Mohon tunggu...
SISKA ARTATI
SISKA ARTATI Mohon Tunggu... Guru - Ibu rumah tangga, guru privat, dan penyuka buku

Bergabung sejak Oktober 2020. Antologi tahun 2023: πŸ’—Gerimis Cinta Merdeka πŸ’—Perubahan Itu Pasti, Kebajikan Harga Mati - Versi Buku Cetak πŸ’— Yang Terpilih Antologi tahun 2022: πŸ’—Kisah Inspiratif Melawan Keterbatasan Tanpa Batas. πŸ’— Buku Biru πŸ’—Pandemi vs Everybody πŸ’— Perubahan Itu Pasti, Kebajikan Harga Mati - Ebook Karya Antologi 2020-2021: πŸ’—Kutemukan CintaMU πŸ’— Aku Akademia, Aku Belajar, Aku Cerita πŸ’—150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi πŸ’— Ruang Bernama Kenangan πŸ’— Biduk Asa Kayuh Cita πŸ’— 55 Cerita Islami Terbaik Untuk Anak. πŸ’—Syair Syiar Akademia. Penulis bisa ditemui di akun IG: @siskaartati

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Kubiarkan Hujan Mengawal Rindu Ini

19 September 2023   05:47 Diperbarui: 19 September 2023   05:55 155
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar: https://www.pexels.com/id-id/pencarian/furnitur%20taman/


Kau begitu mulia, sejukmu nenyusupkan bahagia
Tetesmu musnahkan dahaga pada tanah kerontang, tumbuhkan tunas-tunas kehidupan
Namun alangkah sadisnya kau dituduh penyebab malapetaka
Kau difitnah penyebab penyakit merajalela
Aku merindukamu dalam jiwa yang merana sekian lama
Sedang dia memakimu penuh benci sebab rizki yang dinanti tak juga menyambangi

Kau dibenci dan pula disukai
Benci saat hadirnya deras membasah, mengantarkan berjuta-juta kubik
Yang mampu meluluhlantakkan seisi kampung dan kota
Daya hantam yang membuat luka yang memporakporandakan umat
Namun saat kau menari dengan gerimis dan mengajak bumi berdansa menguarkan petrikor
Maka setiap insan mulai berkoar dengan sajak romantis

Berjuta sajak tercipta karena rinaimu
Berjuta kenangan menguar sebab aromamu
Berjuta lirik lagu tercipta atas iramamu
Tapi kemanakah engkau tak jua datang
Lihatlah aku dan semesta merindumu
Sebab kami meranggas dalam pelukan sang kemarau

Kepada sang kemarau yang menahan air menghujani
Serta awan yang mengizinkan ia menapaki bumi
Deras dan penuh semangat sekalipun sumbang bernyanyi
Namun kubiarkan hujan mengawal rindu ini
Memeluk dalam dingin dan terus membasahi
Hilang dalam sepi

Sepi yang kini tak kan berhenti
Sepi tanpamu yang tak ada disini
Bersamaku yang menepi
Setiap malam bahkan detikpun kumerindukanmu
Tapi apa dayaku.
Kamu mampu merubah semua segalanya dariku

Dariku, merindu aroma petrikor
Mengingatkan pada sebuah nama
Dirimu penyuka Β titik-titik air yang turun
Masa kecil tak terlupa bersamamu
Menari riang berbasah di bawah rinai hujan
Indahnya kenangan tergores dalam ingatan

Ingatan kembali ke hari yang Fitri
Musim kemarau berubah menjadi penghujan
Kau turun bagai tiada henti
Bukit tanpa pepohonan pun ikut terkena imbasnya
Kau ciptakan genangan di mana-mana
Tak seharusnya kau disalahkan kala kemarau Β berganti hujan

Itu bukan salahmu
Melainkan ulah manusia yang tak dapat menjaga alam
Hujan..
Engkau sejatinya adalah rahmat bagi kami
Setelah dirimu pergi
Meninggalkan bias indah beraneka warna
Membentuk pelangi yang indah

Rumah Pena Alegori, Senin, 18 September 2023

***
#PuisiKolaborasi hasil karya dari Komunitas Rumah Pena Alegori, komunitas para alumni kelas puisi. Puisi bersambung karya Titi Ariswati, Siska Artati, Yusniar, Hanidar Fela Anandari, Nis, Rani Iriani Safari, Evi Salam dan Syafrida.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun