam prespektif Islam agama Islam sendiri dijelaskan sebagai sistem keyakinan dan prinsip – prinsip  hukum serta petunjuk perilaku manusia,yang didasarkan pada Alquran,hadis,dan ijtihat ulama dalam rangka menggapai kebahagian di dunia dan akhirat .Bersadarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Islam memiliki beberapa fungsi .

Fungsi Islam yang pertama adalah sebagai tuntunan bagi manusia agar memiliki sifat yang terpuji (al-akhlaq al-karimah ). Hal ini diperjelas Rasulullah SAW dalam sabdanya, Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya saya diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia". Kedua, agama Islam berfungsi sebagai jalan untuk mencapai kedamaian,ketenangan,dan keselamatan dunia dan akhirat. Ketiga islam mengandung ajaran al-adin al -qayyim atau seimbang dan lurus. 

Seimbang dan lurus ini sendiri bermaksud bahwa manusia harus menyeimbangkan antara urusan dunia dan akhirat, sebagaimana firman Allah: ”Dan carilah pada apa-apa yang dianugerahkan oleh Allah kepadamu (kebahagiaan) di akhirat, dan jangankah kamu melupakan bahagiamu dalam kenikmatan dunia”  ( Al-Qashash :77). Artinya Allah tetap memerintahkan manusia untuk mengetahui dan mempelajari ilmu di dunia,akan tetapi harus ingat akan adanya akhirat. Hal ini sudah bisa menjadi panduan umum umat muslim dalam melakukan segala hal di dunia termasuk dalam menentukan sikap menanggapi perkembangan teknologi yang ada ataupun menentukan sikap dalam membuat suatu penemuan atau perkembangan teknologi tersebut.

Salah satu perkembangan teknologi yang masih harus dikaji dalam penggunaannya adalah perkembangan teknologi metaverse. Metaverse menjadi perbincangan hangat di semua kalangan tak hanya dikalangan para ahli dibidang IT melainkan semua para ahli sedang membicarakan hal ini. 

Metaverse sendiri merupakan hasil perkembangan dunia programming. Awalnya metaverse hanyalah sebuah istilah yang terdapat pada novel berjudul Snow Crash diciptakan oleh Neal Stepheson pada tahun 1992. Istilah metaverse sendiri merujuk pada dunia virtual berbasis 3D yang dihuni oleh avatar dari penggunanya (manusia). 

Jadi bisa disimpulkan bahwa metaverse merupakan dunia komunitas virtual yang dibangun saling terhubung satu sama lainnya. Dalam komunitas ini orang dapat bertemu,bekerja,melakukan jual beli dan bermain,tentunya dengan bantuan teknologi lainnya seperti teknologi augmented reality (AR) dan virtual reality (VR). Ketika menggunakan metaverse kita akan merasa masuk kedalam dunia virtual yang dilengkapi berbagai fasilitas. Didalamnya juga terdapat unsur kehidupan sama seperti didunia nyata .

Di balik kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan masih banyak perdebatan mengenai hukum Islam memandang teknologi metaverse ini.  Menurut Mufti Faraz Adam, dari Yaqeen Institute for Islamic Research, UK, halal haramnya metaverse dalam sudut pandang Islam harus mempertimbangan beberapa poin. 

Poin pertama adalah kegunaannya (utility). Beliau mengatakan jika suatu hal tidak membawa kegunaan maka hal tersebut tidak diperbolehkan dalam islam. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Metaverse Selengkapnya
Lihat Metaverse Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan