Mohon tunggu...
SISKA ARTATI
SISKA ARTATI Mohon Tunggu... Guru - Ibu rumah tangga, guru privat, penyuka buku dan lagi senang Nulis

Bergabung sejak Oktober 2020. Antologi: 💗Kutemukan CintaMU 💗 Aku Akademia, Aku Belajar, Aku Cerita 💗150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi 💗 Ruang Bernama Kenangan 💗 Biduk Asa Kayuh Cita 💗 55 Cerita Islami Terbaik Untuk Anak. 💗Syair Syiar Akademia. Penulis bisa ditemui di akun IG: @siskaartati / @siska_mentorpaytren

Selanjutnya

Tutup

Diary Artikel Utama

Bukan Cita-cita Saat Masa Kanak, Profesi Guru Menjadi Pilihan Kakakku

27 November 2021   18:18 Diperbarui: 28 November 2021   19:12 383 46 13
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
SDN Kenari 08 Jakarta Pusat mulai menjalani pembelajaran tatap muka pada Rabu (7/4/2021) pagi ini. (KOMPAS.COM/Ihsanuddin)

Semasa kita kanak hingga remaja, terbersitkah cita-cita menjadi seorang guru? Apa jawab kita ketika ditanya, "Besok gede, mau jadi apa?"

Dokter, polisi, tentara, pilot dan sederet profesi yang dianggap keren dan bergaji besar. 

Ketika teman acung tangan dan menjawab, "Guru!" Wow, kita menoleh dan memandang takjub padanya. "Kok mau sih jadi guru?" Itulah yang ada di benak sebagian anak-anak. Begitu juga saya kala itu. Berasa aneh jika ada yang mau jadi guru. Saya sendiri aja pengennya jadi Artis!

Baca kisah tersebut di artikel saya: Bukan Lulusan Keguruan dan Pendidikan, Kok Ngajar?

Ilustrasi (Sumber:  www.smpn2sindang.sch.id)
Ilustrasi (Sumber:  www.smpn2sindang.sch.id)

Namun demikian, seiring perjalanan hidup dan kehidupan, menjadi guru akhirnya menjadi pilihan berkarir bagi sebagian besar anak bangsa Indonesia. 

Termasuk kakak perempuan saya, yang mengabdikan dirinya menjadi pendidik di sebuah sekolah menengah pertama di Lereng Kaki Gunung Slamet. Tepatnya di SMP Negeri 1 Bojong, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal.

***

Kakak saya berpose bersama rekan sesama Guru dan Para Siswa | Dokpri Asti Diani
Kakak saya berpose bersama rekan sesama Guru dan Para Siswa | Dokpri Asti Diani

Siang ini, saya ngobrol bersama kakak melalui WhatsApp, melepas rindu padanya, sudah lama tak jumpa. 

Mudik terakhir tahun 2016, saya belum berpelukan langsung dengan Bude Asti, demikian saya memanggilnya, untuk membiasakan panggilan tersebut bagi anak saya kepadanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan