Mohon tunggu...
Anik SitaturRohmah
Anik SitaturRohmah Mohon Tunggu... Ibu Rumah Tangga dan Penulis Lepas

Ibu rumah tangga adalah yang utama dan menulis adalah pekerjaan kedua. Menulis apa saja, mulai artikel di koran, media online, blog dan buku. Tema yang disukai adalah parenting dan lifestyle

Selanjutnya

Tutup

Musik

Ini loh, Alasan Mengapa Harus Hati-hati Menulis Lirik Lagu

21 Agustus 2019   23:39 Diperbarui: 21 Agustus 2019   23:49 48 6 4 Mohon Tunggu...
Ini loh, Alasan Mengapa Harus Hati-hati Menulis Lirik Lagu
Sumber foto : pixabay

Satu siang di pusat perbelanjaan, saya dikagetkan oleh lirik lagu yang diputar oleh operator bagian informasi. Saya yang kurang update perkembangan lagu-lagu sekarang agak shock dengar bagian reffrainnya "Ku ingin kau mati saja ku ingin kau pergi saja"

Merinding mendengar lagu berirama reagge dengan vokalis perempuan yang buat saya saat itu terdengar seperti sebuah ancaman.

Lalu saya mencari tahu dari teman yang masih berkecimpung di dunia radio, menanyakan tentang lagu yang meresahkan saya itu, apa judul lagu dan siapa penyanyinya.  Saya pun pendapat jawaban.

Dan ini adalah lirik lagu yang dinyanyikan group musik Souljah secara keseluruhan

"Kuingin Kau Mati Saja"

Baby, we're good friends for so long
Kau bilang sayang entah benar atau bohong
Bilang rindu and all of your feelings
Do you really really mean all of those things

Saat ku akan berikan cintaku
You're changing, who the hell are you?
Apa maksudmu hancurkan harapanku
Are you happy breakin my heart in two

*Demi dirinya kau biarkan ku menangis
Demi dirinya kau biarkan ku menanti
Dan kau tak kan bisa lari
Karna ku ingin kau mati

Reff:
Ku ingin kau mati saja ku ingin kau pergi saja
Ku tak akan menunggu, tak lagi harapkanmu
Ku ingin kau mati saja ku ingin kau pergi saja
Ku tak akan menunggu, tak lagi harapkanmu

Di malam ini ku yakin, kau bersama orang lain
Semua ucapanmu kini bagai sebuah angin lalu
Kau bilang padaku butuh diriku tuk di sampingmu
Tapi kenyataanya kau tak ada di sisiku
Sudah lupakan, lupakan saja semua cerita
Yang terjalin, terjalin di antara kita
Tak sanggup lagi diriku untuk berkata-kata
Karna ku ingin, kuingin kau mati saja

back to *, back to reff



Bagaimana pendapat Anda tentang lirik lagu ini, Kompasianer?
Saya jadi ingat pendapat mentor tentang Teknologi Pikiran mas Endro.S. Effendi dalam sebuah sharing yang saya ikuti. Bahwa apa yang kita katakan, akan terekam oleh alam bawah sadar menjadi sesuatu yang kita pahami kebenarannya, lalu bisa mempengaruhi tindakan kita.

Bagi pendengar lagu ini, bisa juga terpengaruh alam bawah sadarnya, untuk menyetujui lirik lagu ini dan memahami sebagai sesuatu yang benar. Padahal menginginkan kematian orang lain adalah sesuatu yang tidak benar.

Bicara dengan lagu, dengan isi yang hampir sama, coba kita bandingkan dengan lirik lagu ini :

Pergi - Coklat

Usai sudah cerita tentang kita
Akhiri saja segalanya
Karena ternyata sudah sejak lama
Semua dusta ku tak percaya

Jangan lagi kau datang
Tak ingin lagi ku mendengarnya
Dan kini kuminta

Pergi, cepat pergi
Jangan, jangan kembali
Tinggalkan ku sendiri
Memang lebih baik begini

Pergi cepat pergi
Jangan, jangan kembali
Tinggalkan ku sendiri
Memang lebih baik begini

Terasa lelah sudah ku mencoba
Akhiri saja segalanya
Karena ternyata...


Kompasianer bisa membandingkan rasa yang timbul dari membaca lirik dalam dua lagu yang temanya sama. Kalau istilah anak milenial, lagu pertama terdengar nge-gas atau emosional. Sedangkan lagu kedua bisa dirasakan lebih  soft meskipun mengandung rasa dan maksud yang sama. 

Tanpa bermaksud membandingkan secara kualitas lagu itu sendiri, saya berharap pencipta lagu memikirkan juga rasa dari lirik ciptaannya tidak hanya mengejar indahnya rima. Saya khawatir jika lagu-lagu yang cenderung vulgar dalam mengungkapkan isi hati seperti ini bisa mempengaruhi pola pikir pendengar lagunya. 

Mestinya, pencipta lagu bisa ikut membentuk karakter anak milenial menjadi manusia tangguh yang tidak cengeng, penuh semangat dan tidak mudah tersulut emosi. 

Padahal sesuatu yang diucapkan (bukankah menyanyikan sama dengan mengucapkan? ) itu bisa seperti sebuah pengakuan. 

Ini saya rasakan ketika ikut menyanyikan lagi kebangsaan Indonesia Raya di acara Tirakatan Tujuhbelasan di kampung saya.  Usai menyanyikan lagu ini, kecintaan  saya pada tanah air makin kuat, demikian pula dengan semangat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Nah, bagaimana pendapat Anda, Kompasianer? 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x