Mohon tunggu...
Mohamad Akmal Albari
Mohamad Akmal Albari Mohon Tunggu... Mahasiswa - Cuma tulisan-tulisan biasa

a piece of life, chill out!

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Change Curve, Konsep Tahapan Kesedihan Ala Kubler-Ross

4 September 2022   18:45 Diperbarui: 4 September 2022   18:49 249 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Change Curve/Blog.visual-paradigm.com

Kegagalan, kesedihan, sengsara, dan rasa sakit selalu dirasakan oleh setiap individu manusia. Menjajaki alur cerita emosional individu rupanya bisa digambarkan oleh suatu model perubahan, dikenal dengan change curve atau kurva perubahan. Konsep yang dibentuk oleh Elizabeth Kubler-Ross dalam buku Death and Dying (1961). Ia seorang psikolog berbangsa Amerika Serikat menjelaskan bagaimana reaksi individu ketika mendapati suatu masalah layaknya penyakit dan kematian. 

Apa yang pertama kali anda ungkapkan ketika ter diagnosis suatu penyakit yang sulit disembuhkan atau mungkin mematikan? Reaksi yang terjadi pasti tidak percaya bahkan menolak apa dikatakan dokter. Apalagi jika kabar buruk tiba-tiba datang menghantui hari-hari biasa seperti kematian anggota keluarga. Kita bisa saja realistis terhadap kenyataan yang sudah ditakdirkan, namun muncul di pikiran mengapa ini bisa terjadi.

Kubler-Ross mengungkapkan individu akan mengalami lima tahap perubahan secara psikologis mengenai kondisi emosional untuk menerima dan beradaptasi pada kenyataan. Diantaranya shock dan rejection; setback; sad; decision; dan integration. Kurva ini juga berlaku pada bidang bisnis dan pendidikan, yang masing-masing membantu memahami dan menuju keberhasilan maupun kesuksesan. 

Adanya peristiwa yang mengejutkan anda atau pun organisasi pada umumnya merasakan shock, lantas bertanya-tanya "kenapa bisa?" "apa sebabnya ini terjadi" semua orang merasakan kondisi masih normal untuk bersikap skeptis. Selang waktu berjalan, orang-orang enggan menerima realitas yang benar-benar nampak ada dan terjadi. Sebagai pasien bisa saja menolak diagnosis dokter yang menyatakan bahwa analisis dan prosesnya ada yang salah. Rejection atau penyangkalan kenyataan umum terjadi meskipun tempo nya cukup singkat. 

Kesedihan bersamaan penolakan seseorang menyebabkan kemarahan seperti merusak barang atau berkata kasar. Setback yang dialami kadang bisa menyalahkan orang lain bahkan diri sendiri. Secara sadar mereka yang merasakan tahapan ini akan cepat tersinggung dan risih terhadap orang lain. Situasi bisa gawat jika terus self-blame (menyalahkan diri sendiri) yang berujung kehilangan percaya diri. 

Tahap selanjutnya, seseorang yang sudah mulai berdamai terhadap dirinya akan mencoba kompromi atau introspeksi apa-apa yang telah ia lakukan. "andai saja aku tidak mengendarai mobil, pasti tidak terjadi kecelakaan" perilaku tawar-menawar atau bargaining adalah cara solutif agar hal-hal buruk terulang dan upaya menenangkan diri. Meskipun ia berandai-andai takdir yang terjadi bisa diputar balikkan, ia berusaha juga mengevaluasi mencari jalan keluar alternatif. 

Demikian, evaluasi dan refleksi pada kenyataan tak secepat yang dipikirkan. Tahap seseorang yang mengalami kesedihan juga menjadikan depresi bahwa ke depannya tidak akan berjalan baik lagi dan menduduki sikap menyerah pada segala perjuangan yang telah dilakukan. Pada masa-masa ini juga seseorang akan mengurung diri, mengasingkan dari dunia, dan sudah tidak ada gairah hidup seperti hari-hari biasa. Depression sebenarnya bukanlah gangguan mental psikologis manusia, ia hanya ada di posisi keadaan realita dan merugikan. 

Memang hidup yang dramatis akan memberikan cobaan dan pelajaran yang berbuah sikap seseorang menentukan kehidupannya. Orang-orang akan bosan jika terus ter larut dalam kesedihan yang mengombang-ambing. Acceptence dan integration menyadarkan penerimaan harus diterapkan, agar kesedihan terlalu nyaman dalam diri. Dalam tahapan terakhir, seseorang akan meyakinkan diri untuk menerima seluruh kenyataan. Mereka yakin hal terbaik adalah menerima dan melakukan pendekatan-pendekatan baru merubah situasi yang terjadi. Sikap tenang dan yakin tentu menjanjikan bahwa kelayakan hidup dan perjuangan harus dilanjutkan.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ruang Kelas Selengkapnya
Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan