Humaniora Pilihan

Pasangan yang Disakiti, Melakukan Ini?

12 Januari 2018   16:44 Diperbarui: 12 Januari 2018   17:52 459 0 0
Pasangan yang Disakiti, Melakukan Ini?
Ilustrasi: Shutterstock

Bagaimana perasaan pembaca budiman saat pasangan menyakitimu? Tidak sakit. Sakit sekali tak tertahankan. Dan pilihan sikap sadar.

Pertama, tidak merasa sakit. Orang yang berusaha tetap tegar seakan tidak merasa kecewa disakiti pasangannya. Model ini diperagakan beberapa artis dengan berbagai komentar mereka, yang mengaku lebih happy berpisah dengan pasangan mereka. Jadi, kata mereka, mereka tak sakit hati sekalipun disakiti.

Kita agak khawatir dengan orang macam itu, karena menurut dugaanku, mereka berpura-pura atau merasionalisasi kecewaan mereka di hadapan publik. Selanjutnya, siapa yang tahu mereka mungkin depresi jika sendiri. Bahkan, terjerumus alkoholic dan narkoba semacam pelarian sementara. Mereka sungguh, tidak begitu tahan menghadapi kesakitan dari pasangannya. Cuma, biar tampil kuat, mereka merekayasa kesan dan perasaan tegar di muka fans.

Mereka menduga, kita memuji mereka kebal masalah. Tahan banting. Tahan disakiti dan difitnah tanpa ada rasa sedikit pun kecewa?

Kedua, sakit sekali. Tak termaafkan. Sebagian orang merasakan kesakitan mendalam akibat pengkhianatan pasangannya. Ia menyulut dendam kesumat diri atau menyakiti diri atas perlakuan yang dianggapnya tak adil itu. Ada orang yang karena ditinggal pasangannya, ia bunuh diri.

Banyak kasus, ketika orang tak terkendali karena disakiti pasangannya. Dengan menyakiti diri guna mengundang simpati orang lain.

Memikirkan balas dendam, tentu saja menguras energi pikiran dan tenaga lain untuk membuat yang terbaik terhadap diri, keluarga, orang lain, dan lingkungan. Apalagi, ketika kita memantau orang yang menyakiti seakan tambah jaya? Kita menjadi tak habis pikir, bahkan bisa jadi prasangka buruk merasuki diri kita secara permanen.

Jika yang pertama kebanyakan artis, selebritas, orang kaya, dan di perkotaan, sedangkan respon kedua ini umumnya masyarakat desa.

Ketiga, pilihan sadar.Lebih proaktif, mengambil sikap bijak dan hikmah, serta menyadari kemampuan manusia melakukan pilihan secara rendah hati. Pola ketiga ini, memahami betapa hubungan manusia terutama keluarga dari berbagai segi dan aspek kemanusiaan. Adalah manusia sifatnya, bersikap kasih dan cinta. Namun, juga antara kasih dan cinta terdapat rasa benci yang sekalipun berlawanan, mata rantai itu berhubungan biar ada pembatas.

Artinya, andaipun pasangan menyakiti. Disakiti atau disakiti adalah manusia. Memang, kita berharap idealnya cinta-kasih. Cuma, realitas kehidupan kadang berjalan sebaliknya. Sebagaimana kelahiran, akan ada kematian. Ada pertemuan, kelak muncul perpisahan. Ada hubungan baik, mungkin saja beriak buruk terjadi.

Orang yang proaktif, berupaya mengubah diri daripada orang lain. Karena, hanya diri kita yang bisa kita kendalikan dengan kemurahan rahmat Tuhan. Ada pun orang lain, sulit rasanya untuk dikontrol atau di bawah kendali kita. Kecuali kita bersikap dan bermodal Firaunisme yang diktator. Bahkan, Firaun sendiri yang memiliki modal kekuasaan politik, militer, ekonomi, agamawan, dan black magic, tidak mampu mengontrol istrinya yang beriman.

Jadi, orang yang disakiti pasangannya, dengan model ketiga ini dapat saja mengakui kekecewaan dirinya, seraya mengambil hikmah dan sikap positif terkait dengan masalah disakiti pasangan itu. Itulah tanda kejujuran kemanusiaan, ketika seorang masih mempunyai perasaan sakit. Namun, ia dapat menyadari sisi baik dan buruk manusia, sekaligus. Itu bisa terjadi bukan hanya sama pasangannya, melainkan juga dirinya.

Itulah, mengapa orang yang paling bijak dalam hidup ini, orang yang mengabdikan dirinya kepada Tuhan, sehingga timbullah sikap kasih, cinta, tulus, ikhlas, maaf, lapang dada, sabar, syukur, toleransi, dan dermawan.

Memang kelihatan seperti orang suci, tapi sepenuhnya tidak. Sebab, kata T. Byram Karasu, MD kunci kebahagian ialah kombinasi kedewasaan jiwa dan roh. Kunci jiwa meliputi mencitai diri, orang lain, dan kerja. Kunci roh adalah keyakinan kepada Tuhan.